Fintech Gaming Omnichannel Jadi Mesin Pertumbuhan Emiten Teknologi Indonesia

Jumat, 10 April 2026 | 14:58:00 WIB
Fintech Gaming Omnichannel Jadi Mesin Pertumbuhan Emiten Teknologi Indonesia

JAKARTA - Perubahan lanskap industri teknologi mendorong perusahaan digital untuk menyesuaikan strategi bisnisnya. 

Setelah beberapa tahun berfokus pada ekspansi pengguna dan pertumbuhan ekosistem, banyak emiten teknologi kini mulai mengarahkan perhatian pada pencapaian profitabilitas. 

Pergeseran strategi ini terlihat dari upaya perusahaan dalam memperkuat lini bisnis yang dinilai memiliki potensi pertumbuhan lebih stabil dan berkelanjutan.

Dalam kondisi persaingan yang semakin ketat, perusahaan teknologi juga dituntut untuk menemukan sumber pendapatan baru di luar model bisnis utama mereka. Diversifikasi lini usaha menjadi salah satu strategi yang ditempuh untuk menjaga pertumbuhan kinerja sekaligus memperkuat daya saing di pasar digital.

Sejumlah emiten teknologi di Bursa Efek Indonesia kini mulai menempatkan beberapa sektor sebagai mesin pertumbuhan baru. Lini bisnis seperti financial technology (fintech), gaming, hingga pengembangan ekosistem omnichannel menjadi fokus utama dalam upaya memperkuat kinerja perusahaan di tengah perubahan strategi menuju profitabilitas.

Strategi Baru Emiten Teknologi

Emiten teknologi mulai mengandalkan lini bisnis baru sebagai mesin pertumbuhan di tengah pergeseran strategi menuju profitabilitas. Fintech, gaming, hingga penguatan ekosistem omnichannel menjadi tumpuan utama GOTO, BUKA, dan BELI untuk menjaga kinerja.

Perubahan arah strategi ini mencerminkan bagaimana perusahaan teknologi beradaptasi dengan dinamika industri digital yang terus berkembang. Fokus pada lini bisnis yang memiliki potensi monetisasi lebih jelas menjadi salah satu pendekatan yang kini ditempuh oleh berbagai perusahaan teknologi.

Dengan mengembangkan berbagai lini bisnis baru, emiten teknologi berharap dapat menciptakan sumber pendapatan yang lebih beragam sekaligus meningkatkan efisiensi operasional perusahaan.

Penguatan Lini Fintech GoTo

Emiten teknologi PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk. (GOTO) misalnya terus memperkuat lini bisnis financial technology (fintech) sebagai pendorong utama pertumbuhan ke depan.

Dalam laporan keuangannya, GOTO mencatatkan pendapatan bersih sebesar Rp18,32 triliun, naik 15,27% secara tahunan dari tahun 2024 sebesar Rp15,89 triliun.

Kinerja tersebut turut mendorong penyusutan rugi bersih menjadi Rp1,18 triliun, turun 77% secara tahunan dari Rp5,15 triliun.

Hans Patuwo, Direktur Utama Grup GoTo, mengatakan GOTO mencatatkan kinerja yang kuat di kuartal IV/2025 dan selama tahun 2025, dengan GTV inti meningkat 49% secara tahunan dan EBITDA yang disesuaikan, mencapai Rp2 triliun, melampaui pedoman yang telah ditetapkan perseroan.

“Seiring berlanjutnya momentum ini, kami menetapkan pedoman EBITDA yang disesuaikan untuk 2026 di kisaran Rp3,2–Rp3,4 triliun,” ujar Hans belum lama ini.

Dia melanjutkan pertumbuhan laba diperkirakan akan terus berlanjut di seluruh lini bisnis Financial Technology dan On-Demand Services sepanjang 2026.

Untuk unit usaha On-Demand Services, GOTO memperkirakan pertumbuhan pendapatan yang lebih kuat pada paruh kedua tahun ini seiring peningkatan kemampuan GOTO dalam melayani segmen mass market dengan lebih baik.

“Untuk mewujudkannya, kami akan tetap fokus memberikan solusi nyata sesuai kebutuhan konsumen, baik di segmen a?uent maupun mass market, sembari terus berinvestasi pada kapabilitas utama yang memungkinkan kami menghadirkan solusi tersebut,” ucapnya.

Direktur Keuangan Grup GoTo Simon Ho menuturkan kinerja perseroan mencerminkan keberhasilan yang terus berlanjut dalam upaya mencetak pertumbuhan pendapatan (top-line) dan meningkatkan profitabilitas (bottom-line).

“Kami kembali mencetak rekor EBITDA Grup yang disesuaikan, ditopang oleh peningkatan pendapatan bersih, disiplin biaya, dan operating leverage yang positif,” ujarnya.

Di sisi lain, GOTO juga melihat potensi besar dari pengembangan GoPay sebagai bagian dari strategi memperluas ekosistem fintech.

Lini ini dinilai mulai menunjukkan leverage operasional seiring peningkatan jumlah pengguna dan transaksi.

Bisnis Gaming Jadi Andalan Bukalapak

Sementara itu, PT Bukalapak.com Tbk. (BUKA) mengandalkan bisnis gaming sebagai sumber pertumbuhan baru setelah melakukan pivot dari model marketplace yang kompetitif.

Sepanjang 2025, segmen gaming yang mencakup platform seperti Itemku dan Lapakgaming menjadi kontributor terbesar, dengan pendapatan mencapai Rp1,5 triliun pada kuartal IV/2025.

Strategi tersebut menunjukkan bagaimana perusahaan teknologi mencoba menemukan model bisnis yang lebih berkelanjutan di tengah kompetisi yang semakin intens di sektor marketplace.

Dengan fokus pada segmen gaming, Bukalapak memanfaatkan potensi pasar digital yang terus berkembang, terutama dari kalangan pengguna muda dan komunitas gamer.

Direktur Bukalapak Victor Putra Lesmana dalam keterangan resminya mengatakan BUKA kini memprioritaskan kesehatan bisnis jangka panjang.

"Tahun 2025 adalah momen penting bagi kami untuk memperkuat fondasi perusahaan dengan berfokus pada strategi yang dapat memberikan nilai jangka panjang kepada stakeholders kami" kata Victor.

Penguatan Ekosistem Dan Fleksibilitas Bisnis

Dengan dukungan cadangan kas dan investasi likuid sebesar Rp17,8 triliun, BUKA dinilai memiliki fleksibilitas untuk mengembangkan lini bisnis baru sekaligus menangkap peluang pasar.

Ketersediaan dana yang cukup memberikan ruang bagi perusahaan untuk melakukan berbagai inovasi serta memperluas layanan digital yang dimiliki. Strategi diversifikasi lini bisnis ini menjadi salah satu langkah penting bagi emiten teknologi dalam menjaga pertumbuhan di tengah perubahan kondisi pasar.

Selain memperkuat kinerja keuangan, pengembangan ekosistem digital yang lebih luas juga diharapkan dapat meningkatkan loyalitas pengguna dan memperluas basis pelanggan.

Dengan mengandalkan fintech, gaming, serta penguatan ekosistem omnichannel, emiten teknologi berupaya menciptakan sumber pertumbuhan baru yang lebih berkelanjutan.

Langkah tersebut sekaligus mencerminkan transformasi strategi perusahaan teknologi dari sekadar mengejar pertumbuhan pengguna menuju model bisnis yang lebih fokus pada profitabilitas jangka panjang.

Terkini