OJK Prediksi Jumlah ATM Akan Terus Menurun Digitalisasi

Selasa, 27 Januari 2026 | 10:35:00 WIB
OJK Prediksi Jumlah ATM Akan Terus Menurun Digitalisasi

JAKARTA - Perkembangan teknologi keuangan mengubah cara masyarakat mengakses layanan perbankan. Fenomena ini terlihat dari tren penurunan jumlah mesin anjungan tunai mandiri (ATM) di Indonesia, yang diprediksi akan terus berlanjut. 

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai bahwa adopsi teknologi digital menjadi faktor utama yang mendorong perubahan perilaku masyarakat dalam bertransaksi, sehingga kebutuhan terhadap layanan ATM semakin menurun.

Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK, Dian Ediana Rae, menyebutkan bahwa penurunan jumlah ATM sejatinya merupakan keputusan bisnis masing-masing bank. 

Namun, tren ini erat kaitannya dengan kemudahan akses layanan digital yang memungkinkan nasabah melakukan transaksi kapan saja dan di mana saja tanpa harus mengandalkan infrastruktur fisik.

"Dengan semakin mudahnya akses layanan melalui aplikasi dan platform daring, serta meningkatnya penggunaan pembayaran non tunai, kebutuhan penggunaan ATM menjadi semakin minimal," ujar Dian.

Perubahan ini menjadi sinyal bahwa industri perbankan sedang bergerak menuju era digital, di mana efisiensi operasional menjadi prioritas utama. 

Selain itu, masyarakat pun semakin nyaman memanfaatkan aplikasi perbankan dan metode pembayaran non-tunai, yang membuat layanan ATM tidak lagi menjadi kebutuhan mutlak.

Dampak Penurunan ATM terhadap Perbankan

Data dari Laporan Surveillance Perbankan Indonesia OJK menunjukkan bahwa hingga kuartal III-2025, jumlah mesin ATM, Cash Deposit Machine (CDM), dan Cash Recycling Machine (CRM) tercatat sebanyak 89.774 unit. Angka ini menurun dari periode yang sama tahun sebelumnya sebanyak 91.173 unit, atau berkurang 1.399 unit dalam setahun.

Penurunan ini tidak hanya berdampak pada ketersediaan layanan fisik, tetapi juga memengaruhi strategi operasional bank. Dian menjelaskan bahwa penguatan layanan digital mampu meningkatkan efisiensi, termasuk pengurangan biaya infrastruktur fisik serta optimalisasi proses layanan perbankan.

"Efisiensi tersebut pada akhirnya dapat memperkuat kinerja keuangan dan mendukung profitabilitas perbankan," tambah Dian. Artinya, meskipun jumlah ATM berkurang, bank tetap dapat memberikan layanan optimal kepada nasabah melalui inovasi digital.

Perubahan Perilaku Nasabah

Selain faktor efisiensi bank, penurunan ATM juga dipicu oleh perubahan perilaku masyarakat. Semakin banyak nasabah yang memilih menggunakan dompet digital, mobile banking, dan metode pembayaran non-tunai lainnya.

 Transaksi yang dulunya membutuhkan penarikan tunai kini dapat dilakukan langsung melalui aplikasi, sehingga kebutuhan untuk mendatangi ATM menurun.

Fenomena ini mendorong bank untuk menyesuaikan strategi layanan mereka. Dian menekankan bahwa tren digitalisasi bukan hanya soal teknologi, tetapi juga transformasi budaya finansial. Nasabah kini lebih nyaman dengan fleksibilitas transaksi daring, sekaligus lebih aman dari risiko kehilangan fisik uang tunai.

"Semakin masifnya adopsi teknologi informasi di bidang keuangan berdampak pada perubahan perilaku, ekspektasi, dan kebutuhan masyarakat terhadap layanan keuangan dari bank," jelas Dian. 

Transformasi ini membuat perbankan harus berpikir ulang terkait pengelolaan jaringan ATM dan alokasi sumber daya.

Perluasan Sistem Cashless di Masyarakat

Tren digitalisasi perbankan juga sejalan dengan perluasan sistem pembayaran non-tunai atau cashless. Dian menilai bahwa metode ini tidak hanya memudahkan nasabah, tetapi juga mendukung kelancaran aktivitas ekonomi secara lebih luas. Transaksi non-tunai yang efisien diharapkan dapat meningkatkan produktivitas dan mempercepat perputaran ekonomi.

Selain itu, sistem cashless mempermudah pengawasan transaksi, meningkatkan keamanan, dan membantu pemerintah serta lembaga keuangan dalam mengoptimalkan data ekonomi. 

Dengan demikian, penurunan ATM bukan sekadar pengurangan fisik, melainkan bagian dari transformasi ekosistem keuangan menuju layanan yang lebih digital dan modern.

"Dengan sistem cashless, aktivitas ekonomi berjalan lebih efisien, sehingga diharapkan mendorong peningkatan aktivitas perekonomian lebih lanjut," tutup Dian. 

Hal ini menegaskan bahwa digitalisasi layanan keuangan bukan tren sementara, melainkan strategi jangka panjang untuk memperkuat industri perbankan dan mempermudah masyarakat.

Tantangan dan Peluang bagi Bank

Meski tren digitalisasi membawa banyak keuntungan, bank tetap menghadapi tantangan. Beberapa masyarakat, terutama di daerah terpencil, masih mengandalkan layanan fisik. Oleh karena itu, meskipun jumlah ATM menurun, bank perlu menyeimbangkan efisiensi dengan aksesibilitas.

Selain itu, keamanan transaksi digital menjadi perhatian utama. Bank harus memastikan infrastruktur teknologi informasi aman dari risiko siber, sekaligus memberikan edukasi kepada nasabah tentang keamanan penggunaan layanan digital.

Di sisi lain, peluang bisnis baru juga muncul dari pengembangan layanan digital. Bank dapat menambah produk inovatif, seperti e-wallet, mobile banking dengan fitur lengkap, hingga integrasi dengan sistem pembayaran online. 

Dengan strategi tepat, penurunan ATM bisa menjadi momentum untuk mendorong pertumbuhan dan loyalitas nasabah.

Secara keseluruhan, tren penurunan ATM mencerminkan perubahan besar dalam industri perbankan Indonesia. Bank yang mampu memanfaatkan teknologi digital secara optimal akan lebih efisien, adaptif, dan siap menghadapi kebutuhan masyarakat yang semakin bergeser ke layanan non-tunai dan daring.

Terkini