Alasan Proyek Metanol JV Arutmin-KPC Pilih Bangun PLTU Mandiri

Jumat, 31 Juli 2026 | 15:32:22 WIB
Presiden Direktur PT Bumi Etam Chemical (BEC) Rio Supin.(Sumber:NET)

JAKARTA - PT Bumi Etam Chemical (BEC), yang merupakan perusahaan patungan antara PT Arutmin Indonesia dan PT Kaltim Prima Coal (KPC), berencana mendirikan pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) secara mandiri guna menopang proyek hilirisasi batu bara menjadi metanol.

Adapun proyek hilirisasi yang berlokasi di Kutai Timur, Kalimantan Timur tersebut juga bekerja sama dengan PT Istana Karang Laut (IKL) serta China National Chemical Engineering Co., Ltd. (CNCEC).

Presiden Direktur BEC, Rio Supin, menyampaikan bahwa penggunaan PLTU mandiri menjadi langkah yang paling rasional serta efisien untuk menunjang proyek tersebut.

"Karena kan kita hilirisasi batu bara. Jadi kalau misalnya [pembangkit listrik] yang nonbatu bara jadi enggak masuk secara secara dari awal basic kan yang mau dihilirisasi ini kan batu bara," ucap Rio ditemui di Jakarta, Rabu (29/7/2026).

Rio turut menjelaskan bahwa pemanfaatan uap (steam) secara langsung dari boiler akan berjalan jauh lebih efektif dibandingkan harus mengubah energi secara bertahap.

"Dan juga karena tadi butuh steam yang besar tadi. Kalau kami pakai analoginya, misalnya kami [pembangkit listrik tenaga] solar, terus listrik bikin [dipakai untuk] kompor listrik lagi, padahal yang kami butuh itu dari boiler ambil uapnya langsung. Jadi emang PLTU bangun sendiri," jelas Rio.

BEC baru saja merampungkan penandatanganan kontrak Front-End Engineering Design (FEED) dan Engineering, Procurement, Construction, and Commissioning (EPCC) Framework Agreement terkait pengembangan proyek hilirisasi batu bara menjadi metanol.

Proyek senilai US$2,3 miliar atau sekitar Rp41,54 triliun (dengan asumsi kurs Rp18.063 per US$) ini diproyeksikan mulai beroperasi secara penuh pada tahun 2030.

Untuk tahap awal, volume produksi dari proyek tersebut ditargetkan mencapai 2 juta ton metanol, dan akan ditingkatkan hingga maksimal 3,6 juta ton metanol pada fase berikutnya.

Rio menambahkan, proyek strategis nasional (PSN) ini menjadi bentuk pemenuhan kewajiban peningkatan nilai tambah batu bara bagi Arutmin dan KPC.

Proyek ini sekaligus mendukung program hilirisasi nasional melalui konversi batu bara menjadi metanol yang berperan sebagai bahan baku strategis bagi berbagai sektor, seperti petrokimia, manufaktur, energi, hingga industri turunannya.

Rio juga menegaskan bahwa pasokan metanol yang dihasilkan nantinya bakal diprioritaskan untuk memenuhi kebutuhan pasar dalam negeri.

Terlebih lagi, pemerintah saat ini tengah gencar mendorong penerapan program biodiesel B50.

"Jadi target utamanya adalah para domestik market. Jadi seperti itu. Nah, tinggal lihat siapa pengguna market, kan sekarang yang paling tinggi yang biodiesel kan. Jadi yang penghasil FAME-FAME [Fatty Acid Methyl Ester] itu ya kan target utamanya," jelas Rio.

Ia membeberkan data Badan Pusat Statistik (BPS) yang mencatat kebutuhan metanol nasional mencapai 1,9 juta ton pada 2025.

Dari total kebutuhan tersebut, sebanyak 68% atau sekitar 1,3 juta ton di antaranya masih dipenuhi melalui jalur impor.

Akibat ketergantungan impor tersebut, Indonesia harus mengeluarkan devisa sekitar US$400 juta per tahun atau setara Rp7,1 triliun.

"Di tahun 2026 ini dengan kondisi geopolitik perang di Timur Tengah, harga metanol naik secara signifikan sehingga kami perkirakan devisa kami yang keluar untuk impor metanol jauh lebih tinggi. Hal inilah yang mendasari pemilihan kami kepada produk metanol dibandingkan beberapa produk lain yang dapat dihasilkan dari gasifikasi batu bara ini," imbuh Rio.

Terkini