Wabah Ebola di RD Kongo Tembus 1.200 Kasus, 321 Pasien Meninggal

Minggu, 28 Juni 2026 | 12:43:36 WIB
Tenaga medis melakukan disinfeksi di pusat perawatan Ebola di Mombovalu, Provinsi Ituri, Republik Demokratik Kongo.(FOTO:NET)

KINSHASA - Republik Demokratik (RD) Kongo mencatat sebanyak 1.203 kasus positif ebola yang mencakup 321 korban jiwa sejak penyakit menular tersebut resmi menyebar pada pertengahan Mei lalu, merujuk pada data terkini yang dikeluarkan pada Jumat (26/6) oleh badan kesehatan masyarakat setempat.

Berdasarkan data tersebut, tercatat 148 orang dinyatakan sembuh, sedangkan 419 orang lainnya masih diisolasi atau mendapat perawatan medis di rumah sakit.

Pihak otoritas kesehatan RD Kongo pun menemukan adanya 265 kasus yang berstatus suspek, termasuk di antaranya 77 korban meninggal dunia.

Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Tedros Adhanom Ghebreyesus pada Jumat menyampaikan melalui platform media sosial X bahwa proses pelacakan kontak erat di RD Kongo telah mencakup populasi yang lebih luas, serta semakin banyak pengidap ebola yang sembuh lalu diizinkan pulang ke rumah.

Akan tetapi, pemimpin tertinggi WHO tersebut mengingatkan bahwa jalan penanganan wabah ini masih teramat panjang.

Ia menggarisbawahi situasi konflik serta kondisi keamanan yang labil masih menghambat proses penanggulangan infeksi, ditambah dengan adanya resistensi atau ketidakpercayaan dari warga lokal yang menjadi kendala fundamental.

Dokumen tersebut turut memetakan rentetan hambatan taktis yang dijumpai dalam proses penanganan di lapangan, meliputi penolakan warga terhadap prosedur tes swab setelah kematian (postmortem), keterbatasan daya tampung rumah sakit di wilayah Ituri di mana lokasi karantina medis sudah hampir menyentuh batas maksimal, serta capaian pelacakan kontak erat yang posisinya masih di bawah target minimum 95 persen.

Rilis tersebut juga memberikan alarm peringatan terkait menipisnya cadangan obat-obatan esensial, minimnya alat pelindung pencegahan dan pengendalian infeksi, hingga hilangnya ketersediaan sekitar 20 fasilitas ruang isolasi.

Kondisi konflik yang tidak menentu dan kendala akses di distrik-distrik yang dikuasai milisi bersenjata, tingginya pergerakan warga, serta defisit anggaran sekitar 20 juta dolar AS juga dipaparkan sebagai batu sandungan terberat.

Kondisi persebaran penyakit saat ini, yang bersumber dominan dari virus Ebola Bundibugyo, dikonfirmasi secara legal mulai merebak pada 15 Mei.

Terkini