JAKARTA - Upaya memperkuat ketahanan pangan nasional terus digencarkan melalui pengembangan industri berbasis hilirisasi.
Pemerintah bersama BUMN pangan kini tidak hanya berfokus pada produksi bahan mentah, tetapi juga pada peningkatan nilai tambah melalui pembangunan fasilitas industri yang terintegrasi.
Langkah ini dipandang strategis untuk menjawab tantangan kebutuhan pangan nasional sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap impor.
Dalam kerangka tersebut, PT Rajawali Nusantara Indonesia (Persero) atau ID FOOD mulai menjalankan proyek hilirisasi pangan fase pertama.
Fokus pengembangan diarahkan pada sektor peternakan unggas dan industri garam, dua subsektor yang memiliki peran penting dalam rantai pasok pangan nasional. Proyek ini sekaligus menjadi bagian dari enam proyek strategis Danantara Indonesia yang resmi memasuki tahap konstruksi.
Groundbreaking proyek-proyek hilirisasi tersebut dilakukan secara serentak di berbagai wilayah Indonesia. Momentum ini menandai dimulainya fase awal pembangunan industri yang diharapkan mampu memperkuat sektor riil, menciptakan lapangan kerja, serta mendorong pertumbuhan ekonomi berkelanjutan dalam jangka panjang.
Hilirisasi Pangan Fase Awal Dimulai
ID FOOD menjalankan proyek hilirisasi pangan fase I melalui pembangunan poultry terintegrasi serta industri garam dengan kapasitas mencapai 380.000 ton per tahun.
Proyek hilirisasi pangan ini menjadi bagian dari fase pertama enam proyek strategis Danantara Indonesia yang telah memasuki tahap konstruksi melalui agenda groundbreaking serentak di 13 lokasi pada 6 Februari 2026.
CEO Danantara Indonesia Rosan Roeslani menyampaikan bahwa proyek-proyek hilirisasi fase I merupakan bagian dari agenda transformasi ekonomi nasional. Tujuan utamanya adalah memperkuat sektor riil serta meningkatkan nilai tambah industri dalam negeri melalui pengelolaan sumber daya yang lebih terintegrasi.
“Tahap awal proyek-proyek ini diharapkan dapat memberikan dampak positif yang nyata bagi perekonomian Indonesia, baik melalui penciptaan nilai tambah industri maupun penyerapan tenaga kerja,” ujar Rosan.
Menurutnya, hilirisasi menjadi kunci untuk membangun fondasi industri nasional yang lebih kuat dan berdaya saing, sekaligus mendorong pemerataan pembangunan di berbagai daerah.
Pengembangan Peternakan Unggas Terintegrasi
Dalam sektor peternakan, ID FOOD melalui anak usahanya PT Berdikari meresmikan fasilitas hilirisasi poultry terintegrasi yang berlokasi di Kecamatan Ngajum, Kabupaten Malang, Jawa Timur. Fasilitas ini dibangun di atas lahan seluas 5,6 hektare dan dirancang untuk mendukung pemenuhan kebutuhan protein nasional.
Keberadaan fasilitas poultry terintegrasi ini diharapkan dapat memperkuat rantai pasok daging ayam secara berkelanjutan. Selain meningkatkan efisiensi produksi, proyek ini juga ditujukan untuk mendukung program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menjadi salah satu prioritas pemerintah dalam meningkatkan kualitas gizi masyarakat.
Tidak hanya berfokus pada produksi, pengembangan fasilitas ini juga membuka peluang kerja bagi masyarakat sekitar. Dengan pendekatan terintegrasi dari hulu ke hilir, proyek ini diharapkan mampu memberikan dampak ekonomi langsung sekaligus memperkuat ketahanan pangan nasional.
Selain di Malang, agenda groundbreaking proyek hilirisasi juga dilaksanakan di lima wilayah lain, yakni Sulawesi Selatan, Kalimantan Timur, Lampung, Gorontalo, dan Nusa Tenggara Barat. Kegiatan tersebut turut dihadiri oleh para kepala daerah setempat sebagai bentuk dukungan terhadap pengembangan industri pangan di daerah.
Transformasi Industri Garam Nasional
Di sektor garam, ID FOOD melalui PT Garam menjalankan tiga proyek hilirisasi fase pertama sebagai bagian dari transformasi industri garam nasional. Ketiga proyek ini dirancang untuk meningkatkan kapasitas produksi sekaligus kualitas garam industri dalam negeri.
Proyek pertama adalah pembangunan Pabrik Garam Industri berteknologi Mechanical Vapor Recompression (MVR) di Manyar, Gresik. Pabrik ini dibangun bekerja sama dengan emiten konsumer PT Unilever Indonesia Tbk. (UNVR), dengan tujuan mendukung kebutuhan garam industri berkualitas tinggi.
Selain itu, terdapat pembangunan Pabrik Garam Olahan Segoromadu 2 yang juga berlokasi di Gresik. Proyek ini diharapkan mampu memperkuat pasokan garam olahan untuk kebutuhan industri pangan nasional.
Proyek ketiga adalah pembangunan pabrik garam industri MVR di Sampang, Jawa Timur, yang dikembangkan bersama PT SCC Chemical Engineering Indonesia. Ketiga fasilitas tersebut dirancang memiliki total kapasitas produksi sekitar 380.000 ton per tahun.
Dampak Ekonomi dan Penguatan Industri Nasional
Keberadaan fasilitas hilirisasi pangan dan industri garam ini diharapkan mampu memberikan kontribusi signifikan terhadap perekonomian nasional. Secara keseluruhan, enam proyek hilirisasi fase pertama diperkirakan dapat menyerap lebih dari 6.000 tenaga kerja langsung.
Selain menciptakan lapangan kerja, proyek-proyek tersebut juga diproyeksikan mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan melalui peningkatan nilai tambah dan penguatan struktur industri nasional. Dengan pengelolaan yang terintegrasi, hilirisasi diharapkan mampu mengurangi ketergantungan impor secara bertahap.
Proyek-proyek ini dikelola secara lintas sektor, mencakup energi, pangan, mineral, serta logam. Pendekatan tersebut menjadi fondasi penting dalam membangun industri nasional yang lebih mandiri dan kompetitif, sekaligus memperkuat posisi Indonesia dalam rantai nilai global.