Alasan Psikologis Adegan Cringe di Film Selalu Bertahan

Kamis, 28 Mei 2026 | 13:10:17 WIB
Ilustrasi adegan receh romantis.(Sumber:NET)

JAKARTA - Pernahkah Anda menyaksikan sebuah film kemudian mendadak merasa canggung sendiri saat melihat adegannya?

Pernah melihat momen saat karakter utama tersandung hingga bukunya berhamburan di depan pria populer yang nantinya menjadi kekasihnya? Atau momen ketika tokoh perempuan tiba-tiba berucap, "Aku gak kayak cewek lain," cuma untuk menunjukkan kalau dirinya istimewa?

Adegan receh, cheesy, dan cringe seperti ini sebetulnya sudah sejak lama menjadi bagian dari dunia sinema. 

Bentuknya pun bermacam-macam. Ada yang datang dari jalan cerita yang sangat tidak logis, ada juga yang hadir lewat dialog sok unik yang malah bikin penonton heran.

Contohnya ketika Netflix meluncurkan film My Oxford Year yang menghadirkan tokoh Ana De La Vega, mahasiswi kutu buku yang diceritakan sangat menggilai sastra klasik. Pada salah satu momen, Ana berucap: "Aku punya fetish dengan perpustakaan. Aku suka dikelilingi oleh buku. Bagiku bau buku tua adalah yang terbaik. Saat umurku sepuluh tahun aku membaca seluruh novel Phillip Pullman."

Alih-alih terkesan alami, dialog itu malah dianggap terlalu dipaksakan. Banyak penonton menilai tokoh Ana seperti sengaja dibuat berbeda dari perempuan pada umumnya dengan cara yang terlampau pretensius.

Meski sering mendapat cercaan, adegan cringe nyatanya tidak pernah benar-benar hilang dari film ataupun serial. 

Dan besar kemungkinan, Anda semua masih akan tetap menemuinya sampai bertahun-tahun yang akan datang.

Hal uniknya, rasa canggung saat melihat adegan cringe rupanya bisa hadir karena adanya rasa empati. Patrick Lenton dalam tulisannya di ABC menjelaskan bahwa cringe muncul saat seseorang secara tidak sadar membayangkan dirinya ada di posisi tokoh tersebut. "Rasa malu akan sesuatu di luar diri pada dasarnya adalah bentuk dari empati. Rasanya seperti kami menempatkan diri sendiri di posisi orang lain, lantas merasa malu untuk mereka," tulis Patrick Lenton.

Makin matang usia seseorang, biasanya rasa cringe yang dialami juga makin intens. Pola pikir yang lebih rumit membuat orang dewasa lebih sukar memisahkan logika realitas dengan adegan di dalam film. 

Karena itu, dialog atau aksi absurd yang dulu dianggap biasa saja waktu remaja, kini justru memicu keinginan untuk mempercepat adegan tersebut.

Akan tetapi, di balik rasa canggung itu rupanya ada alasan psikologis lain yang terbilang unik. Seorang psikiater bernama Steve Ellen mengungkapkan bahwa humor cringe sebetulnya berkaitan dengan kebiasaan manusia yang kerap membandingkan diri sendiri dengan norma sosial. "Manusia (punya kecenderungan) untuk minder dengan kelakuan sendiri, ini membuat setiap orang terus-menerus mengevaluasi diri berdasarkan standar orang lain."

Secara tidak sadar, penonton pun menghubungkan diri mereka dengan adegan yang sedang ditonton. 

Adegan cringe pada akhirnya terasa familier karena hampir semua orang pernah melewati momen canggung dalam hidup mereka.

Bukan cuma itu, adegan cringe juga dianggap sebagai salah satu bentuk simulasi sosial. 

Penonton bisa belajar mengerti situasi sosial yang janggal tanpa harus benar-benar merasakannya secara langsung di kehidupan nyata.

Oleh karena itu, walaupun bikin geleng-geleng kepala, adegan receh dan cringe tampaknya memang akan terus awet di industri film. Sebab di balik rasa canggung itu, manusia secara diam-diam tengah belajar untuk mengerti dirinya sendiri.

Terkini