Target Operasi Akhir 2026, Flyover Latumeten Bebas Macet

Jumat, 03 Juli 2026 | 10:36:53 WIB
Flyover Latumenten Ditargetkan Beroperasi Akhir 2026 (FOTO: NET)

JAKARTA - Pembangunan konstruksi Flyover Latumeten di wilayah Grogol Petamburan, Jakarta Barat, dipastikan bakal menghadirkan transformasi besar bagi pengguna jalan.

Selain meniadakan jalur pelintasan sebidang rel kereta, sarana infrastruktur ini juga akan dilengkapi dengan halte Transjakarta, akses ramah disabilitas, sekaligus mempercepat waktu tempuh kendaraan.

Proyek yang memakan dana hingga Rp 259 miliar tersebut kini progresnya telah menyentuh 55,2 persen dan ditargetkan rampung pada 15 Desember 2026.

Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menyampaikan bahwa proyek Flyover Latumeten menjadi salah satu infrastruktur yang paling ditunggu masyarakat demi mengurai kepadatan kendaraan yang parah di area Grogol dan sekitarnya.

"Flyover Latumeten ini salah satu flyover yang paling ditunggu di Jakarta. Karena kalau dilihat pagi, siang, sore, kemacetannya tinggi sekali," kata Pramono saat meninjau proyek tersebut, Kamis (2/7/2026).

Menurut dirinya, proyek ini merupakan prioritas utama dari Pemprov DKI Jakarta guna membenahi kelancaran arus lalu lintas di kawasan Grogol, Slipi, Pluit, hingga area di sekitarnya.

"Ini salah satu proyek prioritas Pemerintah DKI Jakarta yang saya harapkan bisa selesai pada 15 Desember 2026," ujarnya.

Dampak perubahan yang paling kentara saat flyover ini resmi beroperasi ialah ditutupnya pelintasan sebidang rel kereta api dengan jalan raya yang berada di dekat Stasiun Grogol.

Selama ini, titik sumbatan macet yang parah terjadi lantaran arus kendaraan harus menyetop lajunya setiap kali pintu pelintasan ditutup saat kereta lewat.

Pramono menerangkan, ketika flyover sudah selesai dibangun, seluruh kendaraan bakal dialihkan lewat jalur atas agar tidak lagi terhambat oleh perlintasan kereta api.

"Kalau ini bisa selesai, maka kemacetan di lokasi ini, termasuk nanti yang di bawahnya ditutup. Siapa pun harus naik ke atas supaya pelintasan sebidang kereta api ini tidak lagi terganggu dan juga tidak menimbulkan kecelakaan," kata Pramono.

Kepala Dinas Bina Marga DKI Jakarta Heru Suwondo menjelaskan bahwa kebijakan penutupan tersebut cuma diberlakukan pada perlintasan relnya saja.

Akses jalan di bawah kolong flyover dipastikan tetap dapat dimanfaatkan oleh para pengendara untuk memutar arah.

"Yang ditutup hanya pelintasannya. Jadi, dari arah selatan bisa putar balik, begitu juga dari arah utara masih bisa berputar," kata Suwondo.

Melalui penutupan jalur pelintasan sebidang ini, durasi perjalanan para pengguna jalan diperkirakan akan terpangkas menjadi lebih cepat.

Suwondo memprediksi efisiensi waktu perjalanan tersebut mampu menghemat sekitar 10 sampai 15 menit.

"Kalau kondisi saat ini waktu tempuhnya cukup panjang karena adanya pelintasan kereta api. Nantinya sudah tidak ada gangguan lagi sehingga kendaraan bisa melintas langsung di atas flyover. Mungkin sekitar 10-15 menit, karena tadinya tertahan di bawah, nanti langsung bablas," katanya.

Fasilitas Flyover Latumeten ini nantinya juga akan terintegrasi langsung dengan moda angkutan umum massal.

Pemprov DKI telah merancang halte Transjakarta di sisi barat dan timur flyover yang terhubung langsung ke Stasiun Grogol, demi mempermudah warga berganti moda transportasi.

"Halte busway ada di flyover, di atas. Sisi barat and sisi timur ada halte busway. Dari Stasiun Grogol juga bisa langsung ke sini," lanjut Suwondo.

Bukan cuma itu saja, flyover ini bakal dipasang lift khusus demi memfasilitasi penyandang disabilitas, lansia, serta warga yang memiliki keterbatasan gerak.

Pramono mewanti-wanti agar sarana penunjang tersebut nantinya terus dirawat dengan baik supaya dapat berfungsi secara maksimal bagi publik.

"Yang paling penting tempat ini juga ramah disabilitas. Saya sudah minta kepada Kepala Dinas untuk liftnya betul-betul dipersiapkan dan terus dirawat. Jangan hanya di awal dibuka kemudian ada, tetapi setelah itu tidak dirawat," ujar Pramono.

Ia mengimbuhkan, saat pengerjaan proyek Flyover Latumeten ini beres, Pemprov DKI berencana mengkaji pembangunan flyover di titik rawan macet lainnya.

Sejumlah kawasan yang masuk dalam usulan di antaranya adalah Pejompongan, Universitas Pancasila, dan juga Bintaro.

Walau begitu, Flyover Latumeten tetap menjadi fokus utama lantaran dinilai sebagai kebutuhan yang paling mendesak untuk segera diselesaikan.

"Nanti kami akan segera putuskan mana yang memang sudah menjadi kebutuhan, termasuk apakah yang di Pejompongan, Pancasila, ataukah yang di Bintaro. Tetapi yang paling prioritas sekarang memang di tempat ini," kata Pramono.

Ia berharap pengerjaan Flyover Latumeten ini dapat rampung tepat waktu sehingga faedahnya bisa lekas dinikmati warga dalam mengurangi titik kemacetan di Jakarta Barat.

Terkini