JAKARTA - Berdasarkan data dari situs pemantau kualitas udara IQAir pada pukul 08.00 WIB, mutu udara di Jakarta menempati posisi keenam sebagai yang terburuk di dunia pada Selasa pagi.
Indeks kualitas udara (AQI) di kota metropolitan tersebut menyentuh angka 137, dengan konsentrasi partikel halus atau particulate matter (PM) 2.5 sebesar 44 mikrogram per meter kubik. Situasi ini membuat udara di Jakarta dikategorikan tidak aman bagi kelompok yang sensitif.
Oleh karena itu, warga diimbau untuk membatasi kegiatan di luar ruangan, atau disarankan memakai masker apabila terpaksa beraktivitas di area terbuka.
Di samping Jakarta, beberapa kota lain dengan mutu udara paling buruk di dunia pada Selasa pagi meliputi Lahore (Pakistan) di urutan pertama dengan angka AQI 300. Posisi kedua ditempati oleh Dhaka (Bangladesh) dengan indeks 178, dan peringkat ketiga dihuni oleh Kampala (Uganda) dengan angka AQI 160.
Di sisi lain, Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta tengah menyiapkan langkah taktis guna mengatasi polusi udara di ibu kota menjelang musim kemarau, yang diperkirakan berlangsung mulai awal Mei hingga Agustus nanti.
Upaya respons cepat dalam mengatasi polusi tersebut mencakup pemaksimalan sistem monitoring kualitas udara serta pelaksanaan uji emisi bagi kendaraan bermotor.
Bukan hanya itu, Pemprov DKI juga mempunyai Strategi Pengendalian Pencemaran Udara (SPPU) yang saat ini tengah dikaji dari berbagai lini, mulai dari perkembangan PM2.5, kontribusi emisi tiap sektor, hingga efeknya bagi kesehatan warga.
Menurut Pemprov DKI, “pengendalian pencemaran udara tidak dapat dilakukan oleh satu wilayah secara parsial sehingga diperlukan aksi bersama yang terintegrasi antar organisasi perangkat daerah serta kolaborasi lintas wilayah di sekitar Jakarta.”