Budidaya Maggot di Koja Urai 100 Kg Sampah Organik Setiap Hari

Jumat, 15 Mei 2026 | 09:30:43 WIB
Warga Koja bernama Dani Arwani kurangi sampah organik lewat budidaya maggot.(Sumber:NET)

JAKARTA- Bau tidak sedap dari sampah organik mulai berkurang di pemukiman RW 01, Tugu Utara, Koja, Jakarta Utara. Hal ini terjadi berkat peran ratusan larva maggot yang terus mengolah sisa makanan, limbah dapur, hingga sayuran busuk milik warga. Melalui pengelolaan bersama di Bank Sampah Cemara RW 01, warga kini mampu menyusutkan sekitar 100 kilogram (kg) sampah organik setiap harinya.

"Maggot digunakan untuk mengurai sampah organik lunak (sisa dapur). Produksi maggot di sini sekitar 80 kg sampai 100 kg per hari," tutur Ketua Bank Sampah Cemara Dani Arwanto, ketika diwawancarai Kompas.com, Rabu (13/5/2026).

Cara kerja larva ini sangat efisien karena melahap sampah organik dengan cepat. Proses konsumsi tersebut membuat maggot memiliki kandungan protein dan nutrisi yang tinggi, sehingga sangat ideal dijadikan campuran pakan ternak seperti bebek atau ayam. Sebelum diberikan kepada ternak, maggot biasanya dikeringkan terlebih dahulu menggunakan mesin oven.

Selain mengandalkan maggot, Bank Sampah Cemara juga mengoperasikan mesin pengolah berkapasitas 500 kg hingga 1 ton per hari. Namun, tantangan utama yang dihadapi adalah ketersediaan stok sampah organik. Guna menjaga kelangsungan produksi, pengelola mengambil pasokan dari berbagai titik lain di luar rumah warga.

"Kami mengambil sampah dari berbagai sumber, seperti Pasar Koja, rumah makan, sekolah, hingga Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG)," sambung dia.

Dani berharap kedepannya pasokan sampah dari berbagai pihak dapat terus meningkat agar proses pengolahan bisa berjalan lebih maksimal.

Pengurai yang Efektif

Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Jakarta menjelaskan bahwa maggot merupakan larva dari jenis lalat Black Soldier Fly (BSF) yang sangat efektif dalam mengurai limbah organik.

"Dalam kondisi optimal, maggot mampu mengurai sampah organik hingga 90 persen dari volumenya hanya dalam waktu 10 hingga 14 hari," ucap Humas DLH Jakarta Yogi Ikhwan saat dihubungi Kompas.com, Rabu.

Metode ini dinilai jauh lebih unggul dibandingkan pengomposan biasa yang memerlukan waktu berbulan-bulan. Efisiensinya terlihat dari rasio satu kilogram maggot yang mampu menghabiskan tiga kilogram sampah organik dalam sehari.

Selain menghasilkan larva berprotein tinggi untuk pakan, budidaya ini menghasilkan kasgot (bekas kotoran maggot) yang dapat langsung dimanfaatkan sebagai pupuk organik penyubur tanaman.

"Bagi kami, budidaya maggot adalah teknologi yang tepat guna, murah, dan bisa dijalankan di skala rumah tangga hingga komunitas seperti bank sampah," sambung dia.

Kendala Stok Sampah

Meskipun bermanfaat, operasional pengolahan sampah ini memiliki tantangan tersendiri, terutama terkait kekurangan bahan baku sampah organik. Saat ini, Bank Sampah Cemara baru bisa mengolah sekitar 500 kg per hari, padahal mesin yang tersedia mampu menampung hingga satu ton.

Yogi menganggap fenomena kekurangan sampah ini merupakan hal yang wajar bagi bank sampah yang sudah berkembang pesat. 

Sebagai solusi, DLH Jakarta tengah mempertimbangkan integrasi bank sampah dengan titik pengumpulan (drop point) sampah organik dari lokasi sekitar seperti kantin sekolah atau pasar tradisional di wilayah Koja.

 Langkah ini diharapkan mampu menjamin stabilitas pasokan sampah organik melalui koordinasi lintas sektor.

Hal yang Perlu Diperhatikan

Mengingat lokasi pengolahan berada di pemukiman padat, ada beberapa standar ketat yang harus dipatuhi. Pertama, pemilahan sampah harus dilakukan sejak dari sumbernya agar tidak tercampur dan memicu bau.

 Kedua, wadah penguraian harus tertutup. Ketiga, konsistensi waktu pengolahan sangat penting guna mencegah penumpukan sampah.

"Keempat, sirkulasi udara di area pengolahan harus diperhatikan. Bank Sampah Cemara sendiri sudah cukup baik dalam mengelola ini karena mereka sudah berpengalaman dan didampingi," ungkap dia.

DLH Jakarta terus memberikan pembinaan teknis agar standar operasional tetap terjaga sehingga kegiatan ini tidak mengganggu kenyamanan warga sekitar.

Keunggulan Teknologi Maggot

Pakar Lingkungan Universitas Indonesia (UI), Mahawan Karuniasa, sepakat bahwa maggot sangat efektif mengolah sampah basah dan segar seperti limbah dapur.

"Panduan kebijakan BSF menyebut sistem BSF (maggot) berpotensi mengurangi volume sampah organik menuju landfill secara signifikan, sekaligus mengurangi potensi emisi metana dari pembusukan anaerobik," tutur Mahawan saat dihubungi Kompas.com, Rabu (15/05/2026).

Maggot juga memberikan nilai tambah ekonomi lebih cepat berupa biomassa larva dan residu kasgot dibandingkan pengomposan konvensional. Meski begitu, komposting tetap diperlukan untuk mengolah limbah berserat tinggi.

Batasan Jenis Sampah

Mahawan mengingatkan tidak semua jenis sampah bisa diberikan kepada maggot. Bahan seperti plastik, logam, kaca, hingga limbah B3 harus dihindari. Selain itu, makanan yang mengandung kadar minyak, garam, atau pedas yang tinggi juga tidak cocok untuk pakan larva ini.

"Maggot idealnya diberi sampah organik yang sudah dipilah sejak sumber," ujar Mahawan.

Pencampuran sampah organik dengan bahan kimia atau plastik berisiko memindahkan kontaminan ke dalam rantai pangan melalui larva atau tanah.

Aspek Keamanan dan Sanitasi

Terakhir, aspek keamanan lingkungan dan kesehatan harus menjadi prioritas. Pengelola wajib mengontrol sanitasi, kelembapan, hingga pencegahan lalat pengganggu di lokasi budidaya.

"Lokasi budidaya perlu memiliki drainase, atap, wadah tertutup, pengendalian bau, serta prosedur panen dan pengeringan yang higienis," ucap dia.

Larva yang digunakan sebagai pakan juga harus dipastikan bebas dari limbah infeksius atau logam berat, sementara kasgot memerlukan proses pematangan lanjutan sebelum diaplikasikan sebagai pupuk agar aman bagi tanaman.

Tags

Terkini