JAKARTA - Kementerian Pekerjaan Umum (PU) konsisten meneruskan proyek Jalan Trans Papua Ruas Jayapura–Wamena guna membuka keterisolasian daerah pegunungan, memperkuat konektivitas, serta memacu pemerataan pembangunan di Tanah Papua.
Menteri PU Dody Hanggodo menyebutkan bahwa pembangunan sarana jalan beserta jembatan menjadi fondasi utama dalam memperkokoh konektivitas antarpusat pertumbuhan ekonomi.
"Pengembangan jaringan jalan dan jembatan yang menghubungkan kota, pulau, hingga daerah tertinggal di seluruh Indonesia kami lakukan untuk membuka akses bagi investasi, mendukung kawasan industri, mendorong pertumbuhan sektor pariwisata, dan memperkuat konektivitas," kata Dody di Jakarta, Senin.
Lintasan Jayapura–Wamena Segmen Mamberamo–Elelim dirancang menjadi penghubung vital untuk memperlancar mobilitas warga, memangkas biaya logistik, sekaligus menekan harga kebutuhan pokok di Papua Pegunungan agar manfaatnya dapat dinikmati langsung oleh warga.
Saat ini pengerjaan tengah berfokus pada Segmen Mamberamo–Elelim sepanjang 50,14 km yang menautkan wilayah Provinsi Papua dengan Papua Pegunungan.
Keberadaannya diyakini mampu mempermudah akses anak-anak ke sekolah, mempercepat pendaftaran pasien ke fasilitas kesehatan, memperlancar jalannya roda pemerintahan, hingga mempercepat penyaluran kebutuhan bahan pokok.
Berkat konektivitas yang kian solid, biaya pengangkutan barang diproyeksikan merosot sehingga harga kebutuhan harian yang mulanya tinggi akibat hambatan transportasi dapat menjadi jauh lebih terjangkau.
Proyek Ruas Jayapura–Wamena Segmen Mamberamo–Elelim digarap mengandalkan skema Kerja Sama Pemerintah dengan Badan Usaha (KPBU) lewat mekanisme pembayaran ketersediaan layanan atau Availability Payment (AP).
Pengerjaan fisik ruas ini sudah dimulai sejak Juli 2024 dan diproyeksikan tuntas sepenuhnya pada November 2026.
Sampai pertengahan Juli 2026, capaian progres fisik konstruksinya sudah menyentuh angka 51,59 % yang mencakup pembukaan serta pembentukan badan jalan, perkerasan jalan, sistem drainase, jembatan, bangunan pelengkap, penataan tanah, pengamanan lereng, rambu jalan, hingga unit penimbangan kendaraan (UPPKB).
Proses pembangunan Ruas Jayapura–Wamena Segmen Mamberamo–Elelim ini memiliki tingkat kesulitan tersendiri jika disandingkan dengan kawasan lain di Indonesia.
Jalur ini membelah wilayah pegunungan bersudut tebing curam, hutan belantara, curah hujan tinggi sepanjang tahun, serta kerawanan bencana alam berupa tanah longsor.
Pengiriman alat-alat berat dan material bangunan pun membutuhkan durasi serta penanganan khusus mengingat terbatasnya jalur menuju titik pengerjaan.
Pembangunan Jalan Trans Papua ini turut memberikan dampak positif langsung kepada warga sekitar melalui penyerapan tenaga kerja lokal.
Hingga kini, tercatat ada 116 tenaga kerja lokal atau setara 28 % dari total pekerja proyek yang ikut berpartisipasi dalam pengerjaan konstruksi.
Pelibatan masyarakat sekitar menjadi wujud nyata dalam pemberdayaan ekonomi lokal sekaligus memastikan pembangunan sarana fisik menghadirkan manfaat sejak masa konstruksi berjalan.
Lewat percepatan Jalan Trans Papua, Kementerian PU tidak sekadar membangun sarana konektivitas, melainkan juga menghadirkan peluang seluas-luasnya bagi masyarakat Papua untuk mendapatkan layanan dasar, memantik iklim ekonomi, dan mendongkrak kesejahteraan.