JAKARTA - Dalam beberapa tahun terakhir, banyak bank menghadapi tantangan dalam mencapai target pertumbuhan pendapatan bunga (interest income) seiring dengan lesunya penyaluran kredit.
Meskipun demikian, sektor perbankan menunjukkan ketahanan yang luar biasa dengan mengandalkan pendapatan non-bunga atau fee-based income yang terus mencatatkan kenaikan signifikan.
Hal ini menunjukkan bahwa bank mulai berfokus pada diversifikasi sumber pendapatan untuk mengurangi ketergantungan pada bunga kredit, yang kini menjadi semakin terbatas.
Pada tahun 2025, kinerja pendapatan non-bunga tumbuh pesat, mengungguli pendapatan bunga di banyak bank besar. Meskipun pendapatan bunga tetap menjadi salah satu komponen penting dalam struktur pendapatan bank, kontribusi fee-based income kini semakin dominan.
Fenomena ini mengindikasikan pergeseran strategi dalam menghadapi dinamika ekonomi yang mempengaruhi penyaluran kredit.
Strategi Bank Besar dalam Memaksimalkan Pendapatan Non-Bunga
Sejumlah bank besar yang telah merilis laporan keuangan mereka untuk tahun 2025 menunjukkan tren yang serupa, yaitu pendapatan non-bunga mengalami pertumbuhan yang lebih tinggi dibandingkan pendapatan bunga. Salah satu contohnya adalah Bank Negara Indonesia (BNI), yang hingga akhir tahun 2025 mencatatkan pendapatan bunga sebesar Rp 69,39 triliun, tumbuh 4,2% secara tahunan.
Namun, pendapatan non-bunga BNI tercatat tumbuh jauh lebih signifikan, yaitu sebesar 11,1% yoy, meskipun secara nominal masih lebih kecil, yaitu Rp 18,46 triliun.
Beralih ke bank lain seperti OCBC NISP, mereka bahkan mencatatkan lonjakan luar biasa pada pendapatan non-bunga mereka, yang meningkat lebih dari dua kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya.
Pada akhir tahun 2025, pendapatan non-bunga OCBC NISP tercatat Rp 2,14 triliun, berbanding jauh dengan pendapatan bunga yang hanya tumbuh sebesar 0,84% yoy, mencapai Rp 18,93 triliun.
Hal ini menunjukkan betapa pentingnya fee-based income dalam mendongkrak kinerja keuangan bank di tengah kondisi yang penuh tantangan.
Inovasi Layanan Digital sebagai Katalisator Pertumbuhan Fee-Based Income
Salah satu faktor yang mendukung peningkatan pendapatan non-bunga adalah semakin berkembangnya layanan perbankan digital yang semakin diminati oleh nasabah.
Bank Central Asia (BCA) misalnya, yang mencatatkan pertumbuhan luar biasa pada pendapatan non-bunganya, yaitu sebesar 15,81% yoy, mencapai Rp 25,56 triliun pada akhir 2025.
EVP Corporate Communication & Social Responsibility BCA, Hera F. Heryn, menjelaskan bahwa pertumbuhan signifikan ini banyak ditopang oleh pendapatan berbasis komisi yang tumbuh 10,7% yoy, seiring dengan meningkatnya frekuensi transaksi nasabah.
Peningkatan transaksi digital menjadi salah satu pendorong utama. BCA mencatatkan kenaikan 17% yoy dalam frekuensi transaksi, dengan hampir 42 miliar transaksi dilakukan sepanjang tahun 2025. Hera menambahkan bahwa puncak transaksi BCA bahkan sempat mencapai hampir 300 juta transaksi dalam satu hari.
"Dengan pengembangan platform transaksi digital yang semakin relevan, kami terus berusaha memenuhi kebutuhan nasabah dan menjaga basis nasabah yang semakin berkembang," ujar Hera.
Kontribusi sektor digital dalam mendorong pertumbuhan pendapatan non-bunga di BCA ini menunjukkan betapa pentingnya peran teknologi dalam meraih pertumbuhan yang berkelanjutan, serta semakin pentingnya pelayanan berbasis digital dalam memenuhi kebutuhan nasabah masa kini.
Transformasi Ekosistem Digital yang Mendorong Pertumbuhan Fee-Based Income
Selain BCA, Bank Tabungan Negara (BTN) juga menunjukkan tren yang serupa, di mana pendapatan non-bunganya mengalami pertumbuhan yang lebih pesat dibandingkan dengan pendapatan bunga. Direktur Komersial BTN, Hermita, mengungkapkan bahwa fee-based income saat ini menjadi pilar penting dalam kinerja bank.
"Kami sangat fokus pada fee-based income, baik dari biaya administrasi, trade finance, hingga treasury. Semua sektor sekarang mengutamakan pendapatan berbasis komisi ini," ujar Hermita.
BTN berkomitmen untuk mengoptimalkan transaksi nasabah melalui ekosistem digital yang terus diperkuat. Hal ini terlihat dari upaya bank dalam mendorong nasabah agar lebih aktif bertransaksi secara digital, baik dalam bentuk mobile banking maupun internet banking.
"Kami fokus untuk menggiring nasabah agar semakin banyak bertransaksi, terutama melalui digital. Ini adalah bagian dari strategi kami untuk mengembangkan ekosistem digital secara lebih luas," tambah Hermita.
Melalui transformasi digital yang terus ditingkatkan, BTN berhasil meraih pertumbuhan pendapatan non-bunga yang lebih tinggi daripada pendapatan bunga, mencerminkan pentingnya sektor ini dalam menunjang pendapatan bank.
Inovasi dalam layanan digital tidak hanya berfungsi untuk meningkatkan kepuasan nasabah, tetapi juga memperluas basis nasabah serta mendorong peningkatan frekuensi transaksi yang menjadi sumber pendapatan baru bagi bank.
Peran Fee-Based Income dalam Mengurangi Ketergantungan pada Pendapatan Bunga
Dengan meningkatnya ketidakpastian ekonomi global, serta kondisi suku bunga yang lebih fluktuatif, bank-bank besar di Indonesia mulai mencari alternatif untuk mengurangi ketergantungan mereka pada pendapatan bunga.
Salah satu strategi yang paling efektif adalah melalui peningkatan fee-based income, yang lebih stabil dan dapat terus berkembang seiring dengan peningkatan transaksi dan adopsi digital.
Pendapatan berbasis komisi ini memberikan bank fleksibilitas yang lebih besar untuk mengelola risiko dan memperoleh pendapatan yang lebih berkelanjutan. Terlebih lagi, perkembangan pesat layanan digital semakin memperluas cakupan transaksi, yang tentunya berperan besar dalam menggenjot pertumbuhan pendapatan non-bunga.
Dengan begitu, bank dapat mempertahankan kinerja keuangan yang sehat meskipun terjadi penurunan pendapatan bunga akibat kondisi ekonomi yang menantang.