Rupiah Dibuka Melemah Ke Rp17.030 Per Dolar AS Kamis

Kamis, 09 April 2026 | 11:26:33 WIB
Rupiah Dibuka Melemah Ke Rp17.030 Per Dolar AS Kamis

JAKARTA - Meski dolar Amerika Serikat sedang melemah, nilai tukar rupiah justru masih belum mampu memanfaatkan momentum untuk menguat pada pembukaan perdagangan Kamis pagi.

Mata uang Garuda kembali tertekan dan bergerak ke level psikologis Rp17.000 per dolar AS, mencerminkan bahwa tekanan eksternal dan sentimen global masih menjadi faktor dominan yang membayangi pergerakan kurs domestik. 

Di tengah kondisi tersebut, pasar juga mencermati kombinasi sentimen geopolitik dari Timur Tengah dan kabar positif dari realisasi pendapatan negara yang masih solid pada kuartal pertama tahun ini.

Pergerakan rupiah yang kembali melemah menunjukkan bahwa pasar masih bergerak hati-hati. Walau ada sejumlah sentimen yang dinilai positif, terutama dari dalam negeri, kekhawatiran terhadap dinamika global tetap memberi tekanan terhadap mata uang emerging market, termasuk Indonesia. 

Kondisi ini membuat rupiah diperkirakan bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah sepanjang sesi perdagangan hari ini.

Rupiah Kembali Melemah Di Awal Perdagangan

Nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada pembukaan perdagangan hari ini mengalami pelamahan. Rupiah kembali ke level Rp17 ribu per USD saat dolar AS juga melemah.

Mengutip data Bloomberg, Kamis, 9 April 2026, rupiah berada di level Rp17.030 per USD. Mata uang Garuda tersebut melemah 18 poin atau setara 0,11 persen dari Rp17.012 per USD pada penutupan perdagangan sebelumnya.

Sementara menukil data Yahoo Finance, rupiah pada waktu yang sama berada di level Rp17.087 per USD. Rupiah terpantau masih sama dengan pembukaan perdagangan kemarin.

Kondisi ini memperlihatkan bahwa rupiah masih berada dalam tekanan meskipun dolar AS tidak sedang berada dalam fase penguatan besar. 

Kembalinya rupiah ke level Rp17.000 per dolar AS menjadi perhatian pasar karena level tersebut kerap dianggap sebagai batas psikologis yang sensitif bagi pelaku pasar dan investor.

Perbedaan data dari dua sumber juga menunjukkan bahwa pasar bergerak dinamis pada awal perdagangan. Meski terdapat selisih angka, arah pergerakan yang terlihat tetap sama, yakni rupiah belum menunjukkan penguatan yang signifikan dan masih cenderung bergerak melemah dibandingkan posisi sebelumnya.

Rupiah Diprediksi Bergerak Fluktuatif

Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi memprediksi rupiah pada perdagangan Kamis ini akan bergerak secara fluktuatif dan kemungkinan besar akan kembali melemah. Mata uang rupiah bergerak di rentang Rp17.010 per USD hingga Rp17.040 per USD.

Prediksi ini menegaskan bahwa tekanan terhadap rupiah belum sepenuhnya mereda. Pasar masih dibayangi berbagai sentimen eksternal yang memengaruhi arus modal dan persepsi risiko global, sehingga ruang penguatan rupiah dinilai masih terbatas dalam jangka pendek.

Dalam situasi seperti ini, pergerakan rupiah biasanya sangat sensitif terhadap kabar geopolitik, arah suku bunga global, serta respons investor terhadap aset berisiko. 

Karena itu, rentang gerak yang diperkirakan tidak terlalu lebar menunjukkan bahwa pasar masih menunggu kepastian dari perkembangan sentimen utama yang sedang berlangsung.

Meski begitu, kondisi fluktuatif juga membuka kemungkinan adanya pergerakan dua arah selama perdagangan. Artinya, rupiah tetap bisa mengalami penguatan sesaat jika sentimen pasar membaik, tetapi kecenderungan umumnya masih dinilai mengarah pada pelemahan.

