JAKARTA - Jalan tol menjadi salah satu bagian penting dalam pembangunan infrastruktur Indonesia. Bisnis pengusahaan jalan tol juga tidak hanya melibatkan perusahaan yang berstatus operator, tetapi mencakup pemegang konsesi, investor pada Badan Usaha Jalan Tol (BUJT), hingga perusahaan yang terlibat dalam pembangunan infrastruktur.
Sejumlah perusahaan tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI) memiliki keterlibatan dalam bisnis dan proyek jalan tol di Indonesia melalui berbagai struktur usaha.
Berdasarkan riset terhadap laporan tahunan dan laporan keuangan perusahaan, sedikitnya terdapat delapan emiten yang memiliki keterkaitan dengan bisnis atau proyek jalan tol, yakni PT Adhi Karya (Persero) Tbk. (ADHI), PT Astra International Tbk. (ASII), PT Citra Marga Nusaphala Persada Tbk. (CMNP), PT Jasa Marga (Persero) Tbk. (JSMR), PT Nusantara Infrastructure Tbk. (META), PT Pembangunan Perumahan (Persero) Tbk. (PTPP), PT Wijaya Karya (Persero) Tbk. (WIKA), dan PT Waskita Karya (Persero) Tbk. (WSKT).
Keterlibatan kedelapan emiten tersebut berbeda-beda. Ada emiten yang menjalankan bisnis jalan tol secara langsung melalui anak usaha pemegang konsesi, sementara lainnya memiliki keterlibatan melalui investasi, kepemilikan entitas yang mengelola konsesi, maupun pembangunan ruas jalan tol.
Jika diklasifikasikan berdasarkan sektor industri BEI, JSMR, CMNP, dan META tercatat dalam subsektor transportasi infrastruktur dengan subindustri Highways & Railtracks. Sementara ADHI, PTPP, WIKA, dan WSKT masuk subsektor Heavy Constructions & Civil Engineering. Adapun ASII tercatat dalam subsektor Multi-sector Holdings.
Daftar 8 Emiten yang Memiliki Keterlibatan di Jalan Tol:
PT Jasa Marga (Persero) Tbk. (JSMR) merupakan salah satu emiten yang memiliki keterlibatan paling langsung dalam bisnis jalan tol. Perseroan menjalankan kegiatan pengusahaan, pengoperasian, dan pemeliharaan jalan tol melalui berbagai entitas yang menjadi pemegang izin atau hak pengusahaan jalan tol.
Berdasarkan data BEI per 11 September 2026, JSMR memiliki kapitalisasi pasar sebesar Rp21,48 triliun dengan jumlah saham tercatat 7,26 miliar lembar. Saham JSMR berada di Papan Utama dan berstatus aktif diperdagangkan. JSMR merupakan salah satu pemain utama dalam industri jalan tol nasional dengan portofolio konsesi yang tersebar di sejumlah wilayah Indonesia.
Selanjutnya, terdapat PT Citra Marga Nusaphala Persada Tbk. (CMNP) yang memiliki bisnis utama di bidang jalan tol. Emiten ini tercatat dalam subsektor transportasi infrastruktur dengan subindustri Highways & Railtracks.
Per 11 September 2026, CMNP memiliki kapitalisasi pasar sebesar Rp9,37 triliun dengan 6,70 miliar saham tercatat di BEI. Saham CMNP berada di Papan Utama dan masih berstatus aktif diperdagangkan. CMNP menjadi salah satu emiten yang keterlibatannya terhadap industri jalan tol berasal dari kegiatan usaha inti perseroan, berbeda dengan emiten konstruksi yang keterlibatannya juga berasal dari aktivitas pembangunan maupun investasi.
PT Nusantara Infrastructure Tbk. (META) juga termasuk emiten yang memiliki keterkaitan langsung dengan pengelolaan infrastruktur jalan tol. Keterlibatan tersebut dilakukan melalui entitas anak maupun perusahaan asosiasi. META tercatat dalam subsektor transportasi infrastruktur dengan subindustri Highways & Railtracks.
Per 11 September 2026, kapitalisasi pasar META mencapai Rp4,22 triliun dengan 17,71 miliar saham tercatat. Saham META berstatus suspended dan tercatat di Papan Pengembangan. Suspensi perdagangan saham META dilakukan atas permintaan sukarela perseroan sejak 8 November 2023 sehubungan dengan rencana go private dan voluntary delisting.
PT Astra International Tbk. (ASII) memiliki keterlibatan dalam bisnis jalan tol melalui ASTRA Infra, bukan melalui kegiatan operasional ASII secara langsung. Bisnis infrastruktur Grup Astra dikelola melalui dua subholding, yakni PT Astra Tol Nusantara (ATN) untuk bisnis jalan tol dan PT Astra Nusa Perdana (ANP) untuk bisnis infrastruktur non-tol.
