BERITAKINI.CO.ID — Sebelumnya, masyarakat hanya mengandalkan air hujan dan Sungai Klasafet yang kerap keruh, terutama saat musim hujan tiba. Kini, warga punya cara berbeda: memanfaatkan matahari sebagai sumber tenaga utama untuk kegiatan ekonomi mereka.
Apa Rahasia di Balik Cepatnya Pertumbuhan Ikan Nila?
Alfredo Nicholas Saputra Kolin, Local Hero Pertamina dari PT Pertamina Drilling Services Indonesia, menemukan inovasi sederhana namun efektif. Ia menggunakan bonggol jagung sebagai filter alami dalam sistem pengolahan air bersih yang mereka bangun.
"Bonggol jagung itu sangat bagus untuk pertanian dan perikanan. Jadi kalau sudah pakai filter bonggol jagung, hasil airnya langsung masuk di kolam untuk budidaya, itu ikannya juga cepat besar. Dan sampai tercapai per ekor itu dia bisa sampai total sampai 2 kilo per ekor," ungkap Alfredo kepada kumparan, Sabtu (15/8).
Air yang sudah tersaring melalui media bonggol jagung langsung dialirkan ke kolam budidaya. Hasilnya, produktivitas ikan nila meningkat pesat dan kualitas air tetap terjaga tanpa bergantung pada pasokan listrik konvensional.
Dari Biaya Rp 3 Juta Menjadi Nihil
PLTS berkapasitas 3,3 kWp dan penyimpanan energi 5 kWh yang mereka gunakan ternyata membawa dampak finansial besar. Sebelumnya, warga harus merogoh kocek sekitar Rp 3 juta per bulan untuk bahan bakar genset demi mengoperasikan lebih dari lima mesin pompa.
"Luar biasa sekali, kemarin kalau tidak salah itu penggunaan per bulannya itu sampai Rp 3 juta. Setelah ada kita menggunakan PLTS itu sangat membantu, karena memang mesin-mesin yang kami pakai di situ cukup banyak, lebih dari 5 pompa," tutur Alfredo.
Alfredo menjelaskan, masyarakat kini hanya perlu mengeluarkan biaya kecil untuk perawatan berkala, seperti penggantian baterai. Energi surya ini juga jauh lebih ramah lingkungan dibandingkan generator diesel karena emisinya rendah.
Mengapa PLTS Menjadi Andalan?
Kondisi kelistrikan di daerah tersebut masih penuh tantangan. Aliran listrik rumah warga belum tentu menyala selama 24 jam penuh. Gangguan alam seperti pohon tumbang atau kerusakan gardu bisa membuat listrik padam, meski hanya sementara.
"Kami di Papua kan masih ada hutan, pohon tumbang, kena listrik akhirnya untuk perikanannya bisa rugi, karena aerator itu mesti jalan 24 jam. Ketika hambatan karena listrik itu padam... akhirnya kami merasa rugi sekali," ujarnya.
Sistem Solar Water Treatment Klamono yang mereka bangun menggunakan penampungan air, penyaringan karbon aktif dari bonggol jagung, dan distribusi lewat toren. Air bersih pun mengalir tanpa ketergantungan pada genset maupun listrik konvensional.
"Nah oleh sebab itu, kalau di sini menggunakan PLTS berarti tidak ada hambatan... 24 jam tidak ada hambatan untuk tetap listrik ada dan peralatan kami tetap bisa berjalan dengan baik," tandas Alfredo.
Program Besar di Balik Kesuksesan Lokal
Inisiatif ini merupakan bagian dari program Desa Energi Berdikari (DEB) yang dijalankan Pertamina melalui tanggung jawab sosial dan lingkungan (TJSL). Program ini menempatkan energi terbarukan sebagai penggerak perubahan di daerah terpencil.
VP Corporate Communication PT Pertamina (Persero), Muhammad Baron, mengatakan kehadiran local hero seperti Alfredo menjadi bukti bahwa perubahan besar bisa dimulai dari langkah kecil yang dikerjakan bersama masyarakat. Hingga Agustus 2026, program DEB telah menjangkau 269 daerah dengan memanfaatkan sumber energi surya, biogas, mikrohidro, hingga biodiesel.