Emiten TIRT

Emiten TIRT Cetak Pendapatan Baru Usai Transformasi Bisnis

Emiten TIRT Cetak Pendapatan Baru Usai Transformasi Bisnis
Emiten TIRT Cetak Pendapatan Baru Usai Transformasi Bisnis

JAKARTA - Pergerakan sebuah emiten di pasar saham sering kali mencerminkan dinamika strategi bisnis yang dijalankan perusahaan tersebut.

Dalam beberapa kasus, perubahan arah usaha bahkan mampu mengubah status dan kinerja keuangan secara signifikan. Hal inilah yang kini terlihat pada PT Tirta Mahakam Resources Tbk (TIRT), yang mulai menunjukkan tanda-tanda kebangkitan setelah sebelumnya tidak membukukan pendapatan.

Langkah transformasi bisnis yang dilakukan perusahaan akhirnya mulai membuahkan hasil. Bursa Efek Indonesia (BEI) pun merespons perkembangan tersebut dengan melakukan penyesuaian kriteria terhadap saham TIRT di papan pemantauan khusus. 

Berikut ini ulasan lengkap mengenai perkembangan terbaru emiten tersebut.

Perubahan Status Saham Di Bursa Efek Indonesia

Bursa Efek Indonesia (BEI) resmi mengumumkan pengurangan kriteria pada saham PT Tirta Mahakam Resources Tbk (TIRT) yang sebelumnya berada dalam pengawasan khusus. Perubahan ini mulai efektif pada 6 April 2026.

Sebelumnya, saham TIRT masuk dalam kriteria 3, yakni perusahaan yang tidak membukukan pendapatan atau tidak mengalami perubahan pendapatan dalam laporan keuangan terakhir dibandingkan periode sebelumnya. Namun, dengan adanya pendapatan yang mulai tercatat, kriteria tersebut kini dihapus.

Meski demikian, saham TIRT masih berada di papan pemantauan khusus full call auction (FCA) dengan kriteria 5. Kriteria ini mengindikasikan bahwa perusahaan masih memiliki ekuitas negatif dalam laporan keuangan terakhir.

Langkah pengurangan kriteria ini menjadi sinyal awal bahwa perusahaan mulai menunjukkan perbaikan, meskipun tantangan fundamental masih membayangi.

Kinerja Keuangan Mulai Menunjukkan Perubahan

Dalam laporan keuangan tahunan tahun buku 2025, TIRT mencatatkan pendapatan sebesar Rp 13,66 miliar. Angka ini menjadi titik balik setelah sebelumnya perusahaan tidak membukukan pendapatan sama sekali.

Namun demikian, kondisi keuangan perusahaan belum sepenuhnya pulih. TIRT masih mencatatkan rugi bersih sebesar Rp 41,34 miliar serta defisiensi modal mencapai Rp 610,94 miliar. 

Hal ini menunjukkan bahwa meskipun pendapatan sudah mulai masuk, beban operasional dan struktur keuangan masih menjadi tantangan besar.

Dari sisi pergerakan saham, pada perdagangan Kamis, saham TIRT ditutup turun 4,76% ke level Rp 600. Meski mengalami penurunan harian, dalam periode tahun berjalan saham ini justru melonjak signifikan hingga 372,44%.

Kenaikan tersebut mencerminkan adanya optimisme pasar terhadap arah baru bisnis yang dijalankan perusahaan.

Transformasi Bisnis Ke Sektor Angkutan Laut

Perubahan kinerja TIRT tidak lepas dari langkah strategis perusahaan yang melakukan diversifikasi usaha. Jika sebelumnya dikenal sebagai produsen produk kayu terintegrasi seperti plywood, blockboard, dan moulding sejak berdiri pada 1981, kini perusahaan beralih ke sektor angkutan laut.

Transformasi ini ditandai dengan aksi korporasi berupa pembelian aset kapal dari pihak berelasi. Pada 1 Oktober 2025, TIRT menandatangani akta jual beli 14 aset kapal dengan PT Lima Srikandi Jaya (LSJ), PT Mitra Kemakmuran Line (MKL), serta PT Antar Sarana Rekasa (ASR).

“Sehubungan dengan telah diperolehnya persetujuan dari pemegang saham independen terkait rencana TIRT untuk melakukan pembelian aset kapal berupa 20 unit armada kapal tunda (tugboat) dan kapal tongkang (barge) maka pada tanggal 1 Oktober 2025, TIRT dan LSJ, MKL serta ASR telah menandatangani akta jual beli 14 aset kapal tersebut,” ungkap Sekretaris Perusahaan TIRT, Jackson Indrawan.

Langkah ini menjadi fondasi bagi perubahan model bisnis perusahaan, yang kini lebih berfokus pada jasa logistik dan transportasi laut.

Optimalisasi Armada Dan Prospek Ke Depan

Berdasarkan keterbukaan informasi terbaru, TIRT saat ini telah mengoperasikan sebanyak 20 unit armada kapal. Seluruh armada tersebut telah beroperasi secara penuh atau fully occupied, yang berarti tingkat pemanfaatannya sudah optimal.

Perusahaan terus berupaya meningkatkan utilisasi armada guna memastikan keberlangsungan operasional serta menjaga arus pendapatan yang stabil. Strategi ini diharapkan mampu memperbaiki kondisi keuangan secara bertahap.

Di sisi lain, TIRT berada di bawah kendali PT Harita Jayaraya (HJR), dengan penerima manfaat akhir adalah konglomerat Lim Hariyanto Wijaya Sarwono, Lim Gunawan Hariyanto, dan Lim Gunardi Hariyanto. Dukungan dari grup usaha besar ini menjadi salah satu faktor yang memperkuat optimisme terhadap masa depan perusahaan.

Dengan arah bisnis yang lebih jelas dan aset operasional yang telah berjalan, TIRT memiliki peluang untuk terus memperbaiki kinerja keuangan. 

Meski masih menghadapi tantangan seperti ekuitas negatif dan kerugian bersih, langkah transformasi yang dilakukan menjadi sinyal positif bagi investor.

Ke depan, keberhasilan perusahaan akan sangat bergantung pada konsistensi dalam menjalankan strategi baru serta kemampuan dalam menjaga efisiensi operasional. 

Jika mampu memanfaatkan momentum ini, bukan tidak mungkin TIRT dapat keluar dari tekanan dan kembali menjadi emiten yang lebih sehat secara fundamental.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index