BATAM - Pembangunan infrastruktur di Batam pada 2026 tidak hanya berfokus pada pembukaan akses jalan baru maupun proyek bernilai besar. Di tengah derasnya arus investasi, Badan Pengusahaan (BP) Batam tetap dihadapkan pada kendala yang bersentuhan langsung dengan aktivitas harian warga, mulai dari cakupan air yang belum merata, titik genangan yang berulang, kemacetan lalu lintas, hingga penataan visual kota yang belum optimal.
Badan Pengusahaan Batam merangkum sederet permasalahan tersebut ke dalam skema pembangunan infrastruktur tahun 2026. Terdapat empat isu utama yang menjadi prioritas, yakni pemenuhan air bersih, penanganan banjir, penguraian kemacetan, serta penataan estetika kawasan kota.
Deputi Bidang Infrastruktur BP Batam, Mouris Limanto, menyatakan bahwa arah pembangunan infrastruktur difungsikan untuk dua sasaran sekaligus, yaitu menyokong pertumbuhan ekonomi serta investasi, sekaligus menaikkan taraf hidup warga.
“Investasi masuk, biaya logistik turun, lapangan kerja tumbuh. Dari sisi masyarakat, layanan harus andal, mobilitas lancar, dan kota semakin nyaman,” kata Mouris saat memaparkan perkembangan invastruktur di Gedung BP Batam, Rabu (26/8) siang.
Ia menambahkan bahwa pengerjaan proyek tidak cuma menyasar fasilitas jalan, melainkan mencakup utilitas, pelabuhan, bandara, jaringan drainase, hingga sistem penyediaan air minum.
“Kami juga fokus terhadap akses jalan, utilitas jalan, pelabuhan dan bandara. Kami juga fokus pada penanganan banjir,” ujarnya.
Mengenai fasilitas air bersih, BP Batam mencatat ada 18 stress area pada Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) yang memerlukan perbaikan mendesak.
Dari jumlah tersebut, 11 wilayah telah berhasil ditangani, sedangkan tujuh area sisanya masih membutuhkan pengerjaan fisik serta penanganan lanjutan.
Beberapa proyek disiapkan demi memperkuat jaringan, seperti pendirian Instalasi Pengolahan Air (IPA) berkapasitas 50 liter per detik di Sei Ladi, pemasangan jaringan distribusi Piayu, jalur Central Sukajadi-Awal Bros/M3G, jalur Simpang Jam-Tangki Ozon-Bukit Senyum, Sei Tamiang, Bhayangkara, hingga kawasan Aviary.
Selain itu, dilakukan pula pembenahan jetty pada intake yang menghubungkan Waduk Duriangkang dan Muka Kuning. Pengerjaan delapan paket proyek tersebut terbagi menjadi lima paket multiyears dan tiga paket single year.
Langkah ini tidak sekadar berfokus menambah volume produksi air, tetapi juga bertujuan memperluas jangkauan distribusi, meratakan pelayanan di wilayah prioritas, serta membenahi infrastruktur penunjang intake agar aliran air sampai ke rumah warga tanpa kendala.
Terkait permasalahan banjir, survei BP Batam mendata terdapat 133 titik genangan prioritas. Dari pemetaan itu, 19 titik ditangani langsung oleh BP Batam, enam titik dikerjakan bersinergi dengan Pemerintah Kota Batam, dan 108 titik sisanya menjadi tanggung jawab Pemko Batam. Pada 2026, BP Batam menargetkan penuntasan genangan di 25 titik.
Langkah penanganan mencakup peningkatan daya tampung drainase, pembuatan saluran pembuangan dan bangunan pelintas, pemeliharaan serta normalisasi aliran, hingga pengendalian banjir di kawasan vital.
Sejumlah lokasi pengerjaan meliputi Melcem Batu Ampar, Simpang Kabil, area Cendana-KDA, Green Nongsa Batu Besar, Kampung Belian, Sei Binti, Sei Lekop, Tiban, Sagulung, serta beberapa kawasan industri.
