JAKARTA - Kinerja solid yang dibukukan PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN) sepanjang 2025 menjadi fondasi kuat bagi prospek perseroan pada 2026.
Emiten unggas ini tidak hanya mencatat pertumbuhan penjualan, tetapi juga lonjakan laba bersih yang jauh lebih tinggi. Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa CPIN mampu menjaga performa di tengah dinamika industri pakan ternak dan perunggasan yang masih dibayangi tantangan biaya bahan baku, fluktuasi kurs, hingga daya beli masyarakat.
Di tengah ketidakpastian ekonomi global dan tekanan terhadap sektor konsumsi, CPIN justru menunjukkan daya tahan bisnis yang kuat. Pertumbuhan penjualan yang stabil, diiringi ekspansi margin dan efisiensi operasional, membuat laba perseroan melesat signifikan.
Sejumlah analis pun melihat prospek CPIN pada 2026 masih cukup terjaga, terutama karena adanya dukungan dari permintaan musiman, pertumbuhan segmen hilir, serta efek lanjutan program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang mulai terasa terhadap permintaan protein hewani.
Berdasarkan laporan keuangan per 31 Desember 2025, penjualan neto CPIN naik 4,78% secara tahunan (year on year/yoy) menjadi Rp 70,70 triliun, dari Rp 67,47 triliun pada 2024.
Sejalan dengan kenaikan pendapatan, laba tahun berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk atau laba bersih CPIN juga melesat. Perusahaan membukukan laba bersih sebesar Rp 5,64 triliun pada 2025, tumbuh sekitar 52% yoy dibandingkan Rp 3,71 triliun pada tahun sebelumnya.
Kinerja Keuangan CPIN Melonjak Sepanjang 2025
Kinerja CPIN sepanjang 2025 mencerminkan perbaikan yang cukup kuat, baik dari sisi pendapatan maupun profitabilitas. Selain penjualan neto yang naik menjadi Rp 70,70 triliun, perusahaan juga mencatat peningkatan laba bruto menjadi Rp 12,42 triliun pada 2025, dari Rp 10,42 triliun pada 2024. Kenaikan ini turut mencerminkan perbaikan marjin laba bruto perseroan.
Tak hanya itu, laba usaha CPIN juga meningkat menjadi Rp 8,13 triliun, dari Rp 5,99 triliun pada tahun sebelumnya. Kenaikan laba usaha menunjukkan bahwa perusahaan mampu menjaga efisiensi di tengah kenaikan beban pokok penjualan yang tercatat sebesar Rp 58,28 triliun pada 2025, naik dibandingkan Rp 57,06 triliun pada 2024.
Meski beban pokok penjualan meningkat, pertumbuhan penjualan yang tetap terjaga mampu menopang peningkatan laba perusahaan. Hal ini menjadi sinyal bahwa CPIN berhasil mengelola tekanan biaya dengan cukup baik, sehingga kinerja bottom line tetap tumbuh jauh lebih tinggi.
Adapun laba sebelum pajak penghasilan CPIN juga naik signifikan menjadi Rp 7,71 triliun pada 2025, dari Rp 5,26 triliun pada 2024. Kinerja positif tersebut turut tercermin dari laba per saham dasar yang meningkat menjadi Rp 344 per saham, dari sebelumnya Rp 226 per saham.
Secara keseluruhan, hasil ini memperlihatkan fondasi fundamental CPIN yang masih solid untuk menopang prospek ke depan.
Margin Dan Efisiensi Jadi Penopang Utama Laba
Analis Fundamental BRI Danareksa Sekuritas, Abida Massi Armand, menilai lonjakan laba bersih CPIN pada 2025 lebih banyak ditopang oleh ekspansi margin ketimbang pertumbuhan volume penjualan. Artinya, kenaikan laba yang signifikan bukan semata karena penjualan yang lebih besar, tetapi juga karena kualitas profitabilitas yang membaik.
Menurutnya, segmen pakan ternak menjadi penopang utama kinerja perusahaan, dengan pertumbuhan sekitar 27,6% yoy menjadi Rp 21 triliun. Kinerja ini didukung oleh penurunan harga bahan baku seperti jagung dan soybean meal (SBM) sebelum meningkatnya tensi konflik di Timur Tengah.
