REI Sebut Pelemahan Rupiah Bayangi Penyerapan Rumah Subsidi

Selasa, 19 Mei 2026 | 13:43:30 WIB
Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Real Estat Indonesia (Ketum DPP REI) Joko Suranto.(Sumber:NET)

JAKARTA - Real Estate Indonesia (REI) selaku asosiasi pengembang properti memberikan peringatan terkait dampak pelemahan kurs rupiah terhadap penyerapan rumah subsidi, termasuk menyasar program 3 juta rumah milik pemerintah.

Ketua Umum DPP REI Joko Suranto menjelaskan bahwa posisi rupiah yang melemah ikut membebani perusahaan manufaktur di industri padat karya. Terutama bagi perusahaan yang memiliki utang dalam dolar AS atau yang mengandalkan bahan baku impor.

"Kalau pada batas tertentu, waktu tertentu, taruh 3 bulan, 6 bulan kan mungkin mereka masih bisa nahan. Tapi kalau setelah itu kan, itu menjadi sesuatu yang agak bahaya kan," ujar Joko saat ditemui di Jakarta, Senin (18/5/2026).

Joko juga menyoroti efek depresiasi rupiah pada sektor logistik yang berpeluang memicu lonjakan biaya operasional.

Selain itu, penurunan daya beli masyarakat ikut menjadi perhatian karena berisiko menghambat laju penyerapan pasar perumahan.

"Jadi kalau dollar ini semakin tinggi, atau pelemahan rupiah ini, maka juga mengancam terhadap daya beli. Yang kedua juga mendorong kenaikan biaya. Dan itu sama-sama tidak bagus terhadap program 3 juta rumah ini, khususnya untuk penyerapan FLPP (KPR bersubsidi)," tuturnya.

Di sudut lain, Joko melihat pasar rumah komersial untuk segmen menengah ke atas relatif aman dari dampak ini karena memiliki kekuatan finansial yang lebih kokoh.

Kendati demikian, Joko tetap mengantisipasi potensi anjloknya penyerapan rumah subsidi oleh masyarakat kelas menengah ke bawah.

Ia bahkan menyinggung fenomena penurunan jumlah kelas menengah yang menyusut hingga 10 juta orang.

Data menunjukkan populasi kelas menengah di Indonesia merosot dari angka 57,3 juta pada tahun 2019 menjadi tinggal 47,2 juta pada tahun 2024.

"Nah sekarang pun relatively juga belum ada perubahan. Kalau dulunya mantab, makan tabungan kan, sekarang ini ada kecenderungannya makan dari utang, ini bahaya," tegas Joko.

Meski begitu, Joko mengaku lega karena mayoritas pengembang telah mengamankan pasokan material untuk kebutuhan beberapa bulan ke depan.

Hal tersebut membuat pelemahan nilai tukar rupiah belum memberikan tekanan yang masif bagi industri properti saat ini.

"Untuk sementara ini belum signifikan, karena persediaan bahan-bahan di kami itu sudah banyak. Jadi barang-barang sudah kami stok," ungkap Joko.

"Mungkin ini akan berdampak terhadap 2-3 bulan akan datang. Otomatis kan stok pabrik akan beda dia kan. Ya otomatis harga pasar juga naik," kata Joko.

Terkini