Bahaya Malware Baru, Peretas Manfaatkan BNB Chain dan CAPTCHA

Senin, 10 Agustus 2026 | 15:33:36 WIB
Ilustrasi Blockchain.(Sumber:NET)

JAKARTA - Peretas mulai memakai teknologi blockchain sebagai bagian dari strategi serangan siber paling baru.Berdasarkan laporan Microsoft Threat Intelligence, sejumlah situs web yang telah diretas dipakai untuk menyebarkan malware melalui smart contract di BNB Chain serta menipu pengguna dengan CAPTCHA palsu.

Serangan ini memakai teknik bernama EtherHiding, yaitu metode yang memungkinkan pelaku menyimpan instruksi berbahaya di dalam blockchain.Cara ini membuat infrastruktur serangan lebih sulit dihentikan karena data yang tersimpan di jaringan terdesentralisasi tidak mudah dihapus seperti server biasa.

Microsoft menjelaskan, pelaku menanamkan kode JavaScript berbahaya pada situs web yang telah dikompromikan.Kode tersebut kemudian terhubung ke gateway BNB Chain untuk mengambil perintah dari smart contract tertentu yang dikendalikan oleh peretas.

Berbeda dengan server konvensional yang dapat dinonaktifkan oleh penyedia layanan atau peneliti keamanan, smart contract di blockchain lebih sulit diturunkan karena hanya dapat diperbarui oleh pemilik wallet yang mengendalikannya.

CAPTCHA Palsu Arahkan Korban Jalankan Malware

Dalam serangan ini, korban yang mengakses situs web terinfeksi akan melihat tampilan CAPTCHA palsu yang dibuat menyerupai sistem verifikasi keamanan normal.

Namun, alih-alih meminta pengguna mencentang kotak atau memilih gambar, CAPTCHA tersebut justru meminta korban membuka fitur Windows Run, menempelkan teks yang telah tersimpan di clipboard, lalu menekan Enter.

Perintah tersebut kemudian menjalankan kode yang dibuat oleh pelaku untuk mengunduh dan memasang malware ke perangkat korban.

Metode ini dikenal sebagai ClickFix, yaitu teknik rekayasa sosial yang memanfaatkan tindakan pengguna sendiri agar malware dapat dijalankan.

Variasi lainnya, TerminalFix, mengarahkan pengguna untuk memasukkan perintah melalui Windows Terminal atau PowerShell.

“ClickFix dan TerminalFix menjadi teknik akses awal dengan volume tinggi. Microsoft menemukan kampanye yang menargetkan ribuan perangkat perusahaan dan konsumen setiap hari di seluruh dunia,” ungkap Microsoft Threat Intelligence.

Malware Bisa Curi Password hingga Ambil Alih Jaringan

Microsoft menyebut pelaku memanfaatkan berbagai alat bawaan Windows, seperti PowerShell, Command Prompt (cmd), mshta, rundll32, msiexec, curl, Windows Management Instrumentation (WMI), hingga scheduled tasks untuk menjalankan aktivitas berbahaya.

Jika berhasil menginfeksi perangkat, malware dapat mencuri berbagai informasi sensitif, termasuk kredensial login dan kata sandi pengguna.

Dalam serangan terhadap perusahaan, malware juga dapat memberikan akses jangka panjang kepada peretas untuk berpindah ke sistem lain dalam jaringan.

Serangan tersebut berpotensi berkembang menjadi ancaman yang lebih besar, seperti pencurian data, pengambilalihan sistem, hingga penyebaran ransomware.

Microsoft mengingatkan pengguna agar tidak pernah menyalin atau menjalankan perintah yang berasal dari CAPTCHA, notifikasi browser, email mencurigakan, iklan, maupun halaman dukungan palsu ke dalam Run, Terminal, PowerShell, atau Command Prompt.

Blockchain Jadi Infrastruktur Baru untuk Serangan Malware

Pemanfaatan blockchain dalam aktivitas malware bukanlah hal baru.Sifat blockchain yang terdesentralisasi justru dimanfaatkan pelaku untuk membuat infrastruktur serangan lebih tahan terhadap upaya pemblokiran.

Pada 2016, malware ransomware Cerber menggunakan transaksi Bitcoin untuk menemukan server command-and-control (C2).

Sementara itu, botnet Glupteba pada periode 2019 hingga 2021 memanfaatkan blockchain Bitcoin untuk mencari server cadangan ketika infrastruktur utamanya tidak dapat digunakan.

Kemudian pada September 2023, kampanye malware ClearFake mulai menggunakan teknik EtherHiding untuk mengambil kode berbahaya dari smart contract BNB Chain.

Pada 2026, peneliti juga menemukan malware Omnistealer yang memanfaatkan beberapa jaringan blockchain, termasuk TRON, Aptos, dan BNB Chain, untuk membantu mencuri kredensial, informasi akun cloud, kata sandi, hingga data wallet kripto.

Meski demikian, Microsoft menegaskan bahwa masalah ini bukan berasal dari BNB Chain secara khusus.Jaringan blockchain lain yang memiliki fitur smart contract juga dapat dimanfaatkan dengan metode serupa.

Untuk meningkatkan keamanan, Microsoft merekomendasikan perusahaan membatasi penggunaan alat berbasis perintah yang tidak diperlukan, mengaktifkan pencatatan aktivitas PowerShell, serta menerapkan kontrol aplikasi untuk mencegah eksekusi perangkat lunak berbahaya.

Terkini