Prabowo: RI Negara Pertama di Dunia yang Terapkan Biosolar B50

Jumat, 10 Juli 2026 | 13:31:30 WIB
Presiden Prabowo Subianto memberikan sambutan acara peluncuran biosolar B50 di Rest Area KM 57, Karawang, Jawa Barat.(FOTO:NET)

JAKARTA - Pemerintah secara resmi telah meluncurkan Biosolar B50 sebagai wujud nyata dari langkah diversifikasi energi sekaligus menekan ketergantungan pada bahan bakar fosil.

Kepala Negara Prabowo Subianto menyampaikan bahwa Indonesia menjadi negara pertama di tingkat global yang mengimplementasikan kebijakan B50 tersebut.

Prosesi peluncuran B50 dilaksanakan di Rest Area Km 57, Karawang, Jawa Barat (Jabar), pada Kamis (9/7/2026).

Dalam agenda tersebut, Prabowo tampak didampingi oleh Menko Perekonomian Airlangga Hartarto, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia, Mensesneg Prasetyo Hadi, Menteri Investasi dan Hilirisasi Rosan Roeslani, Menlu Sugiono, Seskab Teddy Indra Wijaya, beserta jajaran Kabinet Merah Putih lainnya.

Sebelum beranjak ke tempat peresmian, Prabowo menyempatkan diri untuk melakukan gallery walk terlebih dahulu.

Pada kesempatan itu, Prabowo mendengarkan paparan mendalam mengenai Biosolar B50, mulai dari unsur komposisi, alur produksi, hingga tahapan uji coba yang dipaparkan oleh Dirjen EBTKE Eniya Listiani Dewi.

RI Negara Pertama yang Terapkan B50

Lewat pidato sambutannya, Prabowo menegaskan posisi Indonesia sebagai pelopor yang mengaplikasikan campuran biodiesel sebanyak 50% ke dalam bahan bakar jenis solar.

Langkah strategis ini diambil guna mengurangi ketergantungan terhadap energi fosil.

"Dengan diluncurkan program ini Indonesia resmi menjadi negara pertama di dunia yang menerapkan mandatori biodisel B50," kata Prabowo.

Prabowo menilai pencapaian ini bukan sekadar urusan kemajuan teknologi semata.

Namun, hal ini sekaligus menjadi pembuktian nyata bahwa Indonesia sanggup mengoptimalkan kekayaan alamnya sendiri.

"Ini bukan sekadar pencapaian teknologi, ini adalah bukti bahwa Indonesia mampu memanfaatkan kekayaan alam sendiri untuk kepentingan rakyatnya sendiri. Ini adalah tonggak yang sangat penting dalam perjalanan menuju kemandirian energi," ujarnya.

Apa Itu Program B50?

Program B50 menetapkan kewajiban untuk mencampur biodiesel porsi 50% ke dalam bahan bakar minyak jenis solar.

Kebijakan ini menjadi salah satu program strategis dari pemerintah untuk menekan angka impor BBM, menaikkan nilai tambah dari komoditas alam nasional, sekaligus memperkokoh ketahanan sektor energi dan ekonomi.

Pihak pemerintah memandang bahwa implementasi B50 tidak hanya sebatas menaikkan persentase biodiesel dalam solar saja.

Lebih dari itu, program ini menjadi lompatan besar untuk memperkuat kemandirian, ketahanan, serta kedaulatan energi berskala nasional.

Berjalannya program tersebut berpedoman pada Peraturan Menteri ESDM Nomor 4 Tahun 2025 mengenai Pengusahaan dan Pemanfaatan Bahan Bakar Nabati serta Keputusan Menteri ESDM Nomor 257.K/EK.01/MEM.E/2026 terkait kewajiban pencampuran biodiesel sebesar 50% ke minyak solar.

Dalam masa peralihan ini, setiap badan usaha penyedia BBM diberikan tenggat waktu hingga 30 September 2026 untuk mengosongkan stok biodiesel dengan formulasi B40 sebelum beralih secara menyeluruh ke B50.

Sebelum resmi digulirkan secara nasional, formulasi B50 telah melewati serangkaian uji coba yang mendalam di enam sektor utama, meliputi otomotif, alat dan mesin pertanian, alat berat pertambangan, transportasi laut, pembangkit listrik, hingga moda transportasi kereta api.

Prabowo di Antara B50 dan Piala Dunia

Menilik kembali pada pidato sambutannya, mantan Menhan tersebut mengaku merasa risau lantaran Indonesia mampu mengeksekusi program B50 namun belum berhasil menembus ajang Piala Dunia.

Oleh karena itu, Prabowo menginstruksikan Menpora Erick Thohir untuk segera mengejar target panggung Piala Dunia tersebut.

Pada awalnya, Prabowo mengulas seputar target agar pihak PLN mampu membangun infrastruktur tenaga surya sebesar 100 gigawatt dalam kurun waktu dua tahun.

Prabowo kemudian melempar pertanyaan kepada Menteri Investasi dan Hilirisasi Rosan Roeslani mengenai peluang realisasi dari rencana besar tersebut.

"Tahun ini PLN akan mulai dengan 17 gigawatt tahun ini, 100 gigawatt dalam 2 tahun, bisa Pak Rosan?" kata Prabowo.

Prabowo selanjutnya mengonfirmasi hal serupa kepada Menteri ESDM Bahlil Lahadalia hingga Menko Perekonomian Airlangga Hartarto.

Ketiga menteri tersebut lantas menyatakan kesiapannya untuk memenuhi target yang diminta oleh Prabowo.

Prabowo kemudian menyebutkan bahwa kapasitas yang dimiliki Indonesia memang akan selalu mendapat cibiran, namun dirinya tidak terlalu ambil pusing akan hal tersebut.

"Kami akan dingenye, kami akan dihujat, pakar-pakar yang pintar akan bilang mana mungkin. Ya kan?" ujarnya.

Prabowo setelah itu menghubungkan kesuksesan program B50 dengan kompetisi Piala Dunia.

Dirinya merasa gelisah karena Indonesia sanggup merilis B50 tetapi belum mampu melaju ke putaran Piala Dunia.

"Yang masih kami sulit adalah masuk Piala Dunia. Jadi saya resah, terus terang saja saya resah. Kami bisa B50 tapi tidak bisa masuk Piala Dunia saya masih tidak puas," ucapnya.

Prabowo lantas meminta jajaran menterinya untuk memburu target agar Indonesia bisa menembus Piala Dunia, sehingga dirinya sempat mencari keberadaan Menpora sekaligus Ketum PSSI Erick Thohir di lokasi acara.

Lantaran Erick tampak absen, Prabowo kemudian meminta kakak dari Erick Thohir, yakni Boy Thohir yang berada di lokasi, untuk meneruskan pesan tersebut.

"Bagaimana caranya masuk Piala Dunia? Jangan anggap enteng sepak bola itu kehormatan. Siapa bertanggung jawab? Mana Erick Thohir mana? Boy? Kasih tahu adikmu ya," ujarnya.

Tidak sekadar mencari Erick Thohir, Prabowo pun turut menyenggol Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa.

Kepada Purbaya, Prabowo menanyakan hal-hal apa saja yang sekiranya dibutuhkan agar tim Indonesia bisa melangkah ke Piala Dunia.

"Mana Menkeu? Apa yang diperlukan supaya kami bisa masuk Piala Dunia?" ucapnya.

Terkini