Sinema Indonesia Curi Perhatian di Ajang SIFF Ke-28 Shanghai

Jumat, 19 Juni 2026 | 09:09:17 WIB
Foto yang diabadikan pada 13 Juni 2026 ini menunjukkan perwakilan dari tim produksi dan seniman film Indonesia.(FOTO:NET)

SHANGHAI - Karya-karya sinema dari Indonesia sukses menjadi pusat perhatian dalam perhelatan Festival Film Internasional Shanghai (Shanghai International Film Festival/SIFF) ke-28 yang tengah diselenggarakan saat ini.

Sejumlah film cerita layaknya "Rencana Besar untuk Mati dengan Tenang" ("My Own Last Supper") dan "Yuni", beserta karya animasi seperti "Jumbo" dan "Garuda di Dadaku" turut unjuk gigi dalam ajang tersebut, dengan menyuguhkan pesona baru dari industri perfilman tanah air.

Total 12 film yang berada pada kategori kompetisi utama Golden Goblet Awards tahun ini melakoni penayangan perdana secara global (world premiere), yang mana salah satunya ialah film bertajuk "Rencana Besar untuk Mati dengan Tenang" besutan Indonesia.

Karya layar lebar ini diarahkan oleh sutradara Ismail Basbeth dan membawakan kisah mengenai pria duda berumur 76 tahun yang menghimpun anak-anaknya guna menghadiri momen "perjamuan terakhir" di sisa usianya.

Di tengah-tengah berlangsungnya perjamuan tersebut, bermacam memori keluarga yang selama ini tersimpan rapat akhirnya mulai tersingkap.

Jajaran tim kreatif dari film ini bukan sekadar melenggang di atas karpet merah dalam seremoni Golden Goblet Awards saja, melainkan juga menyelenggarakan agenda penayangan perdana selama festival bergulir, sehingga para kru beroleh kesempatan untuk bertatap muka sekaligus bercengkerama dengan hangat bersama rekan media.

Keseluruhan jalinan cerita dikemas melalui sudut pandang sebuah keluarga Indonesia keturunan Tionghoa beserta para generasi penerusnya.

Film ini menerapkan pendekatan realistis demi menyajikan kembali gambaran kehidupan kaum Tionghoa Indonesia pada periode tahun 1960, 1970, 1998, serta 2018, sekaligus mendalami aneka makna dari kehidupan.

Sutradara Ismail Basbeth dalam sebuah temu media pada Rabu (17/6) mengatakan bahwa dirinya sangat berterima kasih kepada SIFF atas apresiasinya terhadap film dan seluruh kru.

"Saya berharap melalui karya ini, terjalin hubungan yang lebih mendalam antara China dan Indonesia," kata Ismail.

Selaras dengan pernyataan sang sutradara, produser Lyza Anggraheni menuturkan bahwa dirinya merasa amat bahagia lantaran dapat mengusung kisah perihal kehidupan masyarakat Tionghoa Indonesia ini kembali ke negeri China.

Dua aktor utama yang membintangi film tersebut merupakan warga negara Indonesia keturunan Tionghoa.

Jessy Davita membeberkan fakta bahwa kakeknya berasal dari daratan China.

"Saya ingin menampilkan situasi kehidupan nyata masyarakat Tionghoa-Indonesia di Indonesia," kata Olivia Irawan Chen, sebagai keturunan Tionghoa generasi ketiga itu.

Hal yang memikat, sesaat setelah fase penjualan tiket SIFF tahun ini dibuka pada tanggal 5 Juni yang lalu, tiket untuk sejumlah sesi pemutaran karya ini seketika habis terjual, yang mana hal itu memperlihatkan tingginya rasa ingin tahu sekaligus ketertarikan para penonton di Shanghai terhadap karya sinema Indonesia.

Bukan cuma "Rencana Besar untuk Mati dengan Tenang" ("My Own Last Supper"), sektor Film Animasi Golden Goblet Awards pada pergelaran SIFF tahun ini pun turut menghadirkan karya animasi asal Indonesia bertajuk "Garuda di Dadaku" ("Garuda: Dare to Dream").

Lewat eksistensinya di dua lini sekaligus, yakni film cerita dan film animasi, industri perfilman Indonesia sukses bertransformasi menjadi salah satu kekuatan wilayah Asia Tenggara yang tidak boleh dipandang sebelah mata dalam ajang SIFF tahun ini.

Terkini

Panduan Memulai Investasi Saham Untuk Pemula

Selasa, 14 Juli 2026 | 06:19:01 WIB

Tips Berhemat Tanpa Mengurangi Kualitas Hidup

Selasa, 14 Juli 2026 | 06:03:45 WIB