Mengenal Tren Kebugaran Hyrox yang Siap Hadir di Jakarta

Selasa, 09 Juni 2026 | 10:43:52 WIB
Mengenal Hyrox, Olahraga yang Menggabungkan Lari dan Functional Fitness.(Sumber:NET)

JAKARTA - Di tengah maraknya tren aktivitas olahraga yang berbasis komunitas, Hyrox hadir menjadi salah satu fenomena kebugaran dengan pertumbuhan paling cepat di dunia.

Ajang kompetisi yang memadukan olahraga lari serta latihan kekuatan ini sukses memikat jutaan peserta dari bermacam kategori usia sekaligus tingkat kebugaran, mulai atlet profesional hingga warga biasa yang hendak menguji kemampuan diri sendiri.

Salah seorang peserta ajang Hyrox bernama Jessica Thompson (39), telah melewatkan waktu berbulan-bulan untuk berlatih menghadapi perlombaan kebugaran tersebut.

Usai berhasil selamat dari insiden kecelakaan mobil yang terjadi hampir 20 tahun silam, dirinya mengalami keterbatasan ruang gerak pada lengan bagian kiri serta kesulitan dalam menjaga keseimbangan tubuh.

Kendati demikian, dirinya sangat menyukai sebuah tantangan.

Serta ketika dirinya berhasil menuntaskan perlombaan, dia langsung disambut hangat oleh riuh sorak sorai dari para penonton.

“Saya terbiasa diberitahu semua hal yang tidak bisa saya lakukan, bahwa saya bisa melakukan Hyrox, adalah perubahan hidup," kata wanita dari Atlanta, Amerika Serikat ini.

Popularitas dari Hyrox ini tidaklah melejit tanpa ada sebab.

Semenjak pertama kali diperkenalkan di negara Jerman pada tahun 2017 silam, ajang kompetisi ini menyuguhkan sebuah konsep yang terbilang sederhana namun tetap menantang: setiap peserta wajib menyelesaikan delapan putaran lari yang masing-masing sejauh satu kilometer dengan diselingi oleh aneka latihan fungsional, seperti mendorong serta menarik sled, burpee broad jump, hingga membawa beban yang berat.

Format kompetisi tersebut menjadikan Hyrox terasa jauh lebih mudah untuk diakses apabila dibandingkan dengan kejuaraan ketahanan lainnya seperti maraton, triathlon, ataupun perlombaan halang rintang yang menuntut persiapan khusus sekaligus keahlian teknis tertentu.

Daya tarik utama lainnya yakni kemampuannya dalam mengubah rutinitas aktivitas latihan di dalam gym menjadi sebuah cabang olahraga yang kompetitif.

Apabila selama ini ada banyak orang yang berlatih kardio serta kekuatan hanya demi menjaga kebugaran tubuh, Hyrox memberikan sebuah target yang jelas sekaligus terukur.

Para peserta tidak sekadar melakukan olahraga, melainkan juga mempunyai target untuk merampungkan perlombaan, mempertajam catatan waktu pribadi, serta membandingkan performa mereka dengan kontestan lain di seluruh penjuru dunia.

Konsep yang diusung ini terbukti membuahkan hasil yang sukses.

Pada saat ini, sudah lebih dari 1,5 juta orang di 30 negara yang telah mengikuti minimal satu kali perlombaan Hyrox.

Tiket masuk untuk berbagai seri perlombaan bahkan kerap kali habis terjual hanya dalam hitungan menit, sementara daftar antrean di sejumlah kota besar telah mencapai ribuan orang.

Di kota New York, sebagai contoh, jumlah dari peserta mengalami lonjakan hingga lebih dari tiga kali lipat dalam kurun waktu satu tahun, yakni dari sekitar 15.000 orang menjadi 50.000 orang.

Demam olahraga Hyrox ini pun kini mulai merambah dan meluas hingga ke kawasan Asia.

Ajang Hyrox Jakarta 2026 yang dijadwalkan bakal berlangsung pada tanggal 27–28 Juni 2026 di Nusantara International Convention Exhibition (NICE), Jakarta, diprediksi akan diramaikan oleh sekitar 11.500 orang peserta.

