Tips Pakar Safety Driving Cegah Ngantuk saat Nyetir Mudik

Senin, 20 Juli 2026 | 18:59:32 WIB
Ilustrasi Capek saat Mengemudi.(Sumber:NET)

JAKARTA - Rasa kantuk sewaktu berkendara jarak jauh seperti momen mudik tergolong sangat riskan.

Selain berpotensi menurunkan daya konsentrasi, memaksakan diri terus mengemudi saat mata sudah amat berat dapat memicu timbulnya microsleep.

Pengamat sekaligus Director Training Safety Defensive Consultant Indonesia (SDCI) Sony Susmana menyebutkan ada tiga pemicu utama timbulnya rasa kantuk di jalan.

"Ya, jadi kalau mengemudi ngantuk tuh biasanya durasinya panjang atau cuacanya panas atau suasananya boring," kata Sony.

"Nah, tiga hal itu biasanya memicu rasa ngantuk yang nanti akan berujung ke microsleep," tambahnya.

Fenomena microsleep atau hilangnya kesadaran dalam durasi singkat sangat berbahaya bagi keselamatan.Kondisi terlelap sejenak ini membuat otak kehilangan kesadaran sehingga pengemudi lepas kendali atas kendaraannya.

Insiden kecelakaan dapat terjadi hanya dalam hitungan detik atau bahkan milidetik.Pengemudi yang mengalami microsleep bisa saja keluar dari lajur, gagal mengerem saat ada objek mendekat, hingga tak sempat menghindari lubang di jalan.

Maka dari itu, mengatasi kantuk ketika melakukan perjalanan jauh sangat penting agar pemudik selamat sampai di tujuan.

Sony menuturkan bahwa rasa kantuk saat menyetir dapat diredam dengan teknik commentary driving.

Prosesnya dilakukan dengan cara pengemudi mendeskripsikan setiap objek yang berpotensi bahaya menjadi bentuk kalimat verbal lewat percakapan.

"Cara mengatasi saat mengemudi terus menghadapi ngantuk, itu bisa lewat pertama commentary driving. Commentary driving itu kan kami berbicara kemudian menerjemahkan objek-objek yang berpotensi bahaya menjadi sebuah kalimat lewat sebuah percakapan, kan," ujarnya.

Langkah ini terbukti efektif sebab pergerakan rahang saat berbicara membantu memompa asupan oksigen menuju otak.Kelancaran aliran oksigen ke otak akan mendongkrak tingkat konsentrasi sehingga meminimalkan kantuk sewaktu menyetir.

"Ketika kami mengemudi sambil berbicara, itu rahangnya tuh kan bergerak-gerak. Ketika rahang bergerak-gerak, otomatis oksigen itu akan terpompa sampai otak. Ketika terpompa sampai otak, otomatis (...) otak ini tidak akan kekurangan oksigen dan mengemudinya bisa lebih fokus. Itu yang nomor satu harus dilakukan oleh pengemudi," jelas Sony.

Poin kedua berhubungan erat dengan durasi serta aktivitas istirahat.

Pengemudi sangat tidak dianjurkan menunda istirahat sampai kondisi fisik benar-benar lelah atau kantuk terlanjur berat.

"Kemudian yang nomor dua ini berkaitan dengan durasi istirahat dan activity istirahat. Jadi pastikan mengemudi jangan tunggu sampai capek misalnya, jangan tunggu sampai ngantuk," ujarnya.

Jika tubuh mulai terasa pegal setelah berkendara dua hingga tiga jam, segera arahkan kendaraan menuju rest area terdekat untuk beristirahat sejenak.

"Di-set duduk yang bener, ketika memang dua atau three jam maksimal dia sudah mulai pegel-pegel, pastikan mobilnya arahkan ke rest area untuk melakukan aktivitas me-refresh otot, saraf, sama otak," kata Sony.

Waktu istirahat yang dibutuhkan sebenarnya tidak perlu lama.Rehat cukup selama 15 menit sudah sangat membantu memulihkan tingkat konsentrasi pengemudi.

"Nggak perlu lama-lama, paling cuma 15 menit, tetapi impact-nya adalah ketika melakukan perjalanan berikutnya biasanya si pengemudi ini lebih fokus, begitu," tuturnya.

Di samping itu, kondisi kabin yang kondusif turut berperan mengurangi timbulnya rasa kantuk saat menyetir.

Pengondisian kabin perlu disesuaikan agar pengemudi merasa nyaman dan tidak cepat lelah.

"(Faktor) yang biasa mendukung kan suasana yang ada di dalam kabin ya. Kalau memang suasananya panas, pastikan pakai kacamata riben misalnya. (...) Kemudian pilih navigator yang memang sesuai," jelas Sony.

Sosok navigator bertugas mendampingi pengemudi agar tetap fokus selama perjalanan jauh, namun pastikan memilih pendamping yang bisa diandalkan.

"Selama perjalanan dia (navigator) bisa membantu, kemudian mengarahkan, menjaga, segala macam. Nah si navigator itu harus satu visi satu misi di dalam perjalanan. Jangan sampai nanti di perjalanan bisa men-distraksi, bisa mengganggu, bahkan bisa menjadikan suasana nggak enak dan sebagainya. Jadi pilihlah navigator, (...) (yang) paling tidak dia bisa mengerti kami sebagai pengemudi, dia paham karakter kami dan bagaimana cara mengingatkan kami selama perjalanan," tuturnya.

Apabila terpaksa mengemudi seorang diri, kewaspadaan di dalam kabin tetap bisa dijaga dengan cara memutar musik yang sanggup meningkatkan fokus.

"Tetapi ada beberapa memang yang bisa dilakukan oleh pengemudi, misalnya ada yang mungkin senang dengar musik. Nah itu balik lagi kepada si pengemudinya sih," tutupnya.

Terkini