SAMARINDA – Upaya aparat dalam menggerebek kampung narkoba di Gang Langgar, Samarinda, Kalimantan Timur kerap kali menemui kegagalan akibat keberadaan pengawas yang dijuluki sniper.
Istilah ini disematkan kepada orang-orang yang mengamati pergerakan di sekitar lokasi guna memberikan informasi kilat kepada sindikat di dalam.
Menariknya, salah satu sosok yang bertindak sebagai sniper tersebut merupakan seorang oknum anggota kepolisian berpangkat Bripka bernama Dedy Wiratama.
Sniper Berjaga di Titik Strategis
Menurut penjelasan Kepala Bidang Hubungan Masyarakat (Kabid Humas) Polda Kaltim Kombes Pol Yuliyanto, para pengawas ini ditempatkan di area-area krusial yang menjadi pintu masuk dan keluar kawasan tersebut.
“Sniper itu adalah orang-orang yang terlibat dalam kelompok di kampung tersebut yang bertugas memantau siapa saja yang masuk,” ujar Yuliyanto, dikutip dari TribunKaltim, Senin (18/5/2026).
“Mereka memfoto orang asing atau aparat yang masuk, kemudian langsung menginformasikannya kepada jaringan di dalam," tambahnya.
Yuliyanto mengungkapkan bahwa berkat sistem pemantauan yang ketat ini, laporan mengenai kedatangan petugas dapat menyebar dalam hitungan detik setelah aparat menginjakkan kaki di kampung narkoba tersebut.
“Ketika mereka mencurigai ada polisi atau aparat penegak hukum yang masuk, informasi langsung disebarkan,” kata Yuliyanto.
"Karena itu sering muncul anggapan penggerebekan di kampung narkoba selalu bocor. Padahal mereka memang punya sistem pemantauan sendiri," sambungnya.
Ia memaparkan bahwa para pengawas ini bekerja dalam sistem sif selama 24 jam penuh demi memastikan kelancaran dan keamanan aktivitas transaksi barang haram tersebut.
“Jadi memang ada yang bertugas khusus memantau situasi di lapangan,” ujarnya.
Sniper Pakai HT dan Kode Khusus
Operasi bisnis barang haram di Gang Langgar, Samarinda, Kalimantan Timur, terorganisasi dengan sangat rapi. Pihak kepolisian menemukan fakta bahwa para pengawas dibekali radio komunikasi berupa handy talky (HT) saat bersiaga di pos masing-masing.
Direktur Tindak Pidana Narkoba Bareskrim Polri Brigjen Pol. Eko Hadi Santoso memaparkan, puluhan pengawas tersebut memantau keadaan sekaligus memandu para pembeli menuju area transaksi.
"Pada sepanjang jalan sebelum mencapai ke Blok F terdapat 21 (Dua Puluh Satu) pengawas yang memegang Handy Talky termasuk untuk menuntun pengguna yang akan membeli narkoba di Lapak GG Langgar Blok F," jelas Eko dikutip dari Tribratanews, Senin (18/5/2026).
Ia mengutarakan bahwa kekuatan personel pengawas akan ditingkatkan pada waktu malam guna meminimalkan risiko sergapan dari petugas keamanan.
Di samping itu, para sniper yang berjaga di baris depan menggunakan isyarat tertentu untuk menyaring para pembeli. Langkah ini diambil lantaran penduduk di sekitar Gang Langgar sangat sensitif terhadap kehadiran wajah baru. Setelah lolos dari pintu masuk, pembeli wajib berjalan sendirian menuju lokasi penjualan. Paket sabu ukuran klip kecil di sana dihargai sebesar Rp 150.000.
"Tersangka yang berperan sebagai sniper (Pengawas) yang berada di depan Alf**** akan memberikan kode ‘masuk masuk’ menggunakan tangan secara tersirat kemudian sniper akan memberi informasi melalui handy talky," imbuhnya.
Dedy Wiratama Positif Narkoba
Skema pengawasan yang rapi ini akhirnya terbongkar setelah Direktorat Tindak Pidana Narkoba (Dittipidnarkoba) Bareskrim Polri melakukan operasi pembersihan di kampung narkoba Gang Langgar, Samarinda.
Petugas meringkus 13 individu, termasuk oknum polisi Dedy Wiratama yang disinyalir kuat menyokong jaringan ini sebagai pemantau situasi. Dedy bahkan sempat berstatus buron sebelum akhirnya berhasil ditangkap.
Eko menyebutkan bahwa Dedy kini tengah diinvestigasi terkait dugaan pelanggaran Kode Etik Profesi Polri (KEPP). Langkah hukum ini diambil setelah hasil tes urine menunjukkan Dedy positif mengonsumsi zat terlarang sebanyak dua kali.
"Yang bersangkutan sudah diamankan Satuan Brimobda Kaltim,” katanya, dikutip dari Antara, Senin (18/5/2026).
Eko menegaskan, sesudah penanganan perkara etik rampung, Dittipidnarkoba Bareskrim Polri akan langsung menggulirkan proses pidana narkotika terhadap Dedy.
Selain memetakan sistem pertahanan sindikat ini, polisi juga mendapati kenyataan bahwa aktivitas transaksi sabu di wilayah tersebut berjalan secara vulgar hampir sepanjang hari.