JAKARTA - Kegiatan mencampur bahan bakar minyak (BBM) jenis Pertalite dengan Pertamax Turbo belakangan ini sedang menjadi topik hangat di kalangan netizen.
Metode ini disebut-sebut bisa menciptakan bahan bakar dengan angka oktan (RON) 92 yang setara dengan Pertamax, namun dengan biaya yang lebih murah dan efisien.
Berdasarkan narasi yang viral, kombinasi ini dilakukan dengan mencampurkan 3 liter Pertalite (RON 90) dan 1 liter Pertamax Turbo (RON 98).
Cukup banyak pengendara percaya bahwa perbandingan tersebut efektif mendongkrak nilai oktan tanpa perlu mengeluarkan uang untuk membeli Pertamax murni.
Kepala Organisasi Riset Energi dan Manufaktur BRIN, Cuk Supriyadi Ali Nandar memberikan penjelasan bahwa asumsi menggabungkan Pertalite dan Pertamax Turbo demi mengejar RON 92 agar lebih hemat tidak sepenuhnya tepat.
"Bensin pada dasarnya terdiri atas dua komponen utama, yaitu base fuel dan aditif," kata Supriyadi kepada Kompas.com, Minggu (5/7/2026).
"Perbedaan setiap produk tidak hanya terletak pada nilai RON, tetapi juga pada formula aditif yang digunakan. Formula ini merupakan rahasia dagang masing-masing produsen," tambahnya.
Supriyadi memaparkan bahwa perhitungan angka RON dari hasil oplosan tersebut secara teori memang bisa dikira-kira, tetapi hasilnya belum tentu presisi jika tidak dites dengan mesin Cooperative Fuel Research (CFR).
Menurutnya, hubungan timbal balik antar-senyawa di dalam bensin bisa memicu efek sinergis atau justru antagonis, sehingga angka RON akhir tidak melulu sama dengan kalkulasi matematika sederhana.
"Perhitungan hanya berguna sebagai estimasi awal. Nilai RON yang sebenarnya hanya dapat dipastikan melalui pengujian menggunakan mesin CFR," kata Supriyadi.
Walaupun secara kimiawi penggabungan komponen dasar bahan bakar cenderung aman dan tidak memicu reaksi yang membahayakan, hal krusial yang wajib diwaspadai adalah disparitas formula aditifnya.
"Potensi ketidakcocokan aditif dari produk yang berbeda merupakan risiko yang tidak bisa diprediksi tanpa pengujian laboratorium karena komposisinya merupakan rahasia dagang masing-masing produsen," jelas Supriyadi.
Kombinasi zat aditif yang berlainan justru berisiko mengurangi kinerja zat pembersih, memicu munculnya endapan di ruang bakar, sampai mengakibatkan timbunan kerak karbon di area piston serta klep.
Bukan itu saja, pergeseran sifat bawaan bahan bakar ini bisa membikin proses pembakaran menjadi tidak sempurna sehingga tenaga mesin rawan merosot.
"Untuk menjaga performa dan keawetan mesin, menggunakan satu jenis bahan bakar yang sesuai dengan rasio kompresi mesin secara konsisten merupakan pilihan terbaik," papar Supriyadi.
"Pencampuran berada pada zona abu-abu yang memiliki risiko, sehingga pengguna perlu memahami konsekuensinya," tambahnya.