JAKARTA – Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) gencar mengakselerasi pemerataan akses pendidikan lewat percepatan Program Revitalisasi Satuan Pendidikan di area terdepan, terluar, dan tertinggal (3T).
Langkah ini diambil pemerintah guna menjamin seluruh murid mendapatkan area belajar yang aman, nyaman, serta layak, tanpa terpengaruh lokasi hunian mereka.
Dalam pengerjaannya, pemerintah mendahulukan pembenahan sekolah-sekolah yang menderita kerusakan fisik, keterbatasan ruang kelas, hingga minimnya sarana pendukung belajar.
Nusa Tenggara Timur (NTT) menjadi salah satu wilayah prioritas pada 2026, di mana beberapa satuan pendidikan mulai menerima pembangunan dan perbaikan sarana prasarana.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah menegaskan bahwa pemerataan kualitas pendidikan tidak cukup hanya melalui penyediaan kurikulum dan tenaga pendidik.
Infrastruktur sekolah yang memadai juga menjadi faktor penting agar proses belajar mengajar dapat berlangsung secara optimal.
Dengan ruang kelas yang layak, fasilitas sanitasi yang baik, serta lingkungan belajar yang aman, siswa diharapkan dapat mengikuti pembelajaran dengan lebih nyaman dan produktif.
Selain merehabilitasi fisik sekolah, pemerintah turut memacu digitalisasi pembelajaran dan penguatan kompetensi pendidik.
Beragam program pelatihan terkait pembelajaran mendalam (deep learning), pemanfaatan teknologi, hingga pengenalan koding dan kecerdasan buatan (AI) mulai diperluas supaya guru di pelbagai daerah mempunyai peluang serupa dalam meningkatkan mutu pembelajaran.
Program revitalisasi ini memperoleh apresiasi dari pelbagai pihak lantaran dianggap sebagai aksi nyata untuk mengikis ketimpangan pendidikan antardaerah.
Selama ini, masih ada sekolah di daerah terpencil yang mengalami keterbatasan ruang kelas, koneksi internet, maupun sarana penunjang belajar lainnya.
Lewat pembenahan yang dikerjakan secara bertahap, mutu layanan pendidikan diharapkan mampu kian merata.
Pemerintah turut mengimbau pemerintah daerah, publik, dan pelbagai pemangku kepentingan untuk bergotong-royong merawat fasilitas pendidikan yang telah didirikan.
Sinergi tersebut dipandang krusial agar faedah revitalisasi bisa dirasakan dalam jangka panjang dan menopang peningkatan mutu pendidikan nasional.
Melalui akselerasi pembenahan satuan pendidikan di area 3T, pemerintah berharap tiada lagi anak Indonesia yang tertinggal semata-mata akibat keterbatasan sarana sekolah.
Langkah ini menjadi bagian dari komitmen mewujudkan pendidikan yang inklusif, bermutu, dan dapat diakses secara merata oleh seluruh murid di Indonesia.