Menteri LH Ajak Masyarakat Pilah Sampah Guna Optimalkan PSEL Daerah

Sabtu, 25 April 2026 | 19:42:06 WIB
Ilustrasi Menteri LH

BANJARBARU – Menteri LH ajak masyarakat pilah sampah untuk mendukung efektivitas fasilitas Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) yang tengah dikembangkan di daerah.

Kesiapan infrastruktur teknologi tinggi tersebut menuntut ketersediaan bahan baku yang sudah terklasifikasi dengan baik sejak dari rumah tangga.

Menteri Lingkungan Hidup, Hanif Faisol Nurofiq, menekankan bahwa keterlibatan publik dalam memisahkan limbah organik dan anorganik adalah kunci utama stabilitas operasional pabrik.

"Kami minta keterlibatan masyarakat untuk mulai memilah sampah dari rumah agar operasional PSEL di daerah bisa berjalan optimal," ujar Hanif Faisol Nurofiq, sebagaimana dilangsir dari kalsel.antaranews.com, Sabtu (25/4/2026).

Sampah yang tercampur secara acak selama ini menjadi kendala teknis yang sering merusak mesin pembakaran atau insinerator pada instalasi pengolah energi.

Hanif Faisol Nurofiq berpendapat bahwa kesuksesan transisi energi dari limbah sangat bergantung pada kedisiplinan warga dalam mengelola sisa konsumsi harian mereka.

Langkah ini juga diprediksi mampu menekan biaya operasional pemerintah daerah dalam proses pemilahan manual di Tempat Pembuangan Akhir.

"PSEL ini memerlukan sampah dengan kualitas tertentu agar energi listrik yang dihasilkan stabil, dan itu dimulai dari pemilahan di hulu," kata Hanif Faisol Nurofiq, dikutip dari kalsel.antaranews.com, Sabtu (25/4/2026).

Pemerintah berencana mengintegrasikan bank sampah di tingkat RT dan RW sebagai garda terdepan pengumpulan bahan baku PSEL.

Edukasi mengenai nilai ekonomi dari sampah yang terpilah akan terus digencarkan melalui berbagai kanal sosialisasi di tingkat lokal.

Volume sampah yang masuk ke fasilitas pengolahan harus dipastikan bebas dari material yang tidak dapat terbakar atau berbahaya bagi lingkungan.

Keberadaan PSEL di daerah diharapkan menjadi solusi konkret atas permasalahan penumpukan limbah yang selama ini membebani daya tampung lahan.

Integrasi teknologi dan kesadaran sosial menjadi standar baru dalam mewujudkan kemandirian energi berbasis kelestarian alam di Indonesia.

Tags

Terkini