Bapanas Awasi Importir Dan Distributor Kedelai Demi Stabilitas Harga

Jumat, 10 April 2026 | 14:57:51 WIB
Bapanas Awasi Importir Dan Distributor Kedelai Demi Stabilitas Harga

JAKARTA - Stabilitas harga kedelai menjadi perhatian serius pemerintah karena komoditas ini memiliki peran penting dalam rantai pangan nasional. 

Kedelai merupakan bahan baku utama pembuatan tahu dan tempe yang dikonsumsi secara luas oleh masyarakat Indonesia. Ketika harga kedelai berfluktuasi atau melampaui batas kewajaran, dampaknya dapat langsung dirasakan oleh para perajin hingga konsumen.

Untuk menjaga keseimbangan harga dan pasokan, pemerintah melalui Badan Pangan Nasional memperketat pengawasan terhadap importir dan distributor kedelai. 

Pengawasan ini bertujuan memastikan harga jual kedelai tetap berada dalam koridor Harga Acuan Penjualan (HAP) yang telah ditetapkan pemerintah. Langkah tersebut juga menjadi bagian dari upaya menjaga keberlanjutan usaha perajin tahu dan tempe yang sangat bergantung pada ketersediaan kedelai.

Selain menjaga stabilitas harga di tingkat distribusi, pemerintah juga terus memantau perkembangan harga kedelai di berbagai wilayah Indonesia. Dengan pemantauan yang intensif, diharapkan potensi kenaikan harga yang tidak wajar dapat segera diantisipasi sehingga tidak mengganggu aktivitas produksi maupun daya beli masyarakat.

Pengawasan Ketat Terhadap Importir Dan Distributor

Badan Pangan Nasional (Bapanas) memastikan pengawasan ketat terhadap importir dan distributor kedelai agar harga jual sesuai Harga Acuan Penjualan (HAP) guna menjaga stabilitas pasokan serta melindungi konsumen nasional.

"Sebagai penegasan, pemerintah tidak segan-segan menindak importir dan distributor kedelai apabila ditemukan kedelai dengan harga yang tak wajar," kata Deputi Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas I Gusti Ketut Astawa dikonfirmasi di Jakarta, Jumat.

Bapanas menegaskan harga kedelai yang bersumber dari importasi terpantau masih dalam koridor HAP sesuai ketentuan pemerintah.

Ketut mengaku telah melakukan rapat koordinasi dengan Gabungan Koperasi Produsen Tempe Tahu Indonesia (GAKOPTINDO), yang mana kedelai masih dalam rentang harga yang wajar.

"Saya sudah rapat dengan GAKOPTINDO, harganya di kisaran antara Rp10.500 sampai Rp11.000. Sementara HAP di tingkat konsumen yang dalam hal ini adalah perajin tahu dan tempe ditetapkan maksimal Rp12.000. Artinya harga masih sesuai dan wajar," tutur Ketut.

Harga Kedelai Masih Dalam Batas Wajar

Lebih lanjut Ketut menuturkan akan ada tindakan tegas tatkala ditemukan ada praktik importir dan distributor kedelai yang mematok harga yang terlalu tinggi. Untuk saat ini, ia pastikan kondisi harga kedelai impor masih cukup baik bagi perajin tahu dan tempe.

"Yang paling penting, importir tidak boleh menaikkan, distributor tidak boleh pasang harga tinggi. Kalau ada yang tinggi, kita akan tegakkan aturan, kita akan mencubit mereka. Perlu diketahui pula, kedelai itu lebih dari 95 persen digunakan oleh perajin tahu tempe," ucap Ketut.

Dalam data GAKOPTINDO yang diolah Bapanas per 8 April, lanjut Ketut, rata-rata harga kedelai di Jakarta berada di angka Rp10.500 sampai Rp11.000 per kilogram (kg).

Sementara rata-rata harga kedelai di regional Jawa berada di angka Rp10.555 per kg, Bali dan Nusa Tenggara Barat Rp10.550 per kg, Sumatera Rp11.450 per kg, Sulawesi Rp11.113 per kg, dan Kalimantan Rp10.908 per kg.

Pemantauan harga di berbagai wilayah tersebut menunjukkan bahwa distribusi kedelai masih berjalan relatif stabil. Meski terdapat perbedaan harga antar wilayah, kisaran harga tersebut masih berada dalam batas yang ditetapkan pemerintah.

Penetapan Harga Acuan Penjualan Kedelai

Diketahui, pemerintah telah menetapkan HAP kedelai di tingkat konsumen atau perajin tahu dan tempe. Dalam Peraturan Badan Pangan Nasional Nomor 12 Tahun 2024, HAP kedelai lokal maksimal di Rp11.400 per kg. Sementara HAP kedelai impor maksimal di Rp12.000 per kg.

"Ini jadi segmen pengawasan pemerintah selain harga di pasar-pasar. Sepanjang perajin tahu tempe nyaman, menandakan harga dari importir dan distributor sudah baik," ucap Ketut.

"Tapi jika ada yang bermain-main harga, kita akan tindak karena sangat tidak boleh, karena kita ingin mendapatkan kestabilan harga kedelai," tambah Ketut.

Penetapan harga acuan ini menjadi instrumen penting bagi pemerintah untuk menjaga keseimbangan pasar. Dengan adanya batas harga yang jelas, pelaku usaha diharapkan tidak menaikkan harga secara berlebihan yang dapat merugikan konsumen maupun perajin tahu tempe.

Pemerintah Perketat Pengawasan Harga Pangan

Terpisah, Kepala Bapanas sekaligus Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan pemerintah memperketat pengawasan harga pangan di tengah potensi dampak El Nino serta konflik geopolitik. Hal tersebut dilakukan untuk menjaga stabilitas harga, khususnya komoditas strategis termasuk kedelai.

“Nanti kami kumpulkan para importir. Jangan menaikkan harga terlalu tinggi,” kata Amran.

Ia juga meminta para importir kedelai untuk mengedepankan empati terhadap masyarakat dengan turut menjaga stabilitas harga pangan. Terlebih kedelai menjadi bahan baku tempe dan tahu yang banyak diminati masyarakat Indonesia.

Dengan langkah pengawasan yang diperketat, pemerintah berharap rantai pasok kedelai tetap berjalan stabil. Hal ini penting agar produksi tahu dan tempe yang menjadi sumber protein masyarakat dapat terus berlangsung tanpa terganggu oleh lonjakan harga bahan baku.

Terkini