JAKARTA - Pengembangan ekosistem haji dan umrah menjadi salah satu langkah strategis dalam mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.
Sinergi antara berbagai pihak terus diperkuat untuk memastikan layanan yang lebih baik bagi jamaah. Selain itu, kolaborasi ini juga membuka peluang besar bagi peningkatan aktivitas ekonomi di dalam negeri.
Kementerian/Lembaga, Badan Usaha Milik Negara (BUMN), dan para pemangku kepentingan memperkuat sinergi dalam mendorong ekosistem ekonomi haji dan umrah yang terintegrasi, salah satunya melalui optimalisasi sektor logistik. Langkah ini menjadi bagian dari strategi untuk meningkatkan daya saing nasional. Dengan dukungan berbagai pihak, penguatan ekosistem ini diharapkan berjalan optimal.
Peran Strategis Logistik dalam Ekonomi
Langkah strategis ini tidak hanya bertujuan meningkatkan kualitas layanan bagi jamaah haji dan umrah, tetapi juga mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.
Hal tersebut disampaikan Deputi Bidang Koordinasi Pengelolaan dan Pengembangan Usaha BUMN Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Ferry Irawan dalam acara pelepasan ekspor logistik haji. Pernyataan ini menegaskan pentingnya sektor logistik dalam mendukung berbagai aktivitas ekonomi.
Indonesia merupakan negara dengan jumlah jamaah haji terbesar di dunia, yakni lebih dari dua ratus ribu jamaah haji per tahun serta sekitar dua juta jamaah umrah per tahun.
Potensi tersebut mencakup berbagai layanan seperti perhotelan, transportasi, logistik, konsumsi, dan layanan pendukung lainnya. Besarnya jumlah jamaah menjadi peluang besar bagi pengembangan ekonomi nasional.
Dengan penguatan ekosistem ini, Indonesia diharapkan mampu mengambil posisi strategis dalam rantai nilai ekonomi tersebut sekaligus memastikan perputaran uang juga terjadi di dalam negeri. Hal ini penting untuk meningkatkan manfaat ekonomi bagi masyarakat. Dengan demikian, peluang yang ada dapat dimanfaatkan secara maksimal.
Sinergi BUMN dan Pengiriman Logistik
“Momentum sinergi Kementerian/Lembaga dan BUMN dalam pengiriman logistik haji yang dimulai tahun 2026 ini baru step awal, ke depan akan lebih dioptimalkan untuk beberapa potensi kolaborasi lainnya seperti pengiriman oleh-oleh haji dan umrah serta pengiriman makanan untuk kebutuhan jamaah umrah sepanjang tahun yang tentunya akan berdampak langsung dalam menahan pelebaran defisit neraca jasa nasional dan pertumbuhan ekonomi,” ujar Deputi Ferry. Pernyataan ini menegaskan bahwa kolaborasi ini masih akan terus berkembang.
Sejalan dengan hal tersebut, Pemerintah mendorong penggunaan produk nasional yang bercita rasa nusantara untuk jamaah haji Indonesia melalui pengiriman bumbu pasta dan makanan ready to eat (RTE) yang diproduksi di Indonesia. Upaya ini menjadi bagian dari strategi meningkatkan penggunaan produk dalam negeri. Dengan demikian, industri lokal dapat berkembang lebih pesat.
Untuk mendukung proses pengiriman ini, Pemerintah mendorong sinergi BUMN antara PT Garuda Indonesia dan PT Pos Indonesia untuk berkolaborasi memberikan dukungan logistik haji dengan biaya logistik yang efisien dan kompetitif. Kolaborasi ini menunjukkan pentingnya kerja sama antarperusahaan negara. Dengan efisiensi biaya, layanan dapat diberikan secara lebih optimal.
Inisiasi perdana pengiriman pada tahap pertama ini akan mengirimkan sebanyak 100 ton bumbu pasta dan makanan RTE. Pengiriman dilakukan secara bertahap mulai hari ini hingga beberapa hari ke depan. Tahap berikutnya sebanyak 130 ton sedang dijadwalkan dalam periode selanjutnya.
Dampak terhadap Neraca Jasa Nasional
Data Neraca Pembayaran Indonesia mencatat defisit neraca jasa tahun 2025 mencapai USD19,8 miliar, dengan jasa transportasi sebagai kontributor terbesar. Kondisi ini menjadi perhatian dalam upaya memperbaiki keseimbangan ekonomi. Oleh karena itu, optimalisasi sektor logistik menjadi langkah penting.
Sebagian dari defisit jasa transportasi tersebut bersumber dari pengeluaran jamaah yang memanfaatkan berbagai layanan logistik dan konsumsi dari penyedia asing. Hal ini menunjukkan adanya peluang untuk meningkatkan peran penyedia nasional. Dengan memperkuat layanan dalam negeri, devisa dapat dihemat.
Semakin besar porsi layanan logistik, konsumsi, dan transportasi haji yang dapat dipenuhi oleh penyedia nasional, semakin besar pula potensi penghematan devisa yang dapat diraih. Upaya ini menjadi bagian dari strategi jangka panjang. Dengan demikian, ekonomi nasional dapat menjadi lebih kuat.
Harapan Kolaborasi dan Nilai Tambah Ekonomi
Lebih lanjut, Direktur Jenderal Pengembangan Ekosistem Ekonomi Haji dan Umrah Jaenal Effendi juga menyampaikan bahwa sudah saatnya Kementerian/Lembaga dan BUMN bersanding dan berkolaborasi untuk mendukung terwujudnya ekosistem haji dan umrah yang manfaatnya tidak hanya dirasakan oleh jamaah.
Tetapi juga masyarakat Indonesia melalui multiplier effect dalam rantai nilai ekonomi yang terintegrasi. Pernyataan ini menegaskan pentingnya kolaborasi lintas sektor.
Penguatan ekosistem logistik haji melalui sinergi Kementerian/Lembaga, BUMN, dan stakeholder lainnya diharapkan juga dapat berlanjut tidak hanya mendukung pelaksanaan haji namun juga pelaksanaan umrah untuk berbagai kebutuhan, baik layanan katering, transportasi, perdagangan, dan layanan pendukung lainnya.
Hal ini menunjukkan luasnya potensi pengembangan ekonomi. Dengan kolaborasi yang berkelanjutan, manfaat dapat dirasakan lebih luas.
“Kami menindaklanjuti pertemuan antara Pak Menko dengan Pak Wamen Haji agar kita bisa sama-sama melakukan penguatan ekosistem haji untuk bisa lebih memberikan nilai tambah terhadap perekonomian nasional, dan mulai saat ini ketika bicara haji dan umrah kita tidak hanya bicara aspek ritualnya saja,” pungkas Staf Ahli Bidang Pembangunan Daerah Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Haryo Limanseto.
Pernyataan ini menjadi penegasan arah kebijakan ke depan. Dengan pendekatan tersebut, sektor ini diharapkan mampu memberikan kontribusi yang lebih besar bagi ekonomi nasional.