5 Kalimat Ini Bisa Bantu Melatih Rasa Percaya Diri Anak

Senin, 20 Juli 2026 | 19:01:39 WIB
Ilustrasi orang tua dan anak.(Sumber:NET)

JAKARTA - Rasa percaya diri pada anak dapat dibentuk sejak dini melalui bimbingan orang tua yang diterapkan secara konsisten dalam kehidupan sehari-hari.

Salah satu metode yang bisa diterapkan yaitu membiasakan anak mengucapkan kalimat-kalimat tertentu saat berhadapan dengan beragam kondisi.

Di bawah ini merupakan beberapa kalimat yang dinilai para ahli penting untuk diajarkan kepada anak sejak usia dini.

1."Aku tidak paham" atau "aku butuh bantuan"

Psikiater anak dan remaja di Psychiatry Connection, Nevada, dr. Sid Khurana, menyampaikan kepada Good Housekeeping bahwa tidak sedikit anak yang merasa malu untuk mengakui bahwa mereka belum mengerti suatu hal.

Padahal, keberanian untuk meminta bantuan adalah bagian krusial dalam membentuk rasa percaya diri anak.

"Sangat penting bagi anak untuk memiliki kepercayaan diri mengatakan hal ini, serta memiliki kesadaran diri dan harga diri bahwa tidak apa-apa jika mereka belum memahami suatu instruksi.Dan tidak apa-apa meminta seseorang untuk menjelaskannya,” ujar dr. Sid dilansir dari Good Housekeeping.

Orang tua dapat melatih anak melalui pembiasaan ungkapan seperti, "Bapak, aku belum paham," atau "Ibu, bisa tolong jelaskan sekali lagi?".

Saat anak bertanya, tanggapan yang sabar dari orang tua turut membantu mereka merasa aman untuk terus belajar.

2."Aku bisa mencari jalan keluarnya"

Keinginan orang tua untuk langsung membereskan masalah anak kerap muncul secara spontan.

Akan tetapi, menurut pendiri platform parenting Moms on Call, Jennifer Walker, anak idealnya dibiasakan meyakini kemampuan dirinya dalam menghadapi tantangan personal.

Jennifer menyarankan orang tua untuk sering menyampaikan kalimat seperti "Kamu pasti bisa, Nak".

Seiring berjalannya waktu, ungkapan tersebut akan bertransformasi menjadi suara batin positif dalam diri anak.

3."Aku sedang merasa..."

Kemampuan mendeteksi dan mengekspresikan emosi juga menjadi elemen penting dari kepercayaan diri.

Direktur Mental Health and Wellness Mingo Health Solutions, Lakiesha K. Oliver menjelaskan bahwa anak perlu paham kalau seluruh bentuk emosi wajar untuk dirasakan serta diungkapkan.

"Kemampuan mengekspresikan perasaan adalah fondasi utama kesehatan mental dan kesejahteraan," tutur Lakiesha.

Di sisi lain, dr. Sid menambahkan bahwa anak juga wajib belajar menerima emosi yang kurang menyenangkan.

Dengan mengekspresikan amarah, rasa sedih, atau kekecewaan, anak dapat belajar mengelola emosi secara lebih sehat tanpa harus memendamnya sendirian.

4."Pak, Bu, aku boleh lihat ini?"

Ungkapan tersebut memang terkesan sangat sederhana.

Meski begitu, kalimat sederhana ini menjadi makin krusial pada era digital saat anak-anak tumbuh berdampingan dengan teknologi.

Menurut Direktur Eksekutif Health-e-Habits, Jim Festante, anak perlu merasa nyaman memohon bantuan saat menjumpai hal yang membingungkan atau mencurigakan di ruang siber.

"Ketika anak membuka pesan phishing, menerima permintaan mengikuti akun yang mencurigakan, mengobrol dengan orang asing, atau tanpa sengaja meneruskan tautan spam, reaksi pertama mereka biasanya adalah menghapus semua buktinya karena malu atau takut perangkat mereka disita," ujar Jim,.

Sebab itu, orang tua sepatutnya menciptakan suasana yang membuat anak tidak canggung untuk melapor, "Bapak, Ibu, aku melihat sesuatu yang aneh di internet dan tidak tahu itu apa."

5."Aku berarti"

Anak perlu memahami bahwa dirinya bernilai sebagai individu, bukan semata-mata karena prestasi atau pencapaiannya.

Untuk menanamkan cara pandang ini pada anak, orang tua dapat membiasakan anak menyadari bahwa keberadaan dirinya berharga.

Orang tua, contohnya, dapat mengajak anak membagikan momen saat anak merasa telah membantu atau memberi dampak positif bagi orang lain.

Melalui kebiasaan kecil tersebut, kepercayaan diri mampu berkembang secara bertahap dan bertahan hingga tumbuh dewasa.

Terkini