JAKARTA - Industri energi nasional terus bergerak menyesuaikan diri dengan kebutuhan pasokan listrik yang stabil bagi sektor industri strategis.
Salah satu langkah yang ditempuh adalah pembangunan pembangkit listrik yang terintegrasi dengan kawasan industri pengolahan mineral. Model pengembangan ini dinilai mampu memberikan kepastian pasokan energi sekaligus mendukung hilirisasi sumber daya alam di dalam negeri.
Dalam beberapa tahun terakhir, pembangunan smelter mineral menjadi salah satu agenda penting pemerintah untuk meningkatkan nilai tambah komoditas tambang. Namun, keberhasilan proyek smelter sangat bergantung pada ketersediaan pasokan listrik yang stabil dalam kapasitas besar dan berkelanjutan.
Karena itu, sejumlah perusahaan tambang mulai menyiapkan proyek pembangkit listrik yang dapat memasok energi langsung ke kawasan industri pengolahan mineral. Strategi tersebut juga sekaligus menjadi upaya menjaga keberlanjutan pasar komoditas energi seperti batu bara.
Langkah serupa juga tengah dipersiapkan oleh PT Bukit Asam Tbk. Perusahaan tambang batu bara milik negara ini sedang menyiapkan proyek pembangkit listrik yang akan menjadi pemasok energi bagi industri pengolahan aluminium di Kalimantan Barat.
Proyek tersebut masih berada pada tahap penjajakan kemitraan dengan sejumlah calon mitra internasional. Perseroan menargetkan pembangunan fisik pembangkit listrik dapat dimulai dalam beberapa tahun mendatang setelah proses kerja sama dan pembiayaan rampung.
Proyek PLTU Mempawah Masih Dalam Tahap Pencarian Mitra
PT Bukit Asam Tbk. (PTBA) masih dalam tahap memilih mitra untuk menggarap proyek Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) di Mempawah, Kalimantan Barat yang ditargetkan mulai pengerjaan fisik pada 2027.
Direktur Hilirisasi dan Diversifikasi Produk PTBA, Turino Yulianto, mengungkapkan bahwa proyek tersebut ditargetkan mulai memasuki tahap konstruksi fisik pada awal 2027. PLTU ini akan berperan sebagai pemasok energi utama bagi smelter aluminium yang digarap oleh PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum).
Saat ini, perseroan tengah menjajaki kemitraan strategis dengan sejumlah calon mitra dari China, Korea Selatan, hingga Jepang, baik untuk teknologi maupun pendanaan.
"Kami masih dalam proses mencari mitra untuk proyek ini. Awal 2027 sudah mulai pembangunan fisik,” ujarnya, Senin (6/4/2026).
Langkah mencari mitra internasional tersebut dilakukan untuk memastikan proyek dapat berjalan dengan dukungan teknologi yang memadai sekaligus skema pembiayaan yang kuat.
Dukungan Energi Untuk Operasional Smelter Aluminium
PLTU Mempawah tersebut menjadi bagian dari upaya perseroan mengunci pasar batu bara dalam jangka panjang. PLTU berkapasitas 1,25 gigawatt (GW) tersebut dirancang untuk mendukung operasional smelter aluminium Inalum dengan kapasitas produksi mencapai 600.000 ton per tahun.
Dengan adanya proyek ini, PTBA juga memastikan penyerapan batu bara berkalori rendah secara berkelanjutan.
"Kebutuhan batu bara diperkirakan mencapai sekitar 6,9 juta ton per tahun dan akan kami amankan selama 30 tahun,” imbuhnya.
Kehadiran pembangkit listrik ini menjadi komponen penting dalam ekosistem industri aluminium karena proses peleburan logam membutuhkan energi listrik dalam jumlah besar.
Dengan pasokan listrik yang stabil, operasional smelter diharapkan dapat berjalan optimal sekaligus mendukung pengembangan industri hilir aluminium di Indonesia.
Pertimbangan Keuangan Dalam Pengembangan Proyek
Sementara itu, Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko PTBA, Una Lindasari, menegaskan bahwa ekspansi proyek strategis ini akan berdampak pada kebijakan keuangan perseroan, termasuk pembagian dividen.
“Kami harus menyeimbangkan antara kebutuhan investasi dan dividen. Tahun ini ada beberapa proyek yang mulai berjalan, terutama pembangunan pembangkit listrik di Mempawah, sehingga kondisi arus kas menjadi pertimbangan utama,” jelasnya.
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa perusahaan tetap berhati-hati dalam mengelola keuangan di tengah kebutuhan investasi yang cukup besar.
Proyek pembangunan pembangkit listrik memerlukan dana yang signifikan, sehingga perusahaan perlu memastikan keseimbangan antara ekspansi bisnis dan stabilitas keuangan.
Dengan perencanaan yang matang, proyek ini diharapkan dapat berjalan tanpa mengganggu kesehatan finansial perusahaan.
Kinerja Keuangan Dan Operasional Perseroan
Di sisi kinerja keuangan, PTBA membukukan laba bersih sebesar Rp2,93 triliun pada 2025, turun 42,6% dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai Rp5,1 triliun. Penurunan ini terjadi di tengah melemahnya harga batu bara global.
Perseroan mencatat EBITDA sebesar Rp6,08 triliun dengan margin 14% sepanjang 2025. Meski laba tertekan, PTBA mencatat perbaikan profitabilitas secara kuartalan yang didorong oleh optimalisasi portofolio ekspor serta efisiensi biaya.
Dari sisi operasional, kinerja perusahaan tetap solid. Produksi batu bara tumbuh 9% secara tahunan, diikuti peningkatan penjualan sebesar 6%.
Namun demikian, harga jual rata-rata (average selling price/ASP) turun 6% secara tahunan seiring penurunan harga batu bara acuan global. Tercatat, Newcastle Coal Index melemah hingga 22%, sementara Indonesia Coal Index 3 turun 16%.
Direktur Utama PTBA Arsal Ismail mengatakan sepanjang 2025 perseroan membukukan pendapatan sebesar Rp42,65 triliun, naik 6% dibandingkan tahun sebelumnya.
Namun, beban pokok pendapatan juga meningkat 5% menjadi Rp36,39 triliun, seiring dengan kenaikan volume operasional.
Meski demikian, efisiensi tetap terlihat dari penurunan stripping ratio menjadi 6,07 kali dari sebelumnya 6,23 kali. Selain itu, volume angkutan batu bara juga meningkat 6% dari 38,2 juta ton menjadi 40,4 juta ton.
Dengan kinerja tersebut, PTBA tetap akan menjaga ketahanan energi nasional, terutama melalui pasokan ke pasar domestik yang mencapai lebih dari separuh total penjualan.
"Ke depan, perseroan juga akan mengkombinasikan strategi efisiensi biaya dengan ekspansi pasar global guna menjaga kinerja di tengah volatilitas harga komoditas," tuturnya.