Dedi Mulyadi Tanggung Biaya Berobat Korban Begal dan Kejahatan Jabar

Senin, 10 Agustus 2026 | 14:13:10 WIB
Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi. MI.(Sumber:NET)

BANDUNG - Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menegaskan Pemerintah Provinsi Jawa Barat siap menanggung seluruh ongkos medis para korban pembegalan.

Langkah tersebut menjadi bukti nyata kepedulian pemerintah daerah dalam memberikan perlindungan bagi masyarakat yang menjadi korban tindak kriminal jalanan.

Dedi menyampaikan bahwa Pemprov Jabar bakal menjamin seluruh pembiayaan perawatan medis bagi warga yang menjadi korban pembegalan, pencurian, perampokan, maupun tindakan kekerasan lainnya.

Kebijakan ini diambil karena para korban kejahatan kerap mengalami kesulitan finansial saat harus membayar tindakan medis.

"Rumah sakit tidak memberikan jaminan layanan kesehatan bagi mereka korban begal, korban pencurian, korban kekerasan, karena tidak ada asuransinya. BPJS-nya tidak mau bayar," kata Dedi di Bandung, Minggu, 9 Agustus 2026.

Oleh sebab itu, pihaknya berjanji akan langsung hadir mengatasi persoalan biaya perawatan para korban.

"Untuk itu saya tegaskan, Pemerintah Provinsi Jawa Barat akan membiayai pengobatan bagi siapapun korban kekerasan, korban penculikan, korban pembulian, korban pembegalan, korban perampokan," katanya.

Ia menambahi bahwa pemerintah daerah juga bakal mengambil alih penjaminan masa depan keluarga korban jika aksi kejahatan itu sampai merenggut nyawa tulang punggung keluarga.

"Apabila meninggal dan meninggalkan istri dan anak-anaknya, maka gubernur di Jawa Barat bertanggung jawab terhadap kehidupannya ke depan. Sekolah anak-anaknya, pembiayaan bagi keluarganya. Ini penting karena psikologinya," kata dia.

Di samping itu, Dedi menyebutkan bahwa ajang sayembara pemberantasan begal yang ia gagas bertujuan untuk mengikis rasa gentar warga atas kejahatan tersebut.

Pendekatan mental masyarakat dinilai sangat krusial dalam menuntaskan permasalahan aksi kriminalitas ini.

Penanganan kejahatan dinilainya tak memadai bila sekadar bergantung pada persenjataan lengkap atau penangkapan oleh pihak kepolisian, melainkan wajib diimbangi dengan perlawanan psikis dari warga.

Rasa takut warga atas aksi kriminal tak boleh dibiarkan begitu saja, lantaran sikap pembiaran malah membuka celah lebar bagi para penjahat untuk bertindak.

"Masa 100 orang membuat takut 100 ribu orang? Enggak bisa. Kami yang harus buat takut mereka. Ini perang psikologi, disebutnya perang asimetris," kata Dedi.

Sebab itu, Dedi menyatakan sayembara tersebut hadir sebagai tindakan konkrit dalam membakar keberanian publik.

Hal ini krusial supaya warga tak lagi merasa terancam oleh begal, melainkan para pembuat kejahatan itulah yang mesti merasa gentar saat hendak beraksi.

"Saya bikin sayembara untuk membangunkannya. Kami tidak boleh takut oleh begal, begal yang harus takut oleh kami," katanya.

Terkini