Pertumbuhan Multifinance Bergantung Pemulihan Penjualan Kendaraan Nasional

Sabtu, 07 Februari 2026 | 11:45:21 WIB
Pertumbuhan Multifinance Bergantung Pemulihan Penjualan Kendaraan Nasional

JAKARTA - Dinamika industri pembiayaan pada 2026 diperkirakan tidak bisa dilepaskan dari pergerakan sektor otomotif yang selama ini menjadi tulang punggung utama penyaluran kredit kendaraan. 

Ketika penjualan kendaraan meningkat, kebutuhan pembiayaan biasanya ikut terdorong. 

Sebaliknya, saat pasar otomotif melambat, industri multifinance juga cenderung menahan ekspansi. Keterkaitan inilah yang menjadi sorotan pelaku industri dalam membaca prospek pertumbuhan tahun mendatang.

PT Adira Dinamika Multi Finance Tbk (Adira Finance) memandang arah pertumbuhan piutang pembiayaan industri multifinance pada 2026 akan sangat dipengaruhi oleh pemulihan permintaan kendaraan bermotor. 

Chief Financial Officer Adira Finance, Sylvanus Gani, menilai sektor otomotif masih menjadi penopang utama sehingga pergerakannya menentukan ruang ekspansi perusahaan pembiayaan.

"Oleh karena itu, Adira Finance menilai proyeksi pertumbuhan piutang pembiayaan pada 2026 akan bergantung pada pemulihan permintaan kendaraan bermotor," ungkapnya.

Ketergantungan Multifinance pada Siklus Industri Otomotif

Selama bertahun-tahun, pembiayaan kendaraan menjadi kontributor terbesar dalam portofolio multifinance. Karena itu, perubahan kecil pada tingkat penjualan mobil dan sepeda motor dapat berdampak langsung terhadap kinerja industri. 

Adira Finance menilai pemantauan terhadap perkembangan pasar otomotif menjadi langkah penting untuk menentukan strategi bisnis sepanjang 2026.

Gani berharap adanya perbaikan sentimen ekonomi yang mampu mendorong peningkatan penjualan kendaraan. Jika kondisi tersebut terwujud, efek berantai terhadap pertumbuhan pembiayaan diyakini akan muncul, memberikan dorongan positif bagi industri multifinance secara keseluruhan.

Tekanan Daya Beli dan Sikap Hati-Hati Industri

Di tengah sinyal perbaikan ekonomi nasional, daya beli masyarakat dinilai masih menghadapi tekanan. Kondisi ini tercermin dari sikap pelaku industri otomotif yang cenderung berhati-hati dalam menetapkan target penjualan. 

Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (GAIKINDO) maupun Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia (AISI) disebut mengambil pendekatan konservatif dalam menyusun proyeksi 2026.

Situasi tersebut menunjukkan bahwa pemulihan tidak berlangsung secara merata. Permintaan kendaraan belum sepenuhnya kembali kuat, sehingga perusahaan pembiayaan perlu menyesuaikan strategi agar tetap dapat tumbuh tanpa meningkatkan risiko secara berlebihan.

Peluang Diversifikasi di Tengah Perubahan Kebutuhan Konsumen

Menariknya, tekanan daya beli justru memunculkan kebutuhan baru di masyarakat, terutama terhadap pembiayaan berbasis dana tunai atau cash loan. Pergeseran kebutuhan ini membuka peluang bagi perusahaan multifinance untuk memperluas portofolio di luar pembiayaan kendaraan.

"Strategi itu juga dimanfaatkan oleh Adira Finance, tidak hanya untuk menjawab kebutuhan konsumen di berbagai siklus kehidupan, tetapi juga untuk mengurangi ketergantungan terhadap sektor otomotif," tuturnya.

Diversifikasi tersebut dipandang sebagai langkah penting untuk menjaga stabilitas pertumbuhan. Dengan tidak sepenuhnya bergantung pada otomotif, perusahaan memiliki ruang lebih fleksibel dalam menghadapi fluktuasi pasar.

Kinerja Perusahaan dan Prospek Industri ke Depan

Secara kinerja, Adira Finance mencatat penyaluran pembiayaan sebesar Rp43 triliun dengan total piutang pembiayaan mencapai Rp61 triliun pada akhir 2025. 

Tingkat Non Performing Financing (NPF) perusahaan berada di level 2% sepanjang tahun tersebut, lebih rendah dibandingkan rata-rata industri sebesar 2,51% per Desember 2025.

Di tingkat industri, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sebelumnya memproyeksikan piutang pembiayaan multifinance dapat tumbuh 6%–8% secara tahunan pada 2026. Kepala Eksekutif Pengawas PVML OJK Agusman optimistis target tersebut dapat dicapai, terutama karena adanya berbagai penyesuaian regulasi yang memberi kemudahan akses pembiayaan.

"Kami sudah memberikan beberapa paket regulasi kemarin, dengan Peraturan OJK (POJK) yang baru, seperti uang muka atau Down Payment 0% untuk pembelian kendaraan bermotor. Jadi, kami bikin lebih gampang dan mudah diakses masyarakat. Selain itu, ada juga untuk UMKM dan lainnya," ujarnya.

Kombinasi antara dukungan regulasi, peluang diversifikasi, serta potensi pemulihan otomotif menjadi faktor penentu arah industri pada 2026. Meski tantangan daya beli masih membayangi, pelaku multifinance tetap memiliki ruang untuk bertumbuh melalui strategi yang lebih adaptif dan terukur.

Ke depan, keseimbangan antara ekspansi pembiayaan dan pengelolaan risiko akan menjadi kunci. Industri tidak hanya dituntut mengejar volume penyaluran, tetapi juga menjaga kualitas aset agar pertumbuhan yang terjadi benar-benar berkelanjutan. Dengan pendekatan tersebut, sektor multifinance berpeluang tetap solid meskipun menghadapi dinamika ekonomi dan perubahan perilaku konsumen.

Terkini