ATN memiliki portofolio sejumlah aset jalan tol yang telah beroperasi secara komersial. Portofolionya mencakup jaringan jalan tol di JORR, Trans Jawa, dan sejumlah ruas di luar jaringan tersebut. Beberapa aset dalam portofolio ASTRA Infra antara lain Jalan Tol Tangerang–Merak, Jombang–Mojokerto, Cikopo–Palimanan, Semarang–Solo, dan Kunciran–Serpong.
Dari sisi kapitalisasi pasar, ASII menjadi yang terbesar di antara delapan emiten dalam daftar ini. Per 11 September 2026, kapitalisasi pasar ASII mencapai Rp194,32 triliun dengan 40,48 miliar saham tercatat. Saham ASII berada di Papan Utama dan berstatus aktif.
Selain emiten yang bisnis utamanya berkaitan dengan jalan tol, sejumlah perusahaan konstruksi BUMN juga memiliki keterlibatan melalui investasi, kepemilikan entitas, hak pengusahaan, maupun pembangunan ruas jalan tol.
PT Adhi Karya (Persero) Tbk. (ADHI) memiliki investasi pada sejumlah entitas yang bergerak dalam pengusahaan jalan tol. Dengan demikian, keterlibatan ADHI tidak hanya berasal dari aktivitas konstruksi, tetapi juga dari kepemilikan atau investasi pada perusahaan yang terkait dengan konsesi jalan tol.
Per 11 September 2026, ADHI memiliki kapitalisasi pasar sebesar Rp1,12 triliun dengan 8,41 miliar saham tercatat. Saham ADHI berada di Papan Utama, tetapi berstatus suspended. BEI menghentikan sementara perdagangan saham ADHI pada 24 Agustus 2026 setelah perseroan menunda pembayaran bunga obligasi. BEI menyebut penundaan tersebut mengindikasikan adanya permasalahan terhadap kelangsungan usaha perseroan.
PT Pembangunan Perumahan (Persero) Tbk. (PTPP) juga memiliki keterlibatan dalam bisnis jalan tol melalui entitas yang memegang hak pengusahaan. Salah satunya adalah PT PP Semarang Demak, yang memperoleh hak untuk membangun, mengoperasikan, dan mengelola Jalan Tol Semarang–Demak. PTPP memiliki kapitalisasi pasar sebesar Rp1,22 triliun dengan 6,20 miliar saham tercatat. Berbeda dengan ADHI, saham PTPP per 11 September 2026 masih berstatus aktif diperdagangkan.
Sementara itu, PT Wijaya Karya (Persero) Tbk. (WIKA) memiliki keterlibatan dalam jalan tol melalui kepemilikan dan pengembangan konsesi, termasuk Jalan Tol Serang–Panimbang melalui entitas perusahaan. WIKA memiliki kapitalisasi pasar sebesar Rp8,13 triliun dengan 39,87 miliar saham tercatat. Saham WIKA berada di Papan Pemantauan Khusus dan berstatus suspended.
BEI memperpanjang suspensi perdagangan WIKA pada 2026 setelah perseroan menunda pembayaran bunga obligasi dan pendapatan bagi hasil sukuk. Dalam pengumumannya, BEI menyatakan penundaan pembayaran tersebut mengindikasikan adanya permasalahan pada kelangsungan usaha perseroan.
Adapun PT Waskita Karya (Persero) Tbk. (WSKT) memiliki keterlibatan dalam bisnis jalan tol melalui PT Waskita Toll Road (WTR) dan berbagai entitas pemegang konsesi di bawahnya. Dengan struktur tersebut, keterlibatan WSKT tidak hanya berasal dari bisnis konstruksi, tetapi juga melalui investasi dan kepemilikan pada perusahaan yang memiliki konsesi atau hak pengusahaan jalan tol.
WSKT memiliki kapitalisasi pasar sebesar Rp5,82 triliun dengan 28,81 miliar saham tercatat. Saham WSKT berada di Papan Pemantauan Khusus dan masih berstatus suspended. Perdagangan saham WSKT telah dihentikan sejak 8 Mei 2023.
Delapan emiten tersebut menunjukkan bahwa keterlibatan perusahaan terbuka dalam industri jalan tol memiliki bentuk yang beragam. JSMR, CMNP, dan META merupakan emiten yang secara langsung berkaitan dengan bisnis jalan tol berdasarkan klasifikasi industri BEI.
ASII memiliki eksposur terhadap bisnis jalan tol melalui grup dan subholding infrastrukturnya, yakni ASTRA Infra dan ATN. Sementara itu, ADHI, PTPP, WIKA, dan WSKT memiliki keterlibatan melalui investasi, konsesi, anak usaha, maupun kegiatan pembangunan infrastruktur jalan tol.