Pekerjaan juga mencakup pembenahan jembatan yang terhubung dengan sistem saluran air. Mouris menegaskan bahwa seluruh pengerjaan fisik dipastikan berjalan terus-menerus. “Kami kerja tidak ada tanggal merah, kerja siang malam,” katanya.
Mengenai kemacetan lalu lintas, BP Batam memetakan 13 titik rawan kemacetan. Sebanyak 10 pengerjaan sudah masuk tahap penanganan, dengan rincian enam proyek tahap konstruksi 2025-2026, satu proyek memiliki Detail Engineering Design (DED), dan tiga lainnya masih penyusunan DED pada 2026.
Adapun tiga ruas yang belum tersentuh penanganan adalah Jalan Bunga Raya, Jalan Punggowo dari Simpang Kara menuju Simpang SMKN 2, serta Jalan Sungai Panas dari Simpang Gogo Bengkong menuju Simpang Bengkong Harapan.
Ruas jalan lain yang sudah atau sedang dibangun di antaranya Jalan Ahmad Yani, Jalan Letjend Soeprapto, Jalan Gadjah Mada, Jalan Tengku Sulung, dan Jalan Golden Prawn Bengkong.
Untuk agenda 2026, BP Batam menyiapkan dua paket multiyears, yakni pelebaran Jalan Gajah Mada dari Landing Point Fly Over sampai Simpang Laluan Madani (2025-2027), serta peningkatan Jalan R. Suprapto ruas Simpang Batamindo-Dam Mukakuning (2025-2026).
Langkah penataan wajah kota juga mendapat porsi perhatian melalui 12 agenda kegiatan yang berfokus pada fasilitas pedestrian, taman, penghijauan, penerangan jalan, marka, hingga sarana publik.
Lima paket pengerjaan dialokasikan pada 2026, salah satunya pengadaan lampu penerangan jalan secara multiyears 2026-2027.
BP Batam turut merencanakan pembuatan serta revitalisasi pedestrian Jalan Bunga Raya hingga kawasan BCS, pembenahan taman dan penghijauan aset, serta pemeliharaan lanskap di wilayah kerja KPBPB Batam. Target 2026 mencakup penataan sembilan koridor pedestrian, dua lanskap taman, serta satu paket instalasi lampu jalan.
Di luar empat prioritas utama tersebut, BP Batam menyiapkan 19 paket pembangunan pendukung investasi yang terbagi dalam tiga klaster utama:
- Klaster konektivitas dan logistik (9 paket): mencakup akses kargo Bandara Hang Nadim, Jalan Kartini, Jalan Pasir Panjang, Jalan Belongkeng, Jalan Dapur 3, peningkatan Jalan Hang Tuah, revitalisasi sarana Sekupang, serta jalan kawasan industri Tanjung Gundap dan Kabil.
- Klaster utilitas dan ketahanan kawasan (4 paket): mencakup dinding penahan tanah Wisma Batam, IPAL domestik KPLI-B3, hidran kawasan KPLI-B3 Kabil, serta normalisasi drainase industri.
- Klaster kawasan Rempang (6 paket): mencakup pembangunan dinding batu mining reservoir dan kavling Tanjung Banun, kantor camat, kantor lurah, Markas Koramil, masjid, serta kantor Polsek.
“Pembangunan agar masyarakat yang direlokasi mendapatkan fasilitas yang layak,” kata Direktur Pembangunan Infrastruktur BP Batam Fesly Abadi Paranoan.
Sebanyak 15 dari 19 paket tersebut menggunakan skema multiyears dan empat paket memakai single year. BP Batam juga menyusun perencanaan tahap berikutnya yang meliputi jaringan perimeter dan fasilitas kargo Bandara Hang Nadim, Jalan Sei Lekop beserta drainase industri Kabil, sistem Sea Water Reverse Osmosis (SWRO) di Nongsa, Kabil, dan Batu Ampar, hingga sarana penunjang pelabuhan.