Jumlah tersebut sekaligus menjadikannya sebagai sebuah debut race HYROX yang paling besar di seluruh kawasan Asia Pasifik.

Berdasarkan penuturan dari para pengamat industri kebugaran, kesuksesan besar Hyrox ini juga disokong oleh kian meningkatnya minat dari masyarakat terhadap aktivitas latihan kekuatan.

Berbeda signifikan dengan tren olahraga lari yang sempat mendominasi selama beberapa tahun belakangan, Hyrox menyatukan manfaat dari latihan kardio serta strength training ke dalam satu wadah kompetisi.

Para kontestan bahkan bisa berlatih dengan memakai fasilitas gym yang pada umumnya tersedia secara luas, sehingga hambatan atau rintangan untuk ikut berpartisipasi menjadi jauh lebih rendah.

Para pendukung setia Hyrox menyebutkan bahwa latihan inti dari cabang olahraga fungsional ini merupakan gerakan-gerakan fungsional yang sangat bisa dipraktikkan hanya menggunakan peralatan gym standar yang mendasar.

Walaupun ajang lomba Hyrox merupakan sebuah ujian ketahanan fisik, popularitasnya yang tinggi kemungkinan besar juga dipicu oleh meningkatnya atensi publik pada latihan kekuatan.

“Ini memenuhi keinginan tersebut, sekaligus membuatnya terasa tidak terlalu membosankan," kata Shay Kostabi, instruktur kebugaran berpengalaman.

Moritz Furste, salah seorang pendiri dari Hyrox sekaligus peraih tiga medali ajang Olimpiade dalam cabang hoki lapangan, menyampaikan bahwa hal tersebut memang sengaja dikonsep sejak awal.

Pada tahun 2017, tatkala Furste bersama rekan sesama pendirinya, Christian Toetzke, pertama kali menelurkan ide untuk mendirikan Hyrox, mereka menangkap adanya peluang besar untuk menciptakan sebuah kompetisi bagi para pencinta olahraga harian yang kurang tertarik untuk berlatih demi acara besar seperti maraton, namun di sisi lain tetap ingin memiliki sebuah target menantang yang dapat digapai.

Mereka mencermati bahwa ada banyak orang yang mengombinasikan campuran antara latihan kardio dengan latihan kekuatan, alih-alih cuma berfokus pada satu jenis aktivitas kebugaran saja, oleh karena itu Furste mendesainnya sebagai hibrida dari keduanya.

"Kami ingin menciptakan arena bermain bagi mereka yang pergi ke pusat kebugaran," kata Furste.

Di samping menyajikan aspek kompetisi yang seru, Hyrox juga menawarkan sebuah rasa kekeluargaan dan kebersamaan yang amat kuat.

Platform media sosial kini dipenuhi oleh berbagai unggahan dari para peserta yang mendokumentasikan perjalanan latihan, pencapaian rekor waktu, hingga dokumentasi foto-foto kala sedang berlomba.

Fenomena ini melahirkan sebuah komunitas global yang sukses membuat banyak orang merasa menjadi bagian utuh dari sesuatu hal yang jauh lebih besar.

Di tengah situasi meningkatnya isolasi sosial serta besarnya kebutuhan akan sebuah koneksi antarmanusia, Hyrox tidak sekadar menjadi sebuah ajang olahraga biasa, melainkan juga sebagai ruang dinamis untuk merajut relasi, berburu motivasi diri, serta membuktikan kapasitas kemampuan yang dimiliki.

“Ini memberi orang identitas. Ada komunitas, ada kategori untuk diikuti, dan orang-orang sangat menyukai itu,” kata Kostabi.

Faktor inklusivitas inilah yang kemudian bertransformasi menjadi salah satu pilar kekuatan paling besar yang dimiliki oleh Hyrox.

Jika pada tahun-tahun awal penyelenggaraannya kompetisi ini condong didominasi oleh para peserta yang memiliki kondisi fisik yang prima saja, kini justru kian banyak orang dari bermacam-macam latar belakang serta tingkat kebugaran yang ikut serta ambil bagian di dalamnya.

Terkini