Sempat Jadi Wisata Terseram, Jateng Valley Segera Diasesmen

Kamis, 02 Juli 2026 | 15:41:30 WIB
Salah satu bangunan yang terlihat terbengkalai di salah satu sudut di Jateng Valley. (FOTO:NET)

SEMARANG - Agenda pembangunan Jateng Valley yang mangkrak di kawasan Hutan Penggaron yang berada di Kabupaten Semarang kembali menjadi perbincangan hangat di ranah media sosial.

Proyek ini pada awalnya diproyeksikan akan menjelma menjadi destinasi rekreasi dengan ukuran paling masif di kawasan Asia Tenggara.

Salah satu akun media sosial Instagram bernama @semarangskyject membagikan rekaman kondisi paling aktual dari area Jateng Valley.

Kawasan dengan total luas menyentuh 371,88 hektare tersebut sejatinya telah melalui tahapan peletakan batu pertama pada tanggal 15 Agustus 2020 bertepatan dengan momentum Hari Jadi ke-70 Provinsi Jawa Tengah lewat mekanisme kerja sama build operate transfer (BOT) yang melibatkan perusahaan swasta dan pihak Perhutani.

Unggahan video tersebut memperlihatkan situasi kawasan wahana skate park yang ditengarai proses pengerjaannya sebenarnya sudah mencapai angka berkisar 95 persen.

Kendati demikian seluruh fasilitas yang tersedia di lokasi itu kedapatan telah mengalami kerusakan serta diselimuti oleh rimbunnya rumput liar.

Merespons fenomena itu, Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi mengungkapkan bahwa jajaran Pemerintah Provinsi Jawa Tengah mempunyai agenda untuk memulihkan kembali kawasan tersebut lewat program penataan ulang atau revitalisasi.

“Kami lakukan asistensi dan revitalisasi terkait potensi ini, jadi berkembangnya wilayah kan kami lihat ya. Dan ini dari aset kami akan berjalan ke sana untuk melakukan revitalisasi,” ujar Luthfi usai menyambut kunjungan kerja DPR RI di kantornya, Rabu (1/7/2026).

Dirinya memberikan penekanan mengenai pentingnya proses revitalisasi terhadap aset-aset kepunyaan daerah guna mengoptimalkan potensi yang telah dimiliki oleh masing-masing wilayah.

Sebagai contoh yaitu kawasan Kabupaten Kebumen yang memiliki area Geopark berstatus global dinilai memerlukan pola penanganan dan pemanfaatan yang berbeda jika dibandingkan dengan daerah lain.

“Memang di masing-masing daerah kan berbeda-beda. Contoh misalnya Kebumen, Geopark-nya sudah internasional,” ujarnya.

Oleh karena itu langkah pemulihan aset layaknya area Jateng Valley ke depan akan disesuaikan dengan kebutuhan pemanfaatan daerah agar mampu memicu dampak yang positif bagi perputaran roda perekonomian di tingkat regional.

Pada momentum berbeda Sekretaris Daerah Jawa Tengah, Sumarno, membenarkan kabar mengenai rencana penilaian atau asesmen terhadap area Jateng Valley yang akan segera dilaksanakan.

Dirinya menguraikan bahwa faktor penahan utama dari berjalannya proses pembangunan fisik tersebut disebabkan oleh adanya keterlambatan aksi dari pihak penanam modal atau investor.

“Kita lagi mau mengasesmen ya. Saya sudah minta teman-teman untuk asesmen untuk melanjutkan itu seperti apa, karena ini kendalanya adalah kemarin dari sisi investor yang terlambat untuk mengeksekusi,” beber Sumarno.

Mengacu pada laporan yang telah beredar sebelumnya, proyek besar Jateng Valley di Hutan Penggaron yang berlokasi di Kelurahan Susukan, Kecamatan Ungaran Timur, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, saat ini malah beralih fungsi menjadi lokasi wisata paling menakutkan akibat deretan bangunan yang terbengkalai.

Padahal pada mulanya rancangan dari proyek raksasa ini diplot untuk menjadi pusat wisata dengan skala paling mewah di kawasan Asia Tenggara.

Konsep dari masterplan Jateng Valley tersebut sebenarnya mencakup pembangunan taman hiburan bertema masa depan, fasilitas hotel, hingga wahana rekreasi bertema Noah's Ark.

Namun proses konstruksi didapati terhenti total sejak tahun 2021 yang lalu, menyisakan puing-puing berupa boks kontainer kantor yang telah berkarat, lubang-lubang fondasi bangunan yang menganga, serta semak belukar yang lebat.

Ibu Maryam (55), seorang pedagang warung kopi dan menu soto sejak era tahun 1990-an di pinggir rute desa menuju area proyek besar tersebut, meratapi situasi lingkungan sekitar yang terhitung terlalu sunyi.

“Mau dibuat wisata terbesar se-Asia Tenggara. Malah mangkrak. Jadi, wisata terseram,” ujarnya saat diwawancarai Kompas.com, Kamis (2/4/2026).

Di samping situasi lingkungan yang lengang, fasilitas jalan penghubung utama melewati jalan perkampungan dari arah Jalan DI Panjaitan yang kerap dilewati oleh warga Dusun Siroto di sekitar Jateng Valley, saat ini berstatus rawan longsor sejak beroperasinya proyek tol komersial Semarang-Solo.

“Selain sepi jalan di sini juga rusak parah, dulu juga setelah jalan tol juga sini seperti tanahnya gerak gitu. Soalnya iki bahaya to, Mas. Ambles,” tambah Maryam.

Terkini