JAKARTA - Perayaan keagamaan di berbagai daerah Indonesia tidak hanya menjadi momen spiritual bagi umat beragama, tetapi juga berpotensi berkembang sebagai daya tarik wisata yang memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat.
Berbagai kegiatan keagamaan yang digelar secara rutin sering kali mampu menarik perhatian pengunjung dari berbagai daerah, bahkan wisatawan mancanegara.
Di sejumlah wilayah, tradisi keagamaan telah berkembang menjadi agenda wisata rohani yang dikenal luas. Kegiatan tersebut tidak hanya memperkuat nilai religius, tetapi juga mendorong pertumbuhan sektor pariwisata dan ekonomi kreatif di daerah.
Wakil Presiden (Wapres) Gibran Rakabuming Raka mengatakan pemerintah pusat siap mendukung penuh jika Festival Pawai Paskah Gereja Injili Masehi di Timor (GMIT) dimasukkan ke dalam agenda nasional wisata rohani guna meningkatkan sektor pariwisata di NTT, khususnya di Kota Kupang.
"Saya dengar tadi Pawai Paskah ini diusulkan masuk dalam agenda wisata rohani. Saya kira ini langkah yang baik dan perlu kita dukung," kata Wapres.
Hal ini disampaikan saat Wapres Gibran memberikan sambutan ketika menghadiri acara Pawai Paskah 2026 yang saat ini memasuki usia ke-30 yang digelar oleh GMIT.
Dukungan Pemerintah Untuk Wisata Rohani Di NTT
Pemerintah pusat memandang bahwa kegiatan keagamaan yang memiliki nilai budaya dan tradisi kuat dapat dikembangkan menjadi daya tarik wisata rohani. Dengan dukungan yang tepat, kegiatan tersebut tidak hanya menjadi perayaan spiritual, tetapi juga dapat memberikan kontribusi bagi pembangunan daerah.
Pemerintah pusat, kata dia, akan memberikan sejumlah dukungan berupa dukungan promosi, penguatan infrastruktur, pelibatan UMKM, masyarakat lokal, serta penguatan ekonomi kreatifnya.
Dukungan tersebut menunjukkan komitmen pemerintah dalam mengembangkan potensi wisata berbasis budaya dan keagamaan di berbagai daerah. Melalui promosi yang lebih luas serta peningkatan infrastruktur, kegiatan keagamaan diharapkan dapat menjangkau lebih banyak pengunjung.
Selain itu, pelibatan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah serta masyarakat lokal juga menjadi bagian penting dalam memperkuat dampak ekonomi dari kegiatan wisata rohani tersebut.
Potensi Wisata Rohani Di Wilayah Nusa Tenggara Timur
Menurut Wapres, NTT memiliki modal kuat sebagai destinasi wisata rohani. Beberapa destinasi wisata rohani itu, menurut dia, memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat.
Wapres menyebutkan beberapa wisata rohani itu, seperti wisata rohani Semana Santa di Larantuka, Kabupaten Flores Timur. Kemudian juga wisata rohani Patung Bunda Maria segala bangsa di Nilo, Kabupaten Sikka, serta Pawai Paskah di Kota Kupang akan menjadi daya tarik wisata rohani.
Keberadaan berbagai destinasi wisata rohani tersebut menunjukkan bahwa Nusa Tenggara Timur memiliki potensi besar untuk mengembangkan sektor pariwisata berbasis nilai spiritual dan tradisi keagamaan.
Wisata rohani tidak hanya menarik umat beragama yang ingin mengikuti perayaan tertentu, tetapi juga wisatawan yang tertarik mempelajari tradisi serta budaya lokal yang berkembang di masyarakat.
Dampak Ekonomi Dari Kegiatan Keagamaan
Kegiatan keagamaan yang dikemas secara menarik dan terorganisasi dengan baik dapat memberikan manfaat ekonomi yang signifikan bagi masyarakat setempat. Kehadiran pengunjung dari berbagai daerah dapat mendorong aktivitas ekonomi di sektor pariwisata.
"Tentunya ini akan menjadi daya tarik luar biasa untuk NTT, mendorong pergerakan ekonomi, serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat NTT," ujar Wapres Gibran.
Peningkatan jumlah pengunjung biasanya berdampak pada berbagai sektor ekonomi, seperti perdagangan, kuliner, transportasi, hingga industri kreatif lokal.
Dengan demikian, kegiatan keagamaan yang berkembang menjadi agenda wisata tidak hanya memperkuat identitas budaya dan spiritual, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat di daerah tersebut.
Harapan Pawai Paskah Masuk Agenda Nasional
Pelaksanaan Pawai Paskah 2026 GMIT yang digelar memasuki usia 30 tahun itu diikuti oleh puluhan klasis GMIT di NTT, serta ratusan umat GMIT di seluruh NTT.
Kegiatan yang telah berlangsung selama puluhan tahun tersebut menjadi salah satu tradisi keagamaan yang memiliki nilai sejarah dan kebersamaan bagi masyarakat di wilayah tersebut.
Ketua Majelis Sinode GMIT Pdt. Samuel Benyamin Pendie berharap Pawai Paskah ini bisa segera masuk dalam agenda nasional, sehingga dilaksanakan dengan situasi yang lebih baru dan ramai serta menarik wisatawan yang berkunjung ke Kota Kupang.
Harapan tersebut sejalan dengan upaya pengembangan wisata rohani di Indonesia yang memanfaatkan kekayaan tradisi keagamaan di berbagai daerah.
Jika Pawai Paskah GMIT dapat masuk dalam agenda nasional, kegiatan tersebut berpotensi menjadi salah satu ikon wisata rohani di Indonesia, khususnya di wilayah timur.
Dengan dukungan promosi yang lebih luas serta penguatan infrastruktur pariwisata, kegiatan ini diharapkan mampu menarik lebih banyak wisatawan sekaligus memberikan dampak ekonomi yang lebih besar bagi masyarakat lokal.
Pengembangan wisata rohani juga dapat menjadi strategi untuk memperkenalkan keragaman budaya dan tradisi keagamaan Indonesia kepada dunia.
Melalui kegiatan seperti Pawai Paskah GMIT, masyarakat dapat melihat bagaimana nilai spiritual, budaya, dan kebersamaan berpadu dalam sebuah perayaan yang meriah.
Ke depan, kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, serta lembaga keagamaan akan menjadi kunci dalam mengembangkan potensi wisata rohani secara berkelanjutan.
Dengan pengelolaan yang baik, kegiatan keagamaan tidak hanya menjadi perayaan spiritual, tetapi juga dapat berkontribusi bagi pembangunan ekonomi dan pariwisata daerah.