PADANG - Kelangkaan serta antrean mengular kendaraan di beberapa Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di Sumatera Barat (Sumbar) semakin menggelisahkan masyarakat.
Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Sumbar, Helmi Heriyanto, memaparkan bahwa keadaan ini disebabkan oleh penumpukan kemacetan hebat di tiga ruas jalur logistik utama BBM.
Menurut Helmi, hambatan terbesar terletak di gerbang keluar masuk utama suplai BBM untuk segenap daerah Sumatera Barat.
Helmi menerangkan bahwa keterlambatan pengisian kembali persediaan BBM di SPBU dipicu oleh armada pengangkut yang terjebak antrean jalanan sampai berjam-jam.
"Titik pertama dan yang paling vital berada di Jembatan Bungus Teluk Kabung karena menjadi akses keluar-masuk mobil tangki dari Terminal Terpadu Teluk Kabung," ujarnya kepada Kompas.com, Senin (6/7/2026).
Imbas adanya proyek renovasi jembatan di kawasan tersebut, antrean armada mengular sampai 3 hingga 4 kilometer dan mengakibatkan tiap mobil tangki terhambat selama 2 sampai 3 jam untuk dapat lewat.
Titik kedua ialah perlintasan Sitinjau Lauik yang mengaitkan Kota Padang dengan Solok.
Jalur ini nyaris tiap hari didera kemacetan parah, bahkan puncaknya pada 28 Juni lalu mengakibatkan mobil tangki terhambat selama 7 hingga 13 jam, baik dalam keadaan kosong ataupun yang tengah mengangkut muatan menuju Solok.
Sementara itu, titik ketiga terletak di rute Lembah Anai yang sampai kini masih dalam proses perbaikan pascabencana alam dan tengah memasuki tahapan penyelesaian pelapisan aspal jalan.
"Penyebab antrean panjang di SPBU ini merupakan dampak langsung dari akumulasi ketiga titik kemacetan tersebut yang membuat waktu jeda distribusi semakin lama," tuturnya.
Lazimnya pasokan BBM telah tiba di SPBU sebelum jam 10 pagi, namun saat ini pasokan baru dapat tiba pada sore atau malam hari.
Dampaknya, kendaraan konsumen di SPBU mesti menanti lama dan memicu antrean panjang di hampir segenap daerah.
Merespons keadaan yang semakin mendesak, Pemerintah Provinsi Sumbar bergegas melakukan koordinasi bersama Pertamina, Polisi Jalan Raya, serta Organisasi Perangkat Daerah terkait.
Semenjak jembatan Bungus mulai dibongkar pada 25 Juni lalu, sejumlah tindakan pemulihan telah diupayakan, salah satunya lewat pengaktifan Terminal Terpadu Teluk Kabung penuh selama 24 jam untuk mempercepat pengisian tangki.
Di samping itu, pelayanan logistik BBM untuk wilayah Bengkulu saat ini dialihkan sehingga Terminal Terpadu Teluk Kabung dapat difokuskan 100 persen untuk memasok keperluan Sumatera Barat.
Pemerintah turut menetapkan prioritas melintas bagi mobil tangki pada jam-jam sepi atau larut malam dengan pengawalan ketat dari aparat kepolisian.
Walau pemerintah sempat merancang pembuatan jembatan darurat selaku rekayasa teknis di Bungus, tindakan ini masih terhambat persoalan pembebasan lahan di kedua sisi jembatan lantaran masih berdiri hunian warga dan bengkel tempat usaha masyarakat.
Helmi berharap warga setempat dapat diajak berdialog dengan baik demi kelancaran pemulihan rute logistik BBM ini.
Sebagai opsi alternatif, Pemprov Sumbar bersama Dinas Perhubungan kota dan pemuda setempat tengah menguji coba pemanfaatan sisi lain jembatan Bungus khusus bagi kendaraan pribadi guna mengurai kepadatan.
Rekayasa lalu lintas juga terus dioptimalkan di kawasan Lembah Anai dan Sitinjau Lauik, dan dalam waktu dekat dinas terkait bakal langsung memantau lokasi untuk melihat rekayasa teknis lanjutan yang dapat segera diterapkan di lapangan.