BI Yakin Rupiah Menguat Mulai Juli 2026 Seiring Meredanya Valas

Selasa, 19 Mei 2026 | 12:44:27 WIB
Gubernur BI Perry Warjiyo.(Sumber:NET)

JAKARTA - Bank Indonesia (BI) memiliki keyakinan bahwa nilai tukar mata uang rupiah akan bergerak menguat mulai periode Juli 2026 mendatang seiring dengan mulai meredanya tren aktivitas permintaan valuta asing (valas) musiman, yang sempat melonjak pada rentang April hingga Juni 2026.

Kebutuhan terhadap mata uang dolar Amerika Serikat (AS) dilaporkan mengalami peningkatan secara musiman pada periode April-Juni akibat imbas dari agenda pembayaran utang luar negeri, aktivitas repatriasi dividen perusahaan, serta pemenuhan kebutuhan untuk operasional ibadah haji.

"Sekali lagi, kami tegaskan bahwa kami meyakini bahwa rupiah ke depan akan menguat. Sekarang ini dalam tekanan, undervalue, karena faktor global dan faktor seasonal demand pada April, Mei, Juni, dan insya Allah nanti Juli akan menguat," kata Gubernur BI Perry Warjiyo dalam rapat kerja bersama Komisi XI DPR RI di Jakarta, Senin.

Perry memiliki optimisme bahwa angka rerata dari nilai tukar rupiah di sepanjang tahun 2026 akan tetap berada dalam koridor kisaran asumsi makro APBN, yaitu di level Rp16.200 sampai dengan Rp16.800 per dolar AS, dengan patokan titik tengah bertengger di kisaran Rp16.500 per dolar AS.

Sementara itu, untuk angka rerata dari nilai tukar rupiah berdasarkan perhitungan tahun berjalan (year to date/ytd) saat ini berada pada kisaran nominal Rp16.900 per dolar AS.

Kendati berada dalam situasi tersebut, pihak bank sentral tetap merasa optimis bahwa tren penguatan rupiah yang diproyeksikan terjadi pada bulan Juli serta Agustus bakal sanggup menarik turun angka rerata tahunan untuk kembali masuk ke dalam rentang target APBN.

Di samping adanya pengaruh dari faktor domestik akibat tingginya intensitas permintaan valas, Perry menguraikan bahwa tekanan berat terhadap posisi rupiah saat ini turut dipicu oleh kondisi global yang kian memburuk semenjak eskalasi konflik perang di kawasan Timur Tengah meletus pada Februari yang lalu.

Meningkatnya eskalasi risiko geopolitik dunia tersebut tampak tecermin dari adanya kenaikan pada instrumen credit default swap (CDS), terjadinya lonjakan pada harga minyak mentah dunia, serta tingginya laju inflasi di AS yang berimbas pada kian mengecilnya peluang bagi bank sentral The Fed untuk menurunkan tingkat suku bunga mereka.

Kondisi pelik tersebut pada akhirnya ikut memicu lonjakan tingkat imbal hasil (yield) dari US Treasury, baik untuk instrumen tenor jangka pendek maupun jangka panjang, sehingga berdampak pada semakin perkasanya keperkasaan dolar AS sekaligus memicu fenomena arus keluar modal dari deretan negara berkembang, tidak terkecuali Indonesia.

Dilihat dari sudut pandang arus pergerakan modal, Perry membeberkan informasi bahwa sektor pasar saham membukukan adanya arus keluar modal (outflow) senilai Rp26,06 triliun pada rentang Januari-Maret 2026, sedangkan di sektor pasar Surat Berharga Negara (SBN) dilaporkan mengalami outflow sebesar Rp25,1 triliun pada periode waktu yang sama.

Sementara untuk lini instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) sempat menorehkan catatan arus modal masuk (inflow) pada bulan Januari serta Februari sebelum akhirnya berbalik arah mengalami guncangan outflow pada Maret seiring dengan kian memanasnya tensi geopolitik global.

Guna mempertahankan tingkat daya tarik bagi aliran modal asing agar bersedia masuk kembali, jelas Perry, pihak BI mengambil kebijakan untuk mendongkrak tingkat suku bunga SRBI sehingga instrumen investasi tersebut terbukti sanggup kembali membukukan inflow senilai Rp48,26 triliun pada bulan April dan sebesar Rp27,05 triliun pada periode Mei.

Lewat implementasi strategi tersebut, total torehan inflow SRBI di sepanjang rentang April hingga tanggal 8 Mei 2026 sukses menyentuh angka Rp75,31 triliun, sementara jika dikalkulasikan secara kumulatif di sepanjang tahun berjalan (ytd) nilainya berhasil menembus Rp105,16 triliun.

Perry pun turut memaparkan bahwa aktivitas pembelian instrumen SBN oleh kalangan investor asing kini sudah mulai memperlihatkan tren peningkatan, sedangkan untuk pergerakan aliran dana asing di dalam sektor pasar saham dilaporkan mulai mencatatkan torehan inflow pada fase awal Mei walaupun secara perhitungan tahun berjalan posisinya masih mengalami outflow.

Menurut sudut pandangnya, bergulirnya aliran modal masuk tersebut sangat membantu dalam rangka mempertebal ketersediaan pasokan valas domestik di tengah masih tingginya intensitas permintaan terhadap dolar AS yang dipicu oleh kombinasi faktor global serta musiman.

Ia pun melayangkan perkiraan bahwa tingkat kebutuhan untuk melangsungkan tindakan intervensi pasar bakal mulai mengalami penurunan pada periode Juli hingga Agustus mendatang seiring dengan mulai meredanya gelombang permintaan valas musiman.

"Alhamdulillah Rp67,3 triliun itu inflow (total seluruh instrumen dari Januari-8 Mei 2026), sehingga itu menambah pasokan valas. Memang masih kurang karena demand-nya sedang tinggi dan faktor global, sehingga kami intervensi. Insya Allah nanti Juli-Agustus demand-nya sudah mulai agak menurun, itu bisa kami bisa kemudian intervensi tidak terlalu besar," kata Perry.

Nilai tukar (kurs) mata uang rupiah pada sesi penutupan bursa perdagangan hari ini atau Senin (18/5/2026) terpantau mengalami koreksi melemah menuju ke level Rp17.668 per dolar AS dari posisi penutupan sebelumnya yang berada di angka Rp17.597 per dolar AS.

Pergerakan kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) milik Bank Indonesia pada hari ini terpantau ikut bergerak melemah menuju ke level Rp17.666 per dolar AS jika dibandingkan dengan posisi sebelumnya yang bertengger di level Rp17.496 per dolar AS.

Terkini