BMKG Imbau Masyarakat Waspada Cuaca Ekstrem Hujan Lebat di Sejumlah Wilayah

Jumat, 30 Januari 2026 | 09:33:11 WIB
BMKG Imbau Masyarakat Waspada Cuaca Ekstrem Hujan Lebat di Sejumlah Wilayah

JAKARTA - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika memperingatkan potensi cuaca ekstrem berupa hujan lebat hingga sangat lebat masih berpeluang terjadi di berbagai wilayah Indonesia. 

Dalam sepekan ke depan, faktor atmosfer berskala global, regional, dan lokal masih memengaruhi intensitas curah hujan. Peringatan ini penting agar masyarakat dapat mempersiapkan langkah antisipasi sejak dini.

BMKG menegaskan bahwa pemantauan curah hujan harus dilakukan secara rutin. Intensitas sistem cuaca dipengaruhi oleh kondisi atmosfer yang cukup dinamis. Kesiapsiagaan masyarakat menjadi kunci utama dalam mengurangi risiko bencana.

Selain itu, wilayah Indonesia bagian timur dan selatan berpotensi menerima hujan dengan intensitas lebih tinggi. Hal ini berkaitan dengan dinamika pola cuaca global. Kondisi tersebut memperkuat perlunya kewaspadaan di daerah-daerah rawan bencana hidrometeorologi.

Pengaruh Skala Global terhadap Curah Hujan

Pada skala global, fenomena El Niño–Southern Oscillation berada pada kategori Netral hingga La Niña lemah. Indeks ini signifikan terhadap peningkatan pola konvektif, terutama di wilayah timur Indonesia. La Niña lemah dikenal dapat meningkatkan curah hujan dan risiko banjir di beberapa kawasan.

Pengaruh global ini tidak berdiri sendiri, melainkan berinteraksi dengan faktor regional dan lokal. Kekuatan atmosfer global turut memperbesar peluang terbentuknya awan hujan di berbagai wilayah. Pemahaman fenomena ini penting bagi perencanaan mitigasi bencana dan kesiapsiagaan masyarakat.

BMKG menekankan bahwa fenomena global harus dipantau secara berkala. Variasi kecil dalam indeks cuaca global dapat memengaruhi pola hujan lokal. Oleh karena itu, masyarakat diminta tetap waspada terhadap potensi perubahan cuaca mendadak.

Dampak Aktivitas Monsun dan CENS

Secara regional, aktivitas monsun Asia diperkirakan masih cukup persisten hingga awal Februari. Monsun ini membawa aliran udara lembab dari utara ke selatan yang memperbesar peluang terbentuknya awan hujan. Wilayah barat dan selatan Indonesia menjadi area yang paling terdampak.

Fenomena Cross Equatorial Northerly Surge (CENS) juga masih aktif beberapa hari ke depan. Aliran massa udara dingin yang melintasi ekuator dapat membentuk konvergensi di wilayah selatan Indonesia. Kondisi ini meningkatkan risiko hujan lebat disertai angin kencang dan petir.

BMKG menekankan pentingnya pemantauan intensif di wilayah terdampak. Daerah tekanan rendah, seperti Teluk Carpentaria, dapat memicu perlambatan angin dan meningkatkan pertumbuhan awan konvektif. Langkah antisipasi di sektor transportasi, pertanian, dan pemukiman menjadi sangat krusial.

Fenomena Intra-Musiman dan Gelombang Tropis

Aktivitas sistem atmosfer skala intra-musiman juga memperkuat dinamika cuaca di Indonesia. Fenomena Madden Julian Oscillation.

Gelombang Rossby Ekuator, dan Gelombang Kelvin aktif di beberapa wilayah seperti Samudra Hindia barat Jawa, selatan Nusa Tenggara Timur, Lampung, Laut Sulu, Laut Arafura, dan Papua Selatan. Ketiganya memicu pertumbuhan awan konvektif yang dapat menurunkan hujan intensitas sedang hingga lebat.

Fenomena ini berperan penting dalam variasi curah hujan harian. Hujan lebat disertai petir dan angin kencang menjadi salah satu dampak langsung. BMKG menekankan bahwa masyarakat harus menyesuaikan aktivitas luar ruangan dengan kondisi cuaca.

Selain itu, pengaruh gelombang tropis dapat menimbulkan potensi genangan atau banjir lokal. Daerah rawan longsor di wilayah pegunungan juga perlu meningkatkan kewaspadaan. Informasi prakiraan cuaca secara rutin menjadi acuan utama dalam mitigasi mandiri.

Imbauan dan Mitigasi Masyarakat

BMKG mengimbau masyarakat untuk tetap waspada terhadap potensi bencana hidrometeorologi. Risiko genangan, banjir, banjir bandang, dan tanah longsor dapat meningkat akibat hujan lebat. Masyarakat diminta mempersiapkan langkah mitigasi mandiri demi keselamatan diri dan keluarga.

Pemantauan cuaca melalui kanal resmi menjadi kewajiban agar informasi terbaru mudah diakses. Persiapan seperti membersihkan saluran air, menyiapkan peralatan darurat, dan memantau kondisi lingkungan sangat dianjurkan. Hal ini menjadi strategi penting dalam menghadapi cuaca ekstrem.

Selain itu, koordinasi dengan tetangga dan aparat setempat dapat memperkuat kesiapsiagaan komunitas. Langkah-langkah sederhana namun tepat dapat mengurangi risiko kerugian akibat bencana hidrometeorologi. Dengan kesadaran dan tindakan preventif, masyarakat dapat menghadapi potensi cuaca ekstrem dengan lebih aman.

Terkini