Saham RI Masih Dibekukan MSCI, Investor Disarankan Buy on Weakness

Rabu, 08 Juli 2026 | 14:16:51 WIB
Kantor Indeks MSCI.(FOTO:NET)

JAKARTA - Keputusan Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang kembali mempertahankan kebijakan pembekuan (freeze) terhadap saham Indonesia dinilai tidak perlu disikapi secara berlebihan oleh investor ritel.

Analis justru menyarankan investor memanfaatkan pelemahan harga saham untuk melakukan strategi buy on weakness secara bertahap, dengan tetap fokus pada emiten yang memiliki fundamental kuat dan valuasi yang masih menarik.

Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, menilai keputusan MSCI mempertahankan kebijakan pembekuan atas saham-saham asal Indonesia memang memperpanjang overhang sentiment di pasar saham domestik.

Itu karena MSCI tetap membekukan kenaikan Foreign Inclusion Factor (FIF) dan Number of Shares (NOS), serta belum membuka peluang penambahan saham Indonesia ke dalam MSCI Global Investable Market Indexes (GIMI).

Dampak utama dari keputusan tersebut adalah berkurangnya potensi passive inflows atau aliran dana pasif dari investor yang mereplikasi indeks MSCI.

Meski demikian, ia menilai dampaknya terhadap Indeks Harga Saham Gangguan (IHSG) secara keseluruhan cenderung terbatas karena keputusan tersebut telah cukup diantisipasi oleh pelaku pasar.

“Dampaknya terhadap IHSG secara keseluruhan cenderung terbatas karena keputusan tersebut sudah cukup diantisipasi pasar,” ujar Nafan saat dihubungi Kompas.com, Selasa malam (7/7/2026).

Arah IHSG sendiri akan lebih banyak dipengaruhi oleh faktor domestik, seperti kinerja emiten pada semester II-2026, prospek penurunan suku bunga Bank Indonesia (BI), serta stabilitas nilai tukar rupiah.

Sementara dari eksternal, perhatian investor tertuju pada arah kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat (The Fed) dan perkembangan geopolitik global.

Dengan demikian, MSCI memang menjadi salah satu faktor headwind bagi pasar saham Indonesia, tetapi bukan satu-satunya faktor yang akan menentukan arah IHSG hingga akhir 2026.

“Faktor global seperti arah kebijakan The Fed dan perkembangan geopolitik. Artinya, MSCI menjadi faktor headwind, tetapi bukan satu-satunya penentu arah IHSG hingga akhir tahun,” paparnya.

Di tengah keputusan MSCI, Nafan memperkirakan investor pasif (passive funds) masih akan cenderung menunggu karena ruang perubahan bobot indeks belum dibuka oleh MSCI.

Sebaliknya, investor aktif (active funds) justru mulai melihat Indonesia sebagai peluang investasi apabila valuasi saham domestik dinilai lebih menarik dibandingkan negara berkembang lainnya.

Menurutnya, investor aktif tidak hanya berpatokan pada komposisi indeks, tetapi juga mempertimbangkan valuasi, prospek pertumbuhan laba, stabilitas makroekonomi, serta momentum reformasi pasar modal.

Oleh karena itu, apabila fundamental ekonomi Indonesia tetap terjaga dan laba emiten menunjukkan perbaikan, valuasi yang relatif murah berpotensi menjadi daya tarik bagi investor jangka menengah hingga panjang.

Dampak langsung keputusan MSCI akan lebih terasa pada saham-saham berkapitalisasi besar yang sebelumnya memiliki peluang memperoleh kenaikan bobot atau masuk ke dalam indeks MSCI.

Dengan tetap berlakunya kebijakan freeze, saham-saham tersebut kehilangan peluang memperoleh tambahan arus dana pasif dalam jangka pendek.

Namun, secara psikologis, keputusan MSCI juga mempengaruhi sentimen pasar secara lebih luas karena berkaitan dengan persepsi investor terhadap tingkat aksesibilitas dan kualitas pasar modal tanah air.

Ia menyebut kelompok emiten yang relatif lebih rentan adalah saham-saham dengan kategori High Shareholding Concentration (HSC), yakni emiten berkapitalisasi besar tetapi memiliki porsi kepemilikan publik riil yang sangat terbatas sehingga pergerakan harga sahamnya cenderung lebih volatil akibat transaksi yang terkonsentrasi.

Selain itu, saham lapis kedua (second-liner) dengan tingkat likuiditas rendah juga dapat semakin kehilangan aliran dana asing.

Di sisi lain, sektor yang dinilai relatif lebih defensif adalah sektor perbankan berkapitalisasi besar atau kelompok KBMI 4, sektor telekomunikasi, serta sektor komoditas, khususnya bahan baku dan energi tertentu.

Emiten di sektor-sektor tersebut memiliki rekam jejak transparansi kepemilikan publik yang lebih baik sehingga relatif lebih aman terhadap risiko perubahan metodologi penyesuaian data kepemilikan publik di atas 1 persen yang digunakan MSCI.

“Saham-saham di sektor ini memiliki rekam jejak transparansi kepemilikan publik yang sangat jelas, sehingga aman dari risiko perubahan metodologi penyesuaian data 1 persen oleh MSCI,” pungkas dia.

Bagi investor ritel, Nafan menyarankan penerapan strategi buy on weakness secara bertahap (gradual accumulation) dibandingkan menunggu seluruh ketidakpastian pasar mereda.

Dalam praktiknya pasar umumnya mulai bergerak lebih dahulu sebelum seluruh sentimen benar-benar berubah menjadi positif.

Karena itu, investor ritel dapat mulai melakukan akumulasi secara bertahap pada saham-saham yang memiliki fundamental kuat dan valuasi menarik, dengan tetap menerapkan disiplin dalam manajemen risiko.

Dalam mengambil keputusan investasi, investor juga perlu mencermati perkembangan arus dana asing (foreign flow), stabilitas nilai tukar rupiah, arah kebijakan suku bunga Bank Indonesia maupun The Fed, pertumbuhan laba emiten, serta perkembangan reformasi pasar modal Indonesia menjelang MSCI Index Review berikutnya.

Apabila melihat kondisi fundamental emiten dan valuasi pasar saat ini, Nafan yakin masih terdapat sejumlah sektor yang layak dicermati.

Sektor perbankan berkapitalisasi besar tetap menjadi pilihan utama karena memiliki fundamental yang kuat, profitabilitas tinggi, serta berpotensi memperoleh manfaat apabila siklus suku bunga memasuki fase yang lebih akomodatif.

Selain itu, sektor telekomunikasi juga dinilai menarik karena memiliki arus kas yang stabil, tingkat dividen yang kompetitif, serta karakter defensif ketika volatilitas pasar meningkat.

Sementara, sektor komoditas masih layak dicermati secara selektif, terutama apabila harga komoditas utama tetap bertahan pada level yang mampu menopang profitabilitas emiten.

Terkini