IHSG Melemah Hari Ini, Investor Menanti BI-Rate dan Rilis MSCI

Kamis, 18 Juni 2026 | 09:09:35 WIB
Pekerja mengamati layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta.(FOTO:NET)

JAKARTA - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada hari Kamis terpantau mengalami penurunan seiring sikap pelaku pasar yang memilih bersikap wait and see terhadap keputusan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) serta pengumuman berkala dari penyedia indeks global MSCI.

IHSG mengawali perdagangan dengan terkoreksi sebesar 28,85 poin atau sekitar 0,46 persen menuju level 6.191,89.

Sedangkan untuk kelompok 45 saham paling likuid atau Indeks LQ45 ikut merosot 5,28 poin atau setara 0,84 persen ke posisi 619,95.

“Diperkirakan IHSG bergerak sideways cenderung melemah pada kisaran 6.100-6.350,” ujar Kepala Riset Phintraco Sekuritas Ratna Lim dalam kajiannya di Jakarta, Kamis.

Melihat sentimen domestik, para pemodal cenderung mengambil langkah aman menjelang berbagai agenda penting, salah satunya menanti pengumuman resmi hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI) pada Kamis (18/6) ini.

Tidak hanya itu saja, para pelaku pasar juga sedang menantikan rilis dari MSCI Global Market Accessibility Review pada hari Jumat (19/6), proses rebalancing indeks FTSE pada Jumat (19/6), serta agenda MSCI Annual Market Classification Review pada hari Rabu (24/6) di pekan depan.

Beralih ke sentimen global, selaras dengan perkiraan pelaku pasar, bank sentral Amerika Serikat (AS) The Fed tetap menahan tingkat suku bunga acuannya di kisaran 3,5 hingga 3,75 persen.

Kendati demikian, beberapa pejabat di lingkup The Fed memprediksi bahwa suku bunga berpotensi merangkak naik pada tahun 2026.

Estimasi titik tengah untuk tingkat suku bunga sekarang berada pada level 3,8 persen di penutupan tahun, mengalami kenaikan dari proyeksi sebelumnya sebesar 3,4 persen pada Maret 2026, yang mengindikasikan jika komite tersebut memandang minimal diperlukan sekali kenaikan suku bunga di sepanjang tahun 2026.

Di lain sisi, faktor yang memicu tensi ketidakpastian semakin melonjak ialah Chairman The Fed Kevin Warsh yang memilih tidak ikut serta dalam proyeksi tersebut, walau dalam pernyataan resminya ia lebih menitikberatkan pada stabilitas harga, sehingga memberikan sinyal bahwa The Fed bakal bersikap lebih hawkish.

Kondisi ini langsung direspons oleh pasar finansial global melalui lonjakan yang cukup tajam pada imbal hasil obligasi pemerintah AS berdurasi 2 tahun sebesar 16 bps hingga menyentuh level 4,216 persen.

Sementara itu, tingkat inflasi di negara Inggris terpantau bertahan di angka 2,8 persen (yoy) selama bulan Mei 2026 dan berada di bawah prediksi semula sebesar 3 persen (yoy).

Hal ini kian mempertegas dugaan pasar bahwa Bank of England (BoE) bakal tetap mempertahankan tingkat suku bunga mereka di posisi 3,75 persen.

Tercatat pada sesi perdagangan hari Rabu (17/06) sebelumnya, pasar saham di kawasan Eropa kompak mengakhiri hari di zona hijau, di mana Euro Stoxx 50 melesat 0,80 persen, indeks FTSE 100 Inggris naik 0,14 persen, indeks DAX Jerman terangkat 0,10 persen, serta indeks CAC 40 Prancis terdorong 0,20 persen.

Kondisi sebaliknya terjadi di bursa saham AS Wall Street yang kompak ditutup melemah pada Rabu (17/06), di antaranya Indeks Dow Jones Industrial Average merosot 0,98 persen, indeks S&P 500 terpangkas 1,21 persen, serta indeks Nasdaq Composite turun 0,99 persen.

Untuk pergerakan bursa saham di wilayah Asia pada Kamis pagi ini terpantau bervariasi, di antaranya indeks Nikkei melesat 1,38 persen ke level 70.869,00, indeks Shanghai terkoreksi 0,31 persen ke level 4.094,31, indeks Hang Seng anjlok 1,78 persen ke level 23.827900, dan indeks Strait Times merangkak naik 0,14 persen menuju 5.184,78.

Terkini

Panduan Memulai Investasi Saham Untuk Pemula

Selasa, 14 Juli 2026 | 06:19:01 WIB

Tips Berhemat Tanpa Mengurangi Kualitas Hidup

Selasa, 14 Juli 2026 | 06:03:45 WIB