AMBON - TNI membangun delapan jembatan penghubung antardesa di Kabupaten Buru dan Buru Selatan, Maluku, guna memperlancar mobilitas masyarakat sekaligus membuka akses transportasi di wilayah yang sebelumnya sulit dijangkau. Pembangunan jembatan tersebut merupakan bagian dari Program Karya Bakti (Karbak) Skala Besar TNI AD Tahun 2026 untuk memperkuat konektivitas dan mendukung aktivitas masyarakat di wilayah kepulauan.
"Kegiatan pembangunan jembatan ini merupakan program dari Presiden RI Bapak Prabowo Subianto melalui perintah Bapak KSAD. Alhamdulillah semuanya sudah selesai dan saya langsung melihat secara fisik," kata dia. Pembangunan infrastruktur tersebut diarahkan untuk menjawab keterbatasan akses transportasi masyarakat antardesa. Sebelum tersedia jembatan, perjalanan dari satu wilayah ke wilayah lainnya bahkan dapat membutuhkan waktu hingga lima jam.
Dengan adanya jembatan, waktu tempuh masyarakat kini dapat dipangkas menjadi sekitar satu jam sehingga aktivitas ekonomi, distribusi hasil pertanian, serta akses warga terhadap fasilitas pendidikan dan pelayanan lainnya menjadi lebih mudah. "Dengan adanya jembatan ini, tentunya mobilitas masyarakat akan lebih mudah, termasuk untuk mendukung pertumbuhan ekonomi dan akses pendidikan," ujarnya.
Delapan jembatan tersebut tersebar di dua kabupaten. Enam jembatan dibangun di Kabupaten Buru, yakni dua titik di Desa Waeleman serta masing-masing satu titik di Desa Waeflan, Wabloy, Kaki Air, dan Namlea Ilath. Sementara itu, dua jembatan lainnya dibangun di Kabupaten Buru Selatan, masing-masing satu titik di Desa Hote dan Desa Wailikut.
Pembangunan melibatkan personel Kodim 1506/Namlea dan Yonif TP 821/Satria Bupolo bersama pemerintah daerah serta masyarakat melalui Satgas Karbak Skala Besar TNI AD Tahun 2026 yang dikomandoi Dandim 1506/Namlea. Pembangunan jembatan menjadi salah satu bagian dari dukungan TNI terhadap percepatan pembangunan di wilayah Maluku dan Maluku Utara.
Selain infrastruktur penghubung, program tersebut juga mencakup rehabilitasi fasilitas sekolah, pembangunan dan rehabilitasi rumah tidak layak huni, sumur bor dan MCK, perbaikan jalan, renovasi rumah ibadah, hingga pelayanan kesehatan masyarakat. Keberadaan infrastruktur dasar seperti jembatan dinilai memiliki dampak langsung terhadap aktivitas warga, terutama masyarakat desa yang selama ini menghadapi kendala akses dalam menjalankan kegiatan sehari-hari.
Masyarakat diimbau untuk ikut menjaga kondisi jembatan agar manfaatnya dapat dirasakan dalam jangka panjang. "Kami mengimbau masyarakat untuk menjaga dan merawat jembatan ini serta menggunakannya dengan sebaik-baiknya. Kalau ada kendala atau kerusakan, segera laporkan kepada aparat TNI setempat," katanya.
Apresiasi juga disampaikan kepada pemerintah daerah, perangkat desa, dan masyarakat yang terlibat aktif dalam proses pembangunan tersebut. Rampungnya delapan jembatan itu diharapkan tidak hanya memangkas waktu tempuh antardesa, tetapi juga memperlancar distribusi hasil pertanian, memperluas akses pendidikan, dan mendorong roda aktivitas ekonomi masyarakat di Pulau Buru dan Buru Selatan.