Pos Indonesia Bakal Pimpin Holding BUMN Logistik Nasional

Selasa, 23 Juni 2026 | 09:11:24 WIB
Ilustrasi PT. Pos Indonesia (FOTO: NET)

JAKARTA - Ada sebuah rencana berskala besar terkait pembentukan holding BUMN yang bergerak di bidang logistik.

Ke depannya, pelbagai perusahaan milik negara di sektor logistik akan diintegrasikan di bawah naungan PT Pos Indonesia.

Sebagai tahapan awal, terdapat tujuh perusahaan pelat merah yang akan melebur ke dalam PT Multi Terminal Indonesia (MTI).

Ketujuh korporasi tersebut di antaranya adalah PT Multi Terminal Indonesia (MTI) dan PT Prima Indonesia Logistik (PIL) yang saat ini masih berada di bawah manajemen Pelindo.

Lalu terdapat PT Pos Logistik Indonesia (Poslog) milik Pos Indonesia, PT Sarana Bandar Logistik (SBL) milik PT Pelni, serta PT KBN Prima Logistik (KPL) milik Danareksa.

Berikutnya, PT Varia Usaha Dharma Segara (VUDS) dari SIG, dan PT Krakatau Jasa Logistik (KJL) yang merupakan bagian dari Krakatau Steel. "Nah ini adalah tujuh perusahaan yang di awal Juli nanti, 1 Juli, akan bergabung dalam satu perusahaan yang namanya adalah PT MTI atau Multi Terminal Indonesia," kata Direktur Utama PT Pos Indonesia (Persero) Daud Joseph saat rapat bersama Komisi VI DPR, Senin (22/6/2026).

Daud menerangkan bahwa pada fase berikutnya sesuai dengan surat dari Danantara Aset Manajemen konsolidasi, holding ini akan diperluas dengan masuknya PT Semen Indonesia Logistik (Silog) dan PT Pupuk Indonesia Logistik (Pilog).

Pada tahapan awal tersebut, porsi kepemilikan saham ditetapkan sebesar 73% milik Pelindo, 9% milik Pos Indonesia, dan 17% dipegang oleh lima perusahaan lainnya.

Selanjutnya pada tahun 2027, keseluruhan saham perusahaan akan sepenuhnya dialihkan ke bawah kendali Pos Indonesia. "Nantinya berarti sudah ada sembilan BUMN logistik yang bergabung di bawah perusahaan Pos Indonesia," tutur Daud.

Daud mengungkapkan, penggabungan perusahaan-perusahaan ini akan menciptakan sinergi yang jauh lebih besar pada jaringan distribusi mereka.

Perusahaan yang selama ini hanya kuat di kawasan tertentu nantinya dapat memanfaatkan jaringan milik entitas lain untuk memperluas jangkauan layanan ke berbagai daerah di Indonesia. 

"Sehingga nanti anak perusahaan ini akan lengkap lini bisnisnya di seluruh Indonesia. Sehingga jumlahnya yang hari ini hanya ada 78 titik kumulatif, nantinya bisa bertambah menjadi sekitar 150 atau bahkan 160 lini bisnis," jelasnya.

Selain itu, penyatuan ini juga dipercaya mampu menekan biaya logistik secara nasional.

Sebab, sampai saat ini setiap rantai pasok logistik diurus oleh perusahaan yang berbeda-beda sehingga memunculkan margin keuntungan tersendiri di tiap tahapnya. 

"Nantinya setelah digabung menjadi satu perusahaan, profit margin-nya hanya menjadi satu. Sehingga nanti akan bisa memotong duplikasi profit margin dan akan menurunkan biaya logistik secara keseluruhan. 

Bapak Ibu kalau kami melihat tabel paling kanan bernilai Rp 2,38 triliun, itulah nanti besarnya revenue dari perusahaan gabungan ini," ungkap Daud. "Dari Rp 2,38 triliun ini akan bisa menghasilkan profit di tahun ini kira-kira sebesar Rp 100 miar," pungkasnya.

Terkini

Panduan Memulai Investasi Saham Untuk Pemula

Selasa, 14 Juli 2026 | 06:19:01 WIB

Tips Berhemat Tanpa Mengurangi Kualitas Hidup

Selasa, 14 Juli 2026 | 06:03:45 WIB