Vale Garap Proyek HPAL US$ 2 Miliar untuk Hilirisasi dan Ekonomi

Rabu, 29 Juli 2026 | 13:44:34 WIB
Ilustrasi smelter PT Vale Indonesia Tbk (INCO).(Sumber:NET)

JAKARTA - Hilirisasi nikel dinilai sanggup menciptakan nilai tambah bagi industri pertambangan sekaligus memperkuat ekonomi daerah melalui peningkatan aktivitas industri, penyerapan tenaga kerja, serta kesejahteraan masyarakat di sekitar area operasional.

Salah satu proyek yang menyita perhatian yaitu pembangunan fasilitas High Pressure Acid Leaching (HPAL) Sambalagi dengan investasi mencapai US$ 2 miliar di Morowali, Sulawesi Tengah, yang digarap oleh PT Vale Indonesia Tbk (INCO).

Pengerjaan proyek HPAL Sambalagi dipercayakan kepada PT Vale Indonesia Tbk, yang merupakan bagian dari Holding Industri Pertambangan Indonesia MIND ID.

Fasilitas ini menjadi bagian dari Indonesia Growth Project (IGP) Morowali yang resmi ditetapkan sebagai Proyek Strategis Nasional (PSN) guna mengakselerasi hilirisasi mineral di tanah air.

Pengamat lingkungan Irwan Ridwan menyebutkan bahwa proyek hilirisasi seperti HPAL pada dasarnya tak cuma berorientasi pada peningkatan kapasitas pengolahan mineral, melainkan dirancang untuk mendatangkan dampak ekonomi bagi warga sekitar.

Manfaat tersebut umumnya sudah masuk dalam pembahasan sejak tahap pra-studi kelayakan (Pra-FS) sampai studi kelayakan (FS).

“Seharusnya akan memberi pengaruh (positif) terhadap ekonomi lokal dan (peningkatan) kualitas sosial masyarakat dan ini sdh dibahas dalam Pra-FS dan FS suatu proyek investasi,” ungkap Irwan dikutip Selasa (28/7/2026).

Irwan berharap komitmen mendorong kesejahteraan warga tidak cuma berhenti di dokumen perencanaan investasi saja, melainkan benar-benar direalisasikan sewaktu proyek resmi beroperasi.

Proyek HPAL Sambalagi memakan nilai investasi sebesar US$ 2 miliar.Fasilitas ini diharapkan sanggup memperkuat rantai pasok industri kendaraan listrik (EV) lewat pengolahan bijih nikel menjadi bahan baku bernilai tambah tinggi untuk manufaktur baterai.

Sebagai bagian dari Grup MIND ID, proyek ini diproyeksikan memicu dampak ganda bagi perekonomian nasional, mulai dari kenaikan investasi, pembukaan lapangan kerja, hingga pemandirian usaha warga sekitar wilayah operasional di Sulawesi.

Wakil Gubernur Sulawesi Tengah Reny Arniwaty Lamadjido mengungkapkan bahwa pembangunan kawasan industri mestinya tak sekadar mengejar pertumbuhan ekonomi semata, namun juga mengangkat kualitas hidup warga lewat pendekatan yang inklusif.

“Kolaborasi yang memberi ruang bagi UMKM lokal serta keterbukaan terhadap fasilitas publik menjadi model pembangunan kawasan industri yang inklusif dan berkelanjutan bagi Sulawesi Tengah,” kata Reny.

Menurut pandangannya, pelibatan pelaku UMKM lokal dan penyiapan fasilitas umum menjadi langkah krusial agar imbas positif investasi dapat dinikmati secara lebih luas oleh masyarakat daerah.

Dampak positif dari pengembangan industri pengolahan mineral ini mulai terlihat pada kinerja ekonomi Sulawesi Tengah.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) provinsi tersebut melonjak 8,32% secara tahunan (yoy) pada Triwulan I-2026.

Ditinjau dari sisi produksi, sektor industri pengolahan tampil sebagai motor utama dengan pertumbuhan menyentuh 15,09%.

Capaian ini memperlihatkan bahwa aktivitas hilirisasi mulai menyokong struktur ekonomi daerah, sekaligus mengukuhkan posisi Sulawesi Tengah sebagai salah satu pusat industri pengolahan nikel nasional.

Terkini