Recoin: ATM Sampah Murah Rp 2,5 Juta Buatan Ben Swarna

Senin, 06 Juli 2026 | 16:30:57 WIB
Ben Swarna Sugi, pembuat reverse vending machine berjudul Recoin (FOTO: NET)

MAGELANG - Di tangan Ben Swarna Sugi, pembuatan reverse vending machine (RVM) tidak mesti mengeluarkan biaya hingga puluhan bahkan ratusan juta rupiah.

Melalui modal sebesar Rp 2,5 juta saja dibarengi kemampuan yang andal dalam menyusun peranti lunak, Ben menyatakan berhasil merakit purwarupa mesin pengumpul plastik itu dalam rentang waktu tiga bulan saja.

RVM sendiri ialah mesin otomatis yang bekerja untuk menampung kemasan minuman bekas misalnya botol plastik dan kaleng supaya bisa diolah kembali.

Mesin ini menghimpun sampah kemasan secara terpisah dan higienis, yang mana para pengguna RVM ke depannya bakal mendapat imbalan berupa uang elektronik ataupun voucer.

Ben menamakan RVM ciptaannya tersebut dengan panggilan Recoin, yang merupakan kependekan dari recycle to coin.

Untuk mempermudah pemahaman penduduk setempat, lelaki berumur 36 tahun ini kerap melabeli mesin buatannya sebagai “ATM sampah”.

Dia tergerak menciptakan mesin tersebut setelah memantau secara langsung kebiasaan membuang sampah para tetangganya di Kampung Dukuh, Kota Magelang, Jawa Tengah, yang tidak pernah dipilah sama sekali.

“Kalaupun dipisah, cuma ada dua-tiga botol dan enggak laku. Harus tunggu 1 kilogram, setara 40 botol, biar laku,” tutur Ben kepada Kompas.com, Sabtu (4/7/2026).

Wawasan mengenai nilai ekonomis dari kemasan minuman bekas itu tidak terlepas dari profesi Ben sehari-hari.

Alumnus Agribisnis Pengolahan Hasil Pertanian di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 1 Temanggung ini ternyata aktif bertugas sebagai petugas kebersihan di kampungnya selama dua tahun belakangan.

“Sebelumnya kerja di bidang IT di Yogyakarta. Sudah enak, uangnya banyak. Tapi, ada semacam panggilan spiritual untuk pekerjaan saat ini,” cetus dia.

Ben melangsungkan pengamatan yang mendalam terlebih dahulu sebelum mengeksekusi pembuatan Recoin, mulai dari merancang tatanan kerangka fisik mesin hingga menyusun peranti lunak sebagai penggeraknya.

Proses studi sampai perakitan mesin itu dilewati Ben sejak Januari hingga Maret 2026.

Mesin pengumpul plastik otomatis sebenarnya sudah banyak dijumpai di luar negeri.

Akan tetapi di Indonesia sendiri, Ben baru menjumpai sedikit titik penempatan mesin modern tersebut.

Contohnya seperti RVM yang terletak di perpustakaan Universitas Diponegoro (Undip) Semarang dan area Malioboro, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).

Mesin di kedua tempat tersebut dioperasikan oleh Plasticpay, suatu perusahaan rintisan (startup) skala besar yang bergerak pada sektor reverse vending machine.

“Harga satu mesin bisa ratusan juta rupiah. Saya pun pakai material kayu, triplek yang murah,” ucap Ben.

Walaupun menggunakan bahan kayu murah, dia menjamin Recoin jauh lebih praktis dibanding mesin buatan startup lain dari aspek user experience (UX).

Pengguna Recoin tidak perlu kesulitan mengunduh aplikasi tambahan pada gawai mereka, lantaran semua operasional fitur dijalankan langsung pada halaman web.

Secara ringkas, pengguna bakal mendapati pranala (link) sesudah memindai kode batang (QR code) pada mesin Recoin.

Melalui tautan itu, pengguna wajib mendaftarkan akun terlebih dahulu dengan memasukkan nomor telepon genggam serta kata sandi.

