JAKARTA - Dalam pertemuan yang berlangsung di Istana Merdeka, Jakarta, Presiden Prabowo Subianto memberikan penjelasan mendalam mengenai kebijakan luar negeri Indonesia, khususnya terkait keputusan negara bergabung dengan Board of Peace (BoP) yang bertujuan untuk menyelesaikan konflik Palestina.
Pertemuan tersebut dihadiri oleh berbagai tokoh diplomasi, akademisi, praktisi, serta anggota Komisi I DPR RI yang ingin memahami lebih jauh mengenai arah diplomasi Indonesia dalam isu ini.
Salah satu tokoh yang memberikan pandangannya adalah mantan Wakil Menteri Luar Negeri, Dino Patti Djalal. Dino mengapresiasi pendekatan yang diambil oleh Prabowo dalam menyikapi keikutsertaan Indonesia dalam BoP.
Menurutnya, Presiden Prabowo menunjukkan sikap yang realistis dalam menghadapi keputusan besar ini, dengan mempertimbangkan baik potensi manfaat maupun risiko yang terkait dengan keterlibatan Indonesia dalam upaya penyelesaian konflik Palestina.
Pendekatan Realistis Prabowo dalam Diplomasi Palestina
Dino Patti Djalal menilai bahwa BoP saat ini merupakan satu-satunya opsi yang ada di meja untuk menyelesaikan konflik yang telah berlangsung lama di Palestina.
“Kesan saya adalah beliau Presiden Prabowo mempunyai pendekatan yang realistis mengenai ini. Realistis dalam arti apa? Sekarang ini memang satu-satunya opsi di atas meja adalah Board of Peace, tidak ada opsi lain,” ungkap Dino.
Keikutsertaan Indonesia dalam BoP, menurut Dino, bukanlah langkah yang diambil secara gegabah atau tanpa pertimbangan matang. Sebaliknya, ia menilai bahwa langkah ini adalah sebuah upaya untuk mencari jalan keluar dari situasi yang sangat kompleks, meski penuh dengan ketidakpastian dan risiko geopolitik.
“Board of Peace bukanlah solusi instan. Ini adalah sebuah upaya yang sarat dengan risiko dan ketidakpastian,” tambah Dino.
Namun, dalam pandangannya, Prabowo memahami sepenuhnya tantangan dan potensi risiko tersebut, dan memiliki pendekatan yang hati-hati untuk mengelola keterlibatan Indonesia.
“Intinya adalah suatu eksperimen dan bukan obat yang ampuh yang bisa menyembuhkan segala penyakit. Dan saya melihat beliau realistis mengenai hal ini,” jelas Dino lebih lanjut.
Keberlanjutan Keterlibatan Indonesia dalam BoP
Salah satu sikap yang diungkapkan oleh Prabowo dan diapresiasi oleh Dino adalah penekanan pada pentingnya menjaga prinsip dan kepentingan nasional Indonesia dalam setiap langkah yang diambil.
Dalam hal ini, Prabowo menegaskan bahwa Indonesia berpegang teguh pada prinsip kehati-hatian, serta kesiapan untuk menarik diri dari BoP apabila kebijakan yang diambil oleh forum ini bertentangan dengan nilai-nilai dasar Indonesia.
“Yang saya paling suka adalah bahwa kita masuk dengan hati-hati dan terus berpegang pada opsi untuk bisa keluar kalau ini bertentangan dengan prinsip kita dan kepentingan kita,” ungkap Dino.
Pernyataan ini menunjukkan bahwa meski Indonesia bergabung dalam BoP, negara ini tetap menjaga kedaulatan dan prinsip diplomatik yang sudah lama dijunjung tinggi, terutama terkait dengan perjuangan Palestina dan upaya penyelesaian yang adil.
Keputusan untuk tetap bersikap terbuka terhadap kemungkinan keluar dari BoP jika tidak sejalan dengan tujuan Indonesia memperlihatkan komitmen untuk selalu menjaga kepentingan nasional.
Selain itu, pendekatan ini memberikan ruang bagi Indonesia untuk mengevaluasi kembali keterlibatannya dalam forum tersebut secara lebih fleksibel.
Konsultasi dengan Negara-negara Islam Sebelum Keputusan Bergabung
Mantan Menteri Luar Negeri, Hassan Wirajuda, juga turut berbicara mengenai proses konsultasi yang telah dilakukan sebelum keputusan Indonesia bergabung dengan BoP diambil.
Menurut Hassan, keikutsertaan Indonesia dalam BoP tidak datang begitu saja, melainkan merupakan hasil dari dialog yang intens dengan negara-negara berpenduduk mayoritas Muslim.
Hassan menegaskan bahwa Indonesia bergabung dalam BoP setelah melalui dua rangkaian konsultasi dengan negara-negara Islam. Ia menyebutkan bahwa negara-negara ini memainkan peran penting dalam menjaga agar keputusan yang diambil tetap berada di jalur yang sesuai dengan tujuan kemanusiaan dan keadilan.
“Delapan negara tersebut dapat berperan sebagai kekuatan penyeimbang dalam pengambilan keputusan di dalam Board of Peace,” ujar Hassan.
Proses konsultasi ini, menurut Hassan, penting agar Indonesia tetap memiliki posisi yang jelas dan dihormati dalam forum internasional tersebut. Ia menambahkan bahwa penyelesaian konflik tidak harus selalu berada dalam kerangka Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), dengan memberikan contoh berbagai pendekatan diplomasi internasional yang pernah ada di masa lalu.
"Dengan kata lain, kita tidak perlu apriori. Ada proses di luar kerangka PBB dan itu tidak perlu ditafsirkan secara negatif. Sepanjang itu menghasilkan perdamaian," tambahnya.
Meningkatkan Pemahaman tentang Board of Peace
Pertemuan yang diadakan dengan Presiden Prabowo ini juga bertujuan untuk memberikan pemahaman yang lebih utuh kepada para tokoh diplomasi dan anggota DPR tentang posisi Indonesia dalam Board of Peace.
Prabowo memberikan penjelasan menyeluruh mengenai BoP, serta menjelaskan bagaimana forum ini akan berfungsi dalam menyelesaikan konflik Palestina.
Salah satu hal yang disoroti dalam pertemuan tersebut adalah pemahaman mengenai ruang kedaulatan Indonesia dalam menentukan langkah selanjutnya dalam BoP. Hassan Wirajuda menyatakan bahwa keikutsertaan Indonesia dalam forum ini tidak mengurangi kedaulatan Indonesia untuk menentukan keberlanjutan keterlibatannya.
"Indonesia memiliki ruang kedaulatan untuk menentukan apakah keterlibatan kita akan terus berlanjut atau tidak," kata Hassan.
Dengan memberikan penjelasan yang jelas dan terbuka, Prabowo berharap dapat memastikan bahwa masyarakat, khususnya para diplomat dan anggota parlemen, memahami dengan baik langkah yang diambil oleh pemerintah Indonesia. Ini juga bertujuan untuk menghindari potensi kesalahpahaman yang bisa muncul terkait keputusan besar yang melibatkan kepentingan internasional.
Keputusan Indonesia untuk bergabung dalam Board of Peace adalah langkah strategis yang sarat dengan tantangan, namun juga memberikan peluang untuk berkontribusi dalam penyelesaian konflik Palestina secara lebih konstruktif.
Dengan pendekatan hati-hati dan realistis yang diterapkan oleh Presiden Prabowo, Indonesia terus memperjuangkan prinsip-prinsip dasar yang selama ini dijunjung tinggi dalam kebijakan luar negeri.