Danantara

Danantara Bangun Pabrik Slab Krakatau Steel Tekan Impor Baja

Danantara Bangun Pabrik Slab Krakatau Steel Tekan Impor Baja
Danantara Bangun Pabrik Slab Krakatau Steel Tekan Impor Baja

JAKARTA - Upaya memperkuat fondasi industri nasional kembali ditegaskan melalui langkah strategis di sektor baja. 

Danantara Indonesia mengambil peran penting dalam mendorong kemandirian industri baja nasional dengan memulai pembangunan pabrik slab milik PT Krakatau Steel (Persero) Tbk. (KRAS) di Cilegon, Banten.

 Proyek ini diproyeksikan menjadi titik balik bagi industri baja domestik yang selama ini masih bergantung pada impor bahan baku.

Pabrik slab tersebut dirancang memiliki kapasitas produksi hingga 3 juta ton per tahun. Kehadirannya diharapkan mampu mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap slab impor sekaligus memperkuat struktur industri baja dari sisi hulu. 

Langkah ini juga menegaskan keseriusan Danantara dalam mengoptimalkan aset dan BUMN strategis guna menopang pertumbuhan ekonomi berbasis industri.

Strategi Danantara Perkuat Industri Baja Hulu

Chief Operating Officer Danantara Indonesia, Dony Oskaria, menegaskan bahwa pembangunan pabrik slab ini merupakan inisiatif mandiri Danantara melalui Krakatau Steel. Proyek tersebut tidak melibatkan investasi bersama dengan mitra luar, melainkan murni dijalankan sebagai strategi penguatan industri nasional.

Menurut Dony, selama ini slab sebagai bahan baku utama industri baja masih didominasi produk impor. Kondisi tersebut membuat industri dalam negeri rentan terhadap fluktuasi harga global dan tekanan pasokan. 

Dengan membangun pabrik slab sendiri, Danantara ingin memutus ketergantungan tersebut dan menciptakan ekosistem industri baja yang lebih mandiri dan berkelanjutan.

“Kami mulai main lagi di upstream. Kami melakukan groundbreaking untuk pembangunan pabrik slab kita sendiri, sekarang kan slab masih impor. Nanti kita punya pabrik slab-nya sendiri,” ujar Dony.

Langkah masuk kembali ke sektor hulu ini menjadi bagian dari strategi jangka panjang Danantara untuk memperkuat rantai pasok industri baja nasional, sekaligus menciptakan nilai tambah yang lebih besar di dalam negeri.

Momentum Kebangkitan Krakatau Steel

Pembangunan pabrik slab ini juga menjadi momentum penting bagi Krakatau Steel yang dinilai mulai menunjukkan perbaikan signifikan dari sisi keuangan. Setelah dilakukan intervensi dan penyehatan oleh Danantara, kondisi keuangan perseroan dinilai semakin solid dan siap kembali ekspansif.

Dony menyampaikan bahwa berbagai langkah perapihan telah dilakukan, mulai dari restrukturisasi keuangan hingga optimalisasi model bisnis. Dengan fondasi yang lebih sehat, Krakatau Steel kini dinilai siap kembali bermain di sektor hulu industri baja yang sebelumnya ditinggalkan.

“Krakatau Steel memang kita sedang melakukan penyehatan, sekarang kondisi keuangannya sudah mulai sehat, sudah kami rapikan. Kami mulai main lagi di upstream-nya, membangun pabrik slab,” pungkas Dony.

Slab sendiri merupakan produk baja setengah jadi berbentuk lempengan datar dan persegi panjang yang dihasilkan dari baja cair. Produk ini menjadi bahan baku utama dalam proses penggulungan baja menjadi pelat, gulungan, dan lembaran baja yang digunakan di berbagai sektor industri, mulai dari konstruksi hingga manufaktur.

Dengan penguasaan produksi slab di dalam negeri, Krakatau Steel diharapkan dapat meningkatkan efisiensi operasional sekaligus memperkuat daya saing produk baja nasional di tengah gempuran produk impor.

Integrasi Hulu Hingga Hilir Jadi Fokus

Lebih jauh, Dony menegaskan bahwa Danantara tidak hanya fokus pada pembangunan pabrik slab semata, tetapi juga pada pengembangan industri baja yang terintegrasi dari hulu hingga hilir. Strategi ini dinilai krusial untuk menciptakan industri baja yang kuat, efisien, dan berdaya saing global.

Pengembangan sektor upstream akan memastikan ketersediaan bahan baku, sementara penguatan downstream akan mendorong peningkatan nilai tambah dan penyerapan produk baja dalam negeri. Pendekatan terintegrasi ini sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto yang menekankan pentingnya industrialisasi sebagai basis pertumbuhan ekonomi nasional.

Menurut Dony, Indonesia tidak bisa terus bergantung pada ekspor sumber daya alam mentah. Industri pengolahan dan manufaktur harus menjadi motor utama pertumbuhan ekonomi ke depan, termasuk di sektor baja yang memiliki peran strategis bagi pembangunan nasional.

Dengan dukungan kebijakan dan pengelolaan BUMN yang lebih profesional, Danantara optimistis industri baja nasional dapat bangkit dan menjadi pilar penting ekonomi Indonesia.

Hilirisasi Dan Target Negara Industri

Dalam perkembangan lain, Danantara juga tengah menyiapkan langkah besar di sektor hilirisasi. Pekan depan, tepatnya 13 Februari 2026. Danantara berencana melaksanakan peletakan batu pertama secara serentak untuk enam proyek hilirisasi strategis.

Proyek-proyek tersebut merupakan bagian dari total 18 proyek hilirisasi yang dikawal Danantara. Tujuannya adalah menggeser basis pertumbuhan ekonomi Indonesia dari ketergantungan pada sumber daya alam mentah menuju negara berbasis industri.

Dony mengungkapkan bahwa proyek hilirisasi yang akan segera dimulai mencakup sektor industri baja, aluminium, hingga energi hijau. Langkah ini menjadi sinyal kuat bahwa Indonesia tengah memasuki fase baru pembangunan ekonomi yang lebih berorientasi pada industrialisasi dan nilai tambah.

“Minggu depan, kurang lebih hari Jumat, kami akan melakukan 6 groundbreaking. Ini artinya Indonesia sudah siap menjadi negara berbasis industri,” pungkas Dony yang juga menjabat sebagai Kepala BP BUMN.

Dengan pembangunan pabrik slab Krakatau Steel dan percepatan proyek hilirisasi strategis, Danantara menegaskan perannya sebagai penggerak utama transformasi ekonomi nasional menuju industri yang mandiri, terintegrasi, dan berdaya saing global.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index