Pranala serupa juga berfungsi sebagai pintu masuk utama apabila telah mempunyai akun Recoin.

“Recoin pakai PWA (progressive web app) yang tidak makan memori gawai. Yang bikin malas orang itu karena harus install aplikasi,” kata Ben.

Untuk tiap botol plastik serta kaleng yang dimasukkan ke dalam Recoin, pengguna bakal memperoleh imbalan langsung sebesar Rp 50.

Ben bahkan menyisipkan dana pribadi kisaran Rp 100.000 di masa awal sebagai uang insentif bagi penduduk.

Pengguna Recoin baru dapat mencairkan saldo mereka saat uang yang terhimpun sudah menyentuh angka Rp 5.000.

Mekanisme penarikan uang dapat diproses melalui dompet digital seperti Dana, OVO, maupun kiriman langsung ke rekening bank.

Dalam memutarkan ekosistem tersebut, Ben menjalin kemitraan dengan dua pengepul skala besar sampah kemasan minuman bekas.

Pada pihak pengepul, nilai jual sampah plastik tersebut dihargai senilai Rp 4.000 per kilogram.

“Saya dapat keuntungan Rp 90-100 per botol yang dijual. Hasilnya untuk insentif dan operasional,” ungkapnya.

Gerakan menyosialisasikan Recoin mulanya dilakukan lewat penempatan mesin itu di beberapa lokasi berbeda di Kampung Dukuh.

Namun akibat kendala operasional sistem, saat ini penduduk mesti mendatangi langsung kediaman Ben apabila ingin membuang sampah kemasan minuman mereka.

Ben menangkap bahwa mesin hasil karyanya tersebut direspons dengan sangat positif oleh penduduk setempat.

Bukan cuma dari lingkungan Kampung Dukuh saja, bahkan masyarakat dari daerah seberang rela berkunjung dari tempat jauh demi merasakan kepraktisan Recoin.

“Ini bukan rivalnya bank sampah. Tapi, pelengkap bank sampah,” tuturnya.

Kondisi tersebut nyatanya belum membuat Ben merasa puas.

Kampung Dukuh ialah area hunian padat penduduk dengan jalanan gang sempit yang hanya muat dilewati satu unit mobil.

Wilayah ini juga berada jauh dari lalu lintas masyarakat umum selain penduduk Dukuh itu sendiri.

Dengan keadaan area yang seperti itu, menurut pandangan Ben, bisa saja ada masyarakat luar yang merasa canggung untuk masuk dan memakai Recoin.

Dia berkeinginan suatu saat nanti Recoin bisa diletakkan di titik-titik keramaian kota, contohnya Alun-alun Magelang, kawasan Pecinan, sampai wilayah Rindam IV/Diponegoro.

Nama Recoin mulai populer secara luas sesudah prototipe ini diperlihatkan pada momen Hari Lingkungan Hidup Sedunia di kawasan Armada Estate tanggal 17 Juni kemarin.

Ben memperoleh kesempatan ikut unjuk gigi sesudah Recoin berhasil mendapatkan peringkat ke-2 pada kompetisi Kreativitas dan Inovasi Masyarakat (Krenova) 2026 yang digelar oleh Badan Perencanaan Pembangunan, Riset, dan Inovasi Daerah Kota Magelang.

“Juara 2 dapat Rp 3 juta,” kata Ben tersenyum.

Belakangan ini, sebuah sekolah menengah pertama (SMP) di Kota Magelang berminat untuk mengadopsi serta mengimplementasikan sistem Recoin pada lingkungan sekolah mereka.

Ben pun menyetujui alat temuannya itu diterapkan di sana.

Dia menyatakan sama sekali tidak mengambil bayaran berupa dana sepeser pun dari pihak pengelola sekolah.

Sebagai gantinya, Ben bakal memegang peran sebagai penampung tunggal bagi seluruh sampah kemasan minuman yang didapatkan dari para murid di sekolah tersebut.

Terkini