JAKARTA - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) tengah menyiapkan Compressed Natural Gas (CNG) berkapasitas 3 kilogram (kg) sebagai sumber energi alternatif LPG 3 kg.
Kebijakan ini ditempuh demi memangkas ketergantungan terhadap impor LPG.
Menyitir data Kementerian ESDM, konsumsi LPG menyentuh 8,5 juta ton per tahun, tetapi produksinya cuma 1,8-1,9 juta ton per tahun dan selebihnya dipenuhi dari impor.
Oleh karena itu, CNG dijadikan sebagai sumber energi alternatif.
Berikut 3 Fakta CNG yang bakal diaplikasikan:
Mengenai harga, Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM Laode Sulaeman menuturkan bahwa kelak harga jual Compressed Natural Gas (CNG) 3 kilogram (Kg) bakal setara dengan harga LPG 3 kg.
Langkah ini diambil agar tidak memberatkan masyarakat.
Ia mengklaim melalui harga yang setara tersebut, negara sudah bisa memotong subsidi energi.
"Sama. Sama dengan harganya sama (LPG 3kg). Sekarang simulasinya masih disamakan. Dengan disamakan pun subsidi bisa turun sampai dengan 30%," ujar Laode saat ditemui di Gedung DPR, Jakarta, Senin (29/6/2026).
Sebelumnya Laode berujar bahwa sekitar 100.000 tabung Compressed Natural Gas (CNG) 3 kilogram (Kg) akan didatangkan dari China guna menggantikan LPG 3 kg.
Hal ini terpaksa dilakukan lantaran saat ini sektor industri di dalam negeri belum sanggup memproduksi tabung CNG 3 kg.
Laode memaparkan langkah impor itu merupakan tahap awal dari implementasi CNG pada tabung 3 kg yang ditargetkan untuk menekan impor LPG yang kini melambung sekaligus sebagai substitusi LPG 3 kg.
"Kan ini teknologinya tinggi. Saat ini yang mampu membuat teknologi itu di luar ya, kami belum," ujar Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM Laode Sulaeman di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Senin (18/5/2026).
"(Impor dari China?) Iya, seperti itu. Tahap awal ya," tambahnya.
Sementara itu, wadah CNG 3 kg tersebut dinamai 'Tabung Merah Putih.
Kementerian ESDM sedang menyiapkan 15 prototype tabung CNG Merah Putih 3 kg guna diuji coba di Lemigas.
Agenda uji coba ini dilaksanakan pada Juli 2026.
Tabung CNG yang bakal dimanfaatkan merupakan Tipe 4 dengan bahan dasar serat material.
"Kami uji di Lemigas kan dia kan harus ada uji tekanan seperti itu yang paling penting. Safety dari valve dan tabungnya seperti apa. Kan di Cina itu penggabungan antara tabung sama valve-nya," terang Dirjen Minyak an Gas Bumi Kementerian ESDM Laode Sulaeman.
Apabila proses itu membuahkan hasil yang memuaskan, maka wadah tersebut sudah dapat didistribusikan ke masyarakat.
Akan tetapi, Laode menyebutkan, penyalurannya bakal dilakukan secara bertahap.
Di mana pelaksanaan uji coba akan diawali di kota-kota besar, khususnya di Pulau Jawa yang posisinya dekat dengan rute jaringan pipa gas.
"Kami prioritaskan dulu yang dari pipa. Biar harganya lebih ekonomis. Makanya uji kebanyakan Pak Menteri sudah sampaikan di kota-kota besar di Pulau Jawa dulu. Yang memang jalur gas dari pipanya lebih banyak," ujarnya.