81% Pekerja Indonesia Puas Gaji, Mayoritas Berani Minta Naik Upah

Minggu, 28 Juni 2026 | 12:43:36 WIB
Ilustrasi karyawan sedang merayakan keberhasilan kerja tim.(FOTO:NET)

JAKARTA - Di kala situasi perekonomian negara sedang tidak menentu, nyatanya banyak pekerja tetap merasa puas terhadap upah mereka.

Perihal tersebut terkuak lewat riset terkini yang menunjukkan mayoritas karyawan di Indonesia merasa memperoleh upah yang sepadan.

Studi ini pun menggarisbawahi besarnya rasa percaya diri para pekerja di dalam negeri, di mana 83% pegawai sukses mengajukan kenaikan gaji.

Publikasi teranyar dari Jobstreet by SEEK yang baru saja diluncurkan ini memaparkan perspektif mengenai cara tenaga kerja Indonesia mengapresiasi bayaran mereka.

Mengusung tajuk Salary Pulse, jajak pendapat ini diselenggarakan secara kolaboratif bersama lembaga riset Nature pada Februari 2026 terhadap 1.010 profesional di bursa kerja Indonesia dalam kelompok umur 18 sampai 64 tahun.

Temuan krusial dari laporan ini mendapati bahwa karyawan Indonesia merasa memperoleh kompensasi paling adil dan proporsional di kawasan Asia Pasifik, dengan 81% di antaranya menganggap upah mereka masuk akal untuk peran yang diemban sekarang.

Kendati demikian, persepsi itu ternyata tidak berbanding lurus dengan tingkat kepuasan riil, mengingat hanya 66% responden yang sungguh-sungguh merasa puas terhadap jumlah nominal yang diterima.

Kenyataan ini mengisyaratkan bahwa kaum pekerja tidak sekadar mendambakan penghasilan yang sesuai dengan patokan pasar, melainkan juga butuh merasa diapresiasi atas sumbangsih mereka agar bisa merasa benar-benar diupah dengan layak.

Hasil riset ini tentunya bernilai krusial bagi pihak korporasi.

Lebih dari sekadar persoalan nominal, rasa bahagia terhadap kompensasi dinilai memberikan pengaruh yang instan pada performa bisnis perusahaan.

Saat karyawan di Indonesia merasa senang dengan upahnya, mereka bakal hampir dua kali lipat atau kisaran 1,7 kali lipat lebih terdorong serta rela mengerahkan upaya lebih di lingkungan kerja.

Sebaliknya, staf yang tidak puas terhadap pendapatan mereka mempunyai peluang 2,2 kali lipat lebih tinggi untuk merencanakan mengundurkan diri dan berburu kesempatan karier yang lain.

Selain itu, isi laporan eksklusif Salary Pulse memaparkan bahwa kecenderungan peningkatan upah tergolong lazim terjadi di Indonesia, dengan 62% pekerja mengaku memperoleh kenaikan gaji dalam periode setahun ke belakang.

Sebagian besar peningkatan tersebut berada di tingkat menengah, dengan 45% pegawai mengantongi kenaikan sampai 5% dan 39% lainnya mendapati penambahan sekitar 6-10%.

Studi ini pun membuktikan bahwa pertambahan upah tersebut sangat berdampak pada kepuasan psikologis para staf.

Pegawai yang memperoleh penyesuaian pendapatan berdasarkan capaian kinerja individu (performance-based) jauh lebih senang dengan imbalan mereka (89%) bila dibandingkan dengan yang cuma mendapat penyesuaian serentak di level korporasi (company-wide), yakni hanya 67%.

Kondisi ini menekankan betapa krusialnya bagi pihak manajemen untuk menghubungkan paket kompensasi secara langsung dengan andil nyata setiap individu.

Walau demikian, faktor disparitas generasi berpotensi memunculkan dinamika kepuasan yang saling bertolak belakang di tempat kerja di Indonesia.

Fenomena ini dijumpai pada kelompok Gen Z yang mengantongi rata-rata penghasilan lebih rendah lantaran masih berstatus pemula, tetapi memperlihatkan kepuasan upah yang tinggi dengan 65% merasa senang atas gaji bulanan mereka.

Sebaliknya, golongan Gen X yang secara data statistik tergolong sebagai kelompok berpendapatan tinggi malah menjadi generasi yang paling merasa tidak diapresiasi dengan semestinya, di mana hanya 41% saja yang merasa diupah secara layak.

Friksi psikologis semacam itu kemungkinan besar disebabkan oleh anggapan ketidakadilan kala mengonfrontasikan beban tanggung jawab besar dengan kolega yang lebih junior.

Keadaan itu pun kian diperberat oleh minimnya kenaikan pendapatan berkala serta keraguan mereka untuk menuntut peningkatan upah secara aktif karena terikat norma sosial.

Terkini