Skandal Riset Palsu WNI di Konferensi ISPPD Denmark

Kamis, 28 Mei 2026 | 11:00:01 WIB
Viral dugaan skandal riset palsu oleh oknum peneliti Indonesia.(Sumber:NET)

JAKARTA - Dugaan skandal penelitian palsu yang melibatkan peserta dari Indonesia mencuat dalam ajang International Symposium on Pneumococci and Pneumococcal Diseases (ISPPD) di Kopenhagen, Denmark, pada 17-21 Mei 2026. 

Kasus ini menjadi pusat perhatian setelah epidemiolog Indonesia yang sedang menempuh studi doktoral di Oxford University, Wa Ode Dwi Daningrat, membongkar berbagai kejanggalan yang ditemukannya selama konferensi berlangsung.

ISPPD merupakan konferensi ilmiah terkemuka yang tahun ini dihadiri lebih dari 1.300 peserta dari 86 negara. 

Namun, alih-alih membanggakan, nama Indonesia justru menjadi bahan perbincangan akibat dugaan manipulasi identitas peneliti hingga data riset yang dinilai janggal.

Melalui video di akun Instagram pribadinya, Dwi membagikan kronologi terungkapnya skandal tersebut dan telah mengizinkan detikEdu untuk mengutip seluruh kontennya.

Kasus ini terbongkar karena Dwi dan rekannya sesama peserta konferensi merasa penasaran dengan latar belakang pemateri yang kemudian diketahui bernama Prihantini. 

Menurut Dwi, komunitas riset pneumonia di Indonesia umumnya saling mengetahui melalui publikasi ilmiah maupun jejaring akademik internasional meskipun tidak saling kenal secara personal.

"Gue sama teman gue aware karena dia pakai afiliasi Indonesia. Kalau kami baca paper tentang pneumonia di Indonesia orangnya itu-itu aja. 

Makanya kami scrutinize sampai ketahuan kayak gini karena dia afiliasinya Indonesia. Jadi naturally we are curious about that. Apalagi berasal dari satu negara sama-sama Indonesia di konferensi minimal saling sapa," ujar Dwi.

Kecurigaan kian kuat karena Prihantini kerap menghindari interaksi dengan delegasi Indonesia lainnya. Saat didekati, Prihantini justru memperkenalkan diri menggunakan nama yang berbeda-beda kepada orang yang berbeda. 

Tidak hanya itu, Dwi kemudian menemukan kejanggalan pada sejumlah data yang ditampilkan dalam risetnya.

Salah satu hal yang paling mencurigakan adalah klaim pengumpulan data primer di wilayah dataran tinggi Andes, Peru, tanpa melibatkan kolaborator lokal sama sekali. Dalam praktik riset internasional, hal tersebut dinilai hampir mustahil untuk dilakukan.

"Mereka tuh ngumpulin data di Andes. Ngumpulin data dan enggak ada sama sekali kolaborator lokal di negara itu impossible untuk melakukan penelitian kayak gitu di negara orang. Itu salah satu keanehan yang paling menonjol," ujarnya.

Akhirnya Dwi dan rekannya mengikuti sesi presentasi Prihantini. Dalam sesi presentasi yang dijadwalkan atas nama "Riana Dwi Kurniawati" dengan judul penelitian "Urban Heat Islands and Ageing Lung Vulnerability: Mapping Pneumococcal Pneumonia Risk and Climate-Exposed Older Adult Hotspots in LMIC Megacities", Prihantini memperkenalkan diri dengan nama "Riana".

Namun sekitar sepuluh menit kemudian, pada sesi presentasi yang berbeda, Dwi melihat perempuan yang sama kembali tampil setelah mengganti jilbabnya menjadi warna merah. Perempuan tersebut juga terlihat mengeluarkan identitas bertuliskan nama "Dimas Fajar Prasetyo" dari dalam tasnya, lalu mempresentasikan penelitian berjudul "AI-Fused Satellite Climate, Urban Heat and PCV Uptake to Prioritise Pneumococcal Booster Strategies for Frail Older Adults in LMIC Megacities" sambil memperkenalkan diri sebagai "Dimas".

Prihantini sendiri sebenarnya tidak tercantum dalam daftar penulis untuk kedua penelitian tersebut. Namun, ia mengirimkan 5 judul penelitian lain dalam konferensi tersebut yang dipamerkan dalam bentuk poster.

Judul-judul tersebut yaitu: Deep Reinforment Learning Guided Scheduling of Flagellin and Antibiotics For Precision Host-Directed Therapy in Pneumococcal Pneumonia; Global Data Mining of Resistant Pneumococcal Sepsis Transcriptomes Identifies Conserved Stress Modules Linking Virulence, Metabolism, and Vulnerability Axes; Multiscale Mathematical Modeling of Influenza-Pneumococcal Superinfection to Define Optimal Timing for Flagellin Host-Directed Therapy; Deep Learning Integration of Innate Lymphoid Cell States, Lung Transcriptomic Programs, and Cross-Vivarium Microbiota Predicts Interleukin-22-Dependent Disease Severity in Pneumococcal Pneumonia; serta Multi-Strain Machine Learning Identifies Transcriptomic Combination Vulnerabilities in Multidrug-Resistant Streptococcus Pneumoniae.

Berdasarkan laman resmi ISPPD, 5 judul riset tersebut dikerjakan Prihantini bersama Rifaldy Fajar dan Rini Winarti. 

Prihantini dan Rifaldy menggunakan nama AI-Biomedicine Research Group, IMCDS Biomed Research Foundation, Jakarta sebagai institusi asal. 

Sementara Rini Winarti mencantumkan Departemen Biologi, Universitas Negeri Yogyakarta sebagai afiliasi.

Menteri Pendidikan Tinggi, Riset, dan Teknologi Brian Yuliarto mengungkapkan bahwa para WNI yang terlibat tidak terindikasi sebagai dosen atau peneliti aktif. 

Ia menegaskan pihaknya tetap memberikan perhatian serius pada kasus ini karena berdampak terhadap persepsi ekosistem riset nasional.

"Berdasarkan informasi awal yang kami peroleh, pihak-pihak yang disebut dalam kasus ini tidak terindikasi sebagai dosen atau peneliti aktif di perguruan tinggi Indonesia. Meski demikian, persoalan ini tetap menjadi perhatian karena dapat memengaruhi persepsi terhadap ekosistem riset nasional secara lebih luas," ujar Brian dalam keterangannya.

"Indonesia memiliki mekanisme evaluasi integritas riset melalui perguruan tinggi, komite etik, LPPM, sistem penjaminan mutu akademik, serta mekanisme pemantauan dan evaluasi dari Kemdiktisaintek maupun BRIN sesuai kewenangannya," jelasnya.

Wakil Rektor Bidang Academic UNY, Prof Nur Hidayanto, menyampaikan bahwa pihak kampus saat ini sedang menelusuri alumni yang namanya tercatut dalam kasus tersebut.

Hingga saat ini, Prihantini dan Rivaldy Fajar belum bisa dihubungi. Namun, melalui akun Threads dan Instagram pribadinya, Rifaldy sempat mengunggah konten yang menyatakan bahwa ia tengah menyusun klarifikasi bersama peneliti lain. 

Konten tersebut kini sudah tidak ada lantaran Rifaldy telah menutup akunnya.

Terkini