Kenali 5 Fase Berbahaya Keracunan Gas CO saat Glamping

Rabu, 17 Juni 2026 | 10:55:17 WIB
Polisi saat menunjukan barang bukti seperti tungku pembakaran yang diduga menjadi penyebab tewasanya satu keluarga saat glamping di Posong saat konpers.(FOTO:NET)

JAKARTA - Terungkap sudah penyebab meninggalnya seorang mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) beserta tiga anggota keluarganya ketika sedang berkemah di Taman Wisata Alam Posong, Temanggung, Jawa Tengah.

Aparat kepolisian menegaskan bahwa keempat korban tersebut wafat lantaran keracunan gas karbon monoksida (CO) yang bersumber dari alat penghangat berbahan briket atau arang di dalam tenda yang tertutup rapat.

Menurut penjelasan Spesialis Paru dari RS Paru Persahabatan, Prof Agus Dwi Susanto, SpP, CO tergolong dalam kelompok gas asfiksian yang secara agresif merusak serta memotong suplai oksigen pada aliran darah manusia.

Sifatnya berbeda dengan gas iritan yang bisa merangsang batuk, sehingga proses keracunan karbon monoksida ini kerap kali berlangsung tanpa disadari oleh para korbannya.

"Ketika gas CO ini terhirup oleh seseorang, masuk ke saluran napas, dia akan masuk ke pembuluh darah yang ada di paru yang disebut namanya alveoli. Di situ CO akan masuk ke dalam darah, ketika dia ada di dalam darah, dia akan bersaing dengan oksigen yang kami hirup. Kekuatan CO mengikat HB (hemoglobin) itu 300 kali lebih kuat daripada oksigen mengikat HB," jelas Prof Agus.

Mengenai tingkat keparahannya, Prof Agus memaparkan lima tahapan kadar CO di dalam darah (Carboxyhemoglobin atau HbCO) yang bekerja secara simultan, cepat, dan merusak organ tubuh secara bertingkat:

Pada Fase 1 (Kadar 5-10%), tahapan ini merupakan kondisi awal yang memicu gejala sangat ringan, sehingga sering kali diabaikan atau dianggap sebagai rasa lelah biasa saja.

Efek yang mulai dirasakan oleh korban meliputi sakit kepala serta pusing yang samar, dan korban akan merasa sedikit mengantuk akibat organ otak yang mulai kekurangan pasokan oksigen.

Memasuki Fase 2 (Kadar 20-30%), apabila paparan gas terus berlangsung, akumulasi racun akan bertambah dan menimbulkan sakit kepala yang sangat hebat yang dibarengi rasa mual hingga muntah.

Hal yang cukup unik pada tahapan ini adalah ritme napas korban akan berubah menjadi lebih cepat atau terengah-engah.

Meskipun sistem tubuh sengaja mempercepat frekuensi bernapas karena mendeteksi adanya kekurangan oksigen, kondisi ini justru menjadi bumerang yang membuat korban menghirup lebih banyak gas CO yang sudah mengepung area sekitar mereka.

Selanjutnya pada Fase 3 (Kadar 30-40%), kondisi mental korban akan mulai terganggu dengan munculnya disorientasi atau rasa linglung.

Di samping itu, organ jantung dipaksa bekerja dan berdetak jauh lebih cepat demi mengompensasi kekurangan oksigen, hingga pada akhirnya membuat korban jatuh tidak sadarkan diri.

Pada Fase 4 (Kadar 40-50%) yang merupakan kondisi sangat kritis, tubuh korban akan mengalami gejala kejang-kejang sebelum akhirnya langsung masuk ke tahap koma yang sangat dalam.

Secara bersamaan, kondisi tekanan darah pada tubuh korban juga akan langsung merosot hingga ke tingkat yang paling drastis.

Terakhir adalah Fase 5 (Kadar di atas 60%) yang menjadi tahapan paling fatal.

Saat persentase kadar HbCO di dalam aliran darah sudah melewati angka 60 persen, seluruh organ tubuh dipastikan lumpuh total dan tidak lagi berfungsi karena hilangnya pasokan oksigen secara menyeluruh.

Akibatnya, korban akan langsung mengalami kondisi henti napas, henti jantung, hingga berujung pada kematian.

Keadaan fatal ini akan menjadi berkali lipat lebih mematikan seandainya korban menghirup kepungan gas CO tersebut ketika tengah beristirahat ataupun tidur dengan lelap.

Efek rasa mengantuk yang timbul di tahapan awal akan melebur langsung dengan tidur normal korban, sehingga perubahan kondisi dari tidur biasa menjadi pingsan lalu koma akan berlangsung sepenuhnya tanpa disadari.

"Biasanya orang nggak menyadari itu kalau saat dia keracunan CO, karena tadi nggak ada rasanya, nggak ada baunya, nggak berwarna, nggak tahu tuh. Kalau otaknya kekurangan oksigen juga kadang-kadang mulai agak-agak ngantuk gitu kan. Kalau udah 40-50 persen tuh udah pingsan, koma. Tertidur seterusnya, terus abis itu meninggal. Memang nggak sadar," tutur Prof Agus

Terkini

Panduan Memulai Investasi Saham Untuk Pemula

Selasa, 14 Juli 2026 | 06:19:01 WIB

Tips Berhemat Tanpa Mengurangi Kualitas Hidup

Selasa, 14 Juli 2026 | 06:03:45 WIB