Sentimen Geopolitik Jadi Penentu Arah Kurs

Ibrahim mengungkapkan, pergerakan kurs rupiah pada hari ini dipengaruhi oleh sentimen Presiden AS Donald Trump yang menyetujui gencatan senjata. Trump mengatakan akan menangguhkan aksi militer terhadap Iran selama dua minggu, menambahkan AS telah mencapai tujuan militer intinya.

Pengumuman itu datang kurang dari dua jam sebelum batas waktu pukul 20.00 ET, yang telah dipantau ketat oleh investor sebagai pemicu potensial untuk eskalasi besar. Sebelumnya, Trump telah memperingatkan seluruh peradaban akan mati jika Iran gagal mematuhi kesepakatan tersebut.

Gencatan senjata, yang ditengahi oleh Pakistan setelah upaya diplomatik menit-menit terakhir, bergantung pada jaminan Iran untuk membuka kembali Selat secara aman, jalur utama bagi sekitar 20 persen aliran minyak global.

Iran juga mengisyaratkan kesediaan bersyarat untuk mengurangi eskalasi, dengan mengatakan jalur aman melalui Selat akan dimungkinkan selama periode gencatan senjata, asalkan permusuhan dihentikan dan kapal-kapal berkoordinasi dengan otoritas Iran.

Sentimen geopolitik seperti ini menjadi sangat penting bagi pasar keuangan global karena berkaitan langsung dengan stabilitas harga energi dan aliran perdagangan internasional. 

Jika situasi di kawasan kembali memanas, maka pasar cenderung menghindari aset berisiko dan beralih ke instrumen safe haven, yang pada akhirnya bisa menekan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

Karena Selat tersebut menjadi jalur vital distribusi minyak dunia, kepastian keamanan kawasan menjadi faktor yang sangat diperhatikan investor. 

Itulah sebabnya kabar gencatan senjata bisa memicu respons cepat di pasar, meski dampaknya terhadap rupiah tetap bergantung pada seberapa kuat sentimen global tersebut bertahan.

Kinerja APBN Jadi Penopang Sentimen Domestik

Di sisi lain, pasar merespons positif terhadap realisasi pendapatan negara hingga 31 Maret 2026 mencapai Rp574,9 triliun, atau meningkat 10,5 persen secara tahunan (yoy). 

Realisasi tersebut setara dengan 18,2 persen dari target yang ditetapkan dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026 sebesar Rp3,15 kuadriliun.

Capaian tersebut didukung oleh kinerja penerimaan pajak pada triwulan I 2026 yang keseluruhan tumbuh kuat, baik secara bruto maupun neto, dengan realisasi bulanan yang konsisten dan meningkat sejak awal tahun.

Secara total, penerimaan perpajakan mencapai Rp462,7 triliun, atau meningkat 14,3 yoy, yang terdiri dari penerimaan pajak sebesar Rp394,8 triliun serta kepabeanan dan cukai sejumlah Rp67,9 triliun.

Kinerja fiskal ini menjadi salah satu sentimen positif dari dalam negeri yang membantu menahan tekanan terhadap rupiah. Saat pendapatan negara tumbuh dan penerimaan perpajakan menunjukkan tren membaik, pasar cenderung melihat adanya fondasi ekonomi yang masih cukup solid.

Namun demikian, sentimen domestik yang positif belum sepenuhnya mampu mengimbangi tekanan eksternal yang lebih dominan. Karena itu, meski data APBN memberikan dukungan, rupiah tetap harus menghadapi tantangan besar dari dinamika global yang terus bergerak cepat. 

Dalam jangka pendek, pergerakan rupiah masih akan sangat ditentukan oleh kombinasi sentimen geopolitik dan respons pasar terhadap kondisi ekonomi domestik yang sedang berlangsung.

Terkini