“Efisiensi biaya keuangan dan penurunan beban pajak juga turut mengangkat bottom line, sehingga pertumbuhan laba bersih jauh melampaui pertumbuhan top line yang sebesar 4,78% yoy,” ujar Abida.
Ia menambahkan, program Makan Bergizi Gratis (MBG) dari pemerintah juga mulai memberikan kontribusi terhadap peningkatan permintaan broiler, khususnya pada semester II-2025. Hal ini menjadi katalis tambahan yang memperkuat permintaan di sektor perunggasan.
Disamping itu, Head of Research KISI Sekuritas, Muhammad Wafi, melihat perbaikan kinerja CPIN turut ditopang oleh efisiensi biaya bahan baku pakan, stabilnya harga broiler dan day old chick (DOC) berkat program culling pemerintah, serta margin yang tetap solid pada segmen makanan olahan.
Kombinasi faktor-faktor tersebut membuat CPIN mampu mempertahankan pertumbuhan yang sehat di tengah kondisi pasar yang tidak selalu mudah.
Prospek 2026 Masih Menjanjikan Meski Ada Tantangan
Untuk tahun 2026, prospek CPIN dinilai masih cukup menjanjikan, meskipun tetap dibayangi sejumlah tantangan eksternal. Wafi mengatakan, kinerja CPIN pada tahun ini berpotensi ditopang oleh permintaan musiman dan pertumbuhan berkelanjutan pada segmen hilir.
Namun, ia mengingatkan adanya beberapa faktor yang bisa menjadi pemberat, terutama dari sisi makroekonomi. Risiko utama datang dari pelemahan nilai tukar rupiah yang dapat meningkatkan biaya impor bahan baku pakan, terutama bungkil kedelai.
“Pemberat kinerja ialah depresiasi rupiah yang mengerek beban impor bahan baku pakan, terutama bungkil kedelai, serta tekanan inflasi terhadap daya beli masyarakat,” ujar Wafi.
Pernyataan ini menegaskan bahwa meskipun prospek CPIN masih positif, perusahaan tetap harus mewaspadai faktor eksternal yang bisa menekan margin. Ketergantungan pada bahan baku impor membuat fluktuasi kurs menjadi salah satu risiko yang cukup sensitif bagi emiten poultry seperti CPIN.
Selain itu, tekanan inflasi juga dapat berdampak pada daya beli masyarakat, terutama segmen bawah. Jika konsumsi rumah tangga melemah, permintaan terhadap produk protein hewani bisa ikut terpengaruh, meski efeknya kemungkinan bertahap.
Rekomendasi Analis Tetap Positif Untuk Saham CPIN
Di sisi lain, Abida tetap melihat prospek CPIN secara keseluruhan masih positif. Ia memperkirakan pertumbuhan laba perusahaan masih dapat terjaga, didukung oleh sejumlah katalis struktural.
Salah satu faktor utama adalah keberlanjutan program MBG yang dinilai akan memperbesar permintaan protein hewani secara bertahap dan berkelanjutan.
Selain itu, kontrol pasokan grand parent stock (GPS) juga dinilai mampu menjaga harga broiler tetap berada pada level yang suportif. Dengan keseimbangan pasokan yang lebih terjaga, CPIN berpeluang mempertahankan profitabilitas di tengah dinamika industri.
Meski demikian, Abida menggarisbawahi sejumlah risiko yang patut dicermati, mulai dari volatilitas harga jagung dan bungkil kedelai akibat tensi geopolitik, pelemahan rupiah yang dapat meningkatkan biaya impor bahan baku, hingga pemulihan daya beli masyarakat segmen bawah yang belum sepenuhnya merata.
Dari sisi pergerakan saham, CPIN saat ini berada di kisaran Rp 4.400 per saham, atau terkoreksi sekitar 1% secara year to date (YTD). Kondisi ini dinilai membuka ruang akumulasi bagi investor, seiring fundamental perseroan yang tetap solid. Abida merekomendasikan buy untuk saham CPIN dengan target harga Rp 5.900 per saham.
Ia menempatkan CPIN sebagai top pick di sektor poultry, didukung oleh dominasi pasar pakan ternak yang diperkirakan melebihi 35%, katalis struktural dari program MBG, serta valuasi yang masih menarik.
Sementara itu, Wafi menilai pergerakan saham CPIN saat ini masih cenderung konsolidatif. Meski demikian, ia tetap melihat saham ini menarik untuk dicermati dengan target harga Rp 5.